@huhuhahihihiks@afrkml Aku sering banget pingsan.
Awalnya pandangan kabur, telinga berdenging, tbtb seperti sesak nafas , lalu pingsan tapi dengar dengan apa yg terjadi di sekeliling. Ingat juga setelah sadar dgn apa yg terjadi sebelumnya
@18fesss untuk punya ruang buat jadi diriku sendiri dulu kak. kalau ga pure jadi diri sendiri, paling ngga ada waktu 8 jam buat ga digelendotin anak :'
tapi di tempat kerja pikirannya pasti ke anak mulu, mana buru2 pulang biar cepet ketemu anak lagi hahah
Kalau lu cewek, serius deh, NGEGYM!
Ga harus ngegym deh, angkat beban di rumah jg boleh!
Justru cewek tuh malah yg paling butuh latihan beban drpd cowok. Ini beneran!
Dari sononya, perempuan punya massa otot & kepadatan tulang yg lebih rendah dari laki.
Masalahnya, seiring nambahnya usia, cwe tuh gampang banget kehilangan massa otot & kepadatan tulang.
Dan itu bisa progresif banget. Makanya perempuan tuh yg paling gede risiko kena osteoporosisnya!
“politik sih gak ngaruh apa-apa ke hidup gue”
sebenernya ngaruh tapi lo gak sadar. bakal jauh makin gampang kok liat dampaknya.
belom aja. tunggu aja. dikit lagi…
Gue heran deh kok masih aja ada orang yang bilang “Pertamax naik ga masalah, kan yang pake juga orang2 mampu”
Entah mereka buzzer atau emang tolol alami.
Yang jadi masalah itu EFEK DOMINO-nya, bukan cuma perkara harga naik 3ribu.
Ini efek domino yang akan terjadi dari kenaikan per hari ini:
1. Migrasi massal ke BBM lebih murah. Harga Pertamax naik → orang yang biasa pakai yang “premium” (kelas menengah atas) langsung switch ke Pertalite yang lebih murah. Hasilnya: permintaan Pertalite meledak. Padahal Pertalite kan kuotanya terbatas (subsidi), jadi stok di SPBU cepet habis.
2. Pertalite langka + antrean panjang. Antre Pertalite di SPBU jadi tambah rame. Yang gak mau antri berjam-jam atau gak kebagian akhirnya terpaksa isi Pertamax (yang lebih mahal).
3. Biaya logistik & transportasi naik Truk, angkot, ojek online, pengiriman barang semua naik ongkosnya (meski mereka pakai solar/ Pertalite, tapi efek rantai supply-nya ikut naik karena driver dan perusahaan logistik juga kena imbas). Akhirnya harga barang di pasar naik semua.
4. Inflasi & harga sembako naik Efek dari nomor 3: dari meja makan sampai warung kecil. Harga beras, sayur, mie instan, bahkan jasa ojek naik. UMKM yang paling kena getahnya. Modal produksi naik, daya beli masyarakat turun, penjualan melambat.
5. Black market & penyelundupan Pertalite yang langka sering muncul di pedagang eceran dengan harga lebih mahal (kadang sama mahalnya Pertamax). Subsidi yang seharusnya buat rakyat kecil malah bocor.
6. Beban subsidi pemerintah membengkak. Demand Pertalite naik drastis → pemerintah/Pertamina harus nambah pasokan subsidi. Kalau gak diatur, APBN makin tekor, bisa-bisa akhirnya Pertalite juga naik atau dibatasi lebih ketat (misalnya pakai MyPertamina, plat nomor ganjil-genap, dll).
7. Efek jangka panjang ke ekonomi & masyarakat
- Driver ojol & angkot kurangi shift → pendapatan turun.
- Petani & nelayan (yang pakai solar/Pertalite) ongkos produksi naik → harga pangan naik lagi.
- Inflasi umum naik → Bank Indonesia mungkin naikin suku bunga → pinjaman mahal → investasi melambat.
Intinya, yang tadinya “cuma naik buat orang berduit” malah bikin semua orang kena getahnya lewat rantai yang panjang.
@dupiday@txtdarionlshop kak , lip sebanyak itu biasanya ditempatin apa? soalnya aku juga segitu tapi kesulitan buat cari shadenya kalau udah mau pake hahaha, kebetulan aku simpen di storage kotak gitu
Agak OOT dikit, di konteks sekolah kadang gue nemu kasus begini. Yang jadi korban/bereaksi besar malah jadi yang "salah".
Ortu cerita dipanggil guru karena anaknya berantem dengan siswa lainnya. Misal, ngedorong temennya.
Ternyata pas digali lebih jauh, pemicunya karena temennya melanggar boundaries dia. Entah misalnya ngerebut sesuatu/ngejek.
Anak ini jadi dianggap punya masalah emosi karena mengeluarkan reaksi yang besar. Padahal menurutku, itu reaksi yg wajar.
Siapa yang gak marah kalau boundariesnya dilanggar? Kita yg udah dewasa aja bisa marah besar kok.
Menurutku, kadang kita terlalu fokus pada reaksi besarnya. Maunya kita, kalo ada apa2, bicarakan baik2, lapor ke guru.
Tapi ada pula case2 ketika anak lain ini terus2an mengusik boundaries anak kita. Menurutku, justru yang gak kalah penting diajarkan pada anak adalah tentang boundaries.
Dia punya boundaries, orang lain juga punya dan itu sesuatu yang perlu dijaga. Seringkali kita menilai perilaku tapi melupakan konteksnya.
Misal, mendorong anak lain. Seringkali kita lgsg menggolongkan perilaku itu buruk. Padahal konteksnya dia lagi mempertahankan boundariesnya.
Bukannya tidak adil kalau masalahnya malah dibebankan pada orang yang dilanggar batasannya?
Bukannya harusnya yang diajarkan juga adalah anak yang sering dengan sengaja melanggar batasan orang lain?