22 Agustus 2020
Jika pada akhirnya segala drama hidup kita akan dilupakan dan terlupakan, bahkan mungkin oleh kita sendiri, apakah sudah sepantasnya kita bersikap berlebihan pada sebuah peristiwa?
WARISAN KEILMUAN SEORANG Al-ATTAS
Syed Muhammad Naquib al-Attas adalah intelektual Muslim terkemuka yang mewariskan konsep "Islamisasi Ilmu Pengetahuan",
Gagasan Ta'dib (pendidikan berbasis adab), dan Islamic Worldview. Beliau mendirikan ISTAC, menghasilkan lebih 30 karya, serta memecahkan teka-teki sejarah Melayu-Islam.
Berikut adalah rincian warisan pemikiran dan kontribusi Naquib al-Attas:
1. Islamisasi Ilmu Pengetahuan (Dewesternization of Knowledge): Konsep ini bertujuan membebaskan ilmu pengetahuan dari pengaruh sekuler, budaya, dan mitologis Barat, serta mengembalikannya pada kerangka tauhid.
2. Konsep Pendidikan Islam (Ta'dib): Al-Attas mendefinisikan pendidikan sebagai penanaman adab (ta'dib), bukan sekadar pengajaran (ta'lim) atau pengasuhan (tarbiyah), guna membentuk manusia beradab yang mengenali tempat Tuhan dan makhluk.
3. Pandangan Alam Islam (Islamic Worldview): Visi tentang realitas dan kebenaran yang bersumber dari wahyu, mendasari seluruh peradaban Islam.
4. Pendirian ISTAC: Mendirikan International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) pada 1991 sebagai pusat pemikiran peradaban Islam dengan desain arsitektur yang ikonik.
5. Karya Sastra dan Sejarah Melayu: Menegaskan peran Hamzah Fansuri, meneliti manuskrip Melayu tertua, dan memecahkan misteri prasasti Terengganu.
5. Karya Monumental: Menulis lebih dari 30 buku, termasuk Islam and Secularism, Prolegomena to the Metaphysics of Islam, dan The Concept of Education in Islam
6. Di Indonesia, ada INSISTS - Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations. Sudah jelas lembaga ini adalah kepanjangan ide dari seorang Nuqaib.
Bagi para pengikutnya, Nuqaib layaknya suluh. Menerangi setiap langkah kita agar tidak silau akan permadani dunia. Ia memadukan islamic worldview agar sudut pandang kita tidak keliru. Tak sekedar itu, beliau juga mengingatkan kepada kita semua tidak perlu memandang Barat hebat secara berlebihan, apalagi Islam sampai minder.
Akhir kata, begitu banyak warisan yang dapat kita terima, untuk kita lanjutkan. Khazanah Intelektual Islam yang beliau kenalkan tidak akan berhenti. Ada begitu banyak murid²nya yang siap mengenalkan kepada penerus peradaban.
Selamat beristirahat Prof Nuqaib Al-Lattas. Kepergianmu adalah satu takdir atas ketetapanNya.
Iran Kecolongan?
Tadi malam, dalam kondisi sebenarnya udah ngantuk banget (dan hampir saya matikan tuh laptop, mau tidur aja karena sudah 10 menit lewat waktu yang dijanjikan, pihak TV belum menghubungi lagi), saya dihadapkan pada pertanyaan yang menggelitik.
Intinya begini, narasumber yang lain menyebut Iran "kecolongan" karena tidak bisa menjaga pemimpinnya. Lalu host mengkonfirmasi ke saya, menanyakan pertanyaan yang -saya pikir- juga ada di benak banyak orang, "Bukankah seharusnya pemimpin dengan level setinggi itu penjagaan keamanannya sangat ketat?"
Saya sebelumnya sudah menyimak pernyataan tokoh politik senior Iran, saat ini menjabat Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani yang menyatakan bahwa Ayatullah Khamanei memang tidak mau diminta bersembunyi. Memang beliau yang maunya tetap bertahan di tengah masyarakat (rumah dan kantor beliau ada di dalam gang, di tengah kota Teheran).
Beliau bilang, baru mau ke bunker kalau semua warga Iran juga dapat kesempatan berlindung ke bunker.
Berkali-kali sebelumnya saya juga melihat video-video yang menunjukkan beliau berdoa, memohon kesyahidan. Suami saya, dulu banget, saat masih kuliah di Iran, pernah ikut i'tikaf di masjid, lalu diumumkan, "Rahbar minta diaminkan doanya." Jamaah i'tikaf ya nurut aja, amin.. amin.. Eh, kemudian ketahuan, doa beliau adalah doa minta segera disyahidkan.
Jadi, ya memang begitulah mental kebanyakan orang Iran, ingin mati syahid. Tapi, beda dengan syahid ala jihadis Wahaboy, harapan akan kesyahidan dipandu oleh kesadaran kritis, yaitu pemahaman geopolitik dan kegigihan mencapai kemajuan iptek, terutama pembuatan senjata untuk membela diri saat musuh menyerang.
Cuma, masih ada pertanyaan tersisa di benak saya, "Ya tapi kan harusnya langit Teheran dijaga dong, biar ga ada rudal atau jet tempur masuk?"
Di TV saya cuma bisa bilang, serangan ini kejutan, karena serangan terjadi saat negosiasi masih berlangsung, dan Menlu Oman di TV bahkan mengungkap, Iran bersedia menyimpan nol cadangan uranium yang diperkaya [yang berpotensi dijadikan bom]. Namun dalam waktu singkat, meski Pemimpin Tertinggi gugur, Iran mampu memberikan serangan balasan.
[Serangan terhadap kediaman Ayatullah Khamenei jam 8.30 pagi, serangan balasan dimulai 11.00 pagi waktu Iran]
Setelah diskusi dengan beberapa kawan, akhirnya ketemu jawaban yang lebih detil. Narasi bahwa “Iran kecolongan karena gagal mengintersep” adalah penyederhanaan yang keliru. Dalam perang modern, tidak ada sistem pertahanan udara yang 100% sempurna. Amerika gagal mencegah serangan 9/11 [dengan mengikuti klaim mereka bahwa Al Qaida yang menabrakkan pesawat ke Twin Tower], Israel tetap kebobolan sebagian roket Iran (bahkan juga roket Hamas) meski punya Iron Dome. Arab Saudi tidak mampu mencegat drone Ansharullah Yaman saat serangan Aramco 2019.
Kegagalan intersep [mencegat] bisa disebabkan oleh serangan multi-vector yang kompleks, faktor kejutan, infiltrasi intelijen, atau celah teknis. Menyimpulkan “lemah” atau "kecolongan" dari satu kegagalan adalah falasi "hasty generalization" (generalisasi yang terburu-buru).
Begitu juga, klaim bahwa terbunuhnya Ayatullah Khamenei adalah gara-gara kebocoran intelijen yang artinya "rezim tidak solid" atau lemah, juga generalisasi yang tergesa-gesa. Faktanya, semua negara mengalami infiltrasi: CIA beroperasi di Rusia, Mossad di berbagai negara, dan intel Rusia maupun China juga menyusup ke Barat. Dan... intel-intel Iran juga ada di Teluk. Makanya Iran menggempur sebuah hotel mewah di Dubai karena mendapatkan info bahwa tentara-tentara AS dievakuasi ke sana.
Terakhir, penyebab terbunuhnya Ayatullah Khamenei juga masih belum pasti, apakah jet tempur masuk ke wilayah Iran, atau rudal yang ditembakkan dari luar Iran. Jika rudal dari luar Iran, penjelasannya begini (kata teman saya):
Misil yang ditembakkan dari luar perbatasan masih jadi problem buat semua militer, bukan cuma Iran. Jika rudal itu dikirim dari Suriah, Bahrain, atau Irak, jaraknya sudah terlalu dekat. Misil sudah dalam posisi aktif untuk bisa dicegat. Apalagi (lihat peta), pangkalan militer AS ada di sekeliling Iran, serangan bisa berasal dari mana saja, sulit diduga, dan wilayah Iran sangat luas. Tidak mungkin menjaganya 100% tanpa bisa ditembus.
Sebaliknya, misil dari Iran menuju Tel Aviv, bisa ditembak di Yordania, UAE, dll, karena belum masuk posisi aktif (masih meluncur) jadi lebih mudah dijatuhkan. Itulah sebabnya, jika misil Iran sudah masuk fase aktif, bahkan Iron Dome dkk juga tidak bisa menangkis.
Apapun juga, intinya: Iran sudah (dan sedang) melawan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya. Kematian pemimpin dan para komandan militer adalah bagian dari resiko perjuangan mereka. Kesyahidan (yang rasional) menjadi impian bagi mereka.
YANG SALAH ITU: menyalah-nyalahkan korban. Justru harusnya, terus berfokus ke si pelaku: AGRESI terhadap negara berdaulat adalah salah, melanggar Piagam PBB pasal 2, dan pihak yang diserang berhak untuk membalas (Piagam PBB pasal 51).
Ini juga berlaku dalam cara kita memandang Palestina. Meski di sana ada friksi internal, ya sudah, itu urusan mereka. Selalu ingat bahwa yang salah itu ISRAEL; penjajahan Israel harus segera dihentikan. Jangan malah berkata, "Ya gimana kita mau bantuin? Mereka aja berantem satu sama lain?!"
Agamawan mmg sdg lucu2nya.
Yg seharusnya dituntut berubah & bertindak benar adalah elit politik, petinggi parpol & pejabat negara yg korup & brutal pada rakyat. Ngapain kalian meminta rakyat yg harus tenang?? Nggak kebalik tuntutan kalian???
Ben Anderson
Ben Anderson was a political scientist & expert on Southeast Asia. He is best known for his book on nationalism, Imagined Communities. For a fuller understanding of his life & work, you can read his intellectual memoir, 𝘈 𝘓𝘪𝘧𝘦 𝘉𝘦𝘺𝘰𝘯𝘥 𝘉𝘰𝘶𝘯𝘥𝘢𝘳𝘪𝘦𝘴.
ekosistem adalah sebagai sistem kehidupan yang meliputi interaksi antara makhluk hidup, baik yg biotik maupun abiotik, dlm suatu area tertentu. Krn itu ekosistem itu satu kesatuan yg saling berkaitan. Nggak bisa diukur hanya dgn lokasinya jauh dari tempat wisata. Parah banget.
Ketika ruang politik tidak lagi bicara gagasan:
Peta ideologi politik Indonesia sering disalahartikan seperti model Barat: kiri vs kanan, konservatif vs progresif. Padahal, spektrum politik itu terbentuk oleh sejarah; di Eropa, konflik antara proletariat dan borjuis (lihat historical materialism à la Hegel & Marx) kemudian melahirkan sosialisme.
Indonesia tak pernah mengalami revolusi industri. Maka, konflik kelas bukan pangkal politik kita. Seperti apa yang Tan Malaka katakan: konflik utama Indonesia adalah kolonialisme. Karena itu, yang lahir bukan sosialisme, tapi nasionalisme — dengan cita-cita negara kuat dan ekonomi mandiri, melawan liberalisme yang dianggap sebagai wajah penjajahan.
Sukarno bisa dilihat sebagai personifikasi nasionalisme: proteksionisme, sentralisasi, dan kesatuan sebagai harga mati. Hatta mewakili kutub liberal: demokrasi parlementer, desentralisasi, dan ekonomi terbuka. Hatta mendukung federalisme — bukan untuk memecah, tapi untuk memberi keadilan antar daerah.
Konflik antara Omnibus Law Cipta Kerja—yang mempermudah eksploitasi sumber daya seperti penambangan pasir Gunung Merapi—dengan regulasi lokal DIY yang melindungi kawasan berdasarkan nilai-nilai Sumbu Filosofis, adalah contoh klasik dari pertarungan ideologi dimana partai harusnya berdebat.
Hari ini perbincangan politik tidak mengindahkan gagasan namun personalitas. Partai jadi kendaraan elektoral semata. Akuntabilitas bergeser — bukan ke rakyat, tapi ke ketua partai.
Dalam konteks perdagangan internasional misalnya, seorang politisi bisa menganut proteksionisme di pagi hari, lalu memuji free trade di sore hari. Padahal, proteksionisme jargon nasionalisme. Free trade adalah karikatur dari liberalisme. Tanpa peta ideologi, yang tersisa hanyalah oportunisme.
Indonesia butuh kerangka yang lahir dari sejarahnya sendiri: liberal-nasionalisme. Agar politik punya arah, dan kekuasaan punya batas.
Further: https://t.co/C15W4nxejS
Salah satu tujuan utama universitas adalah membentuk warga negara yang mampu berpikir, bernilai, dan beretika; wisudawan yang mampu berpikir, bernilai, dan beretika itu idealnya memiliki nilai jual di dunia kerja. Mereka yang tidak menganggap penting akuntabilitas universitas akan kualitas ketenagakerjaan lulusannya itu bisa jadi buta akan keistimewaannya sendiri: Bagi sebagian besar masyarakat; yang tidak sepintar, sekaya, dan seberuntung anda, ijazah universitas adalah satu-satunya cara untuk membawa keluarga sang mahasiswa keluar dari penderitaan hidup.
Salah satu adegan yang saya suka di film “Seni Memahami Kekasih”, adegan berbasis pertanyaan yang dulu sempat ditanyakan Kalis sesaat setelah kami lamaran.
Ngga bisa jadi alat bukti sih, tapi buat perbandingan mungkin LBH Sumbar bisa nelusurin pola trauma/luka korban yang beneran terjun dari jembatan ke sungai di kasus2 sebelumnya, tahun ini aja ada 3 kasus. Paling bener adalah minta polisi bikin tim independen buat visum, jangan pake dokpol
Sama kaya kasus kebakaran rumah wartawan kemarin, ahli forensik kebakaran di sini kan ada yang beneran prominent dan independen
Yang bener neh Gak Bisa dibeli dengan Harga Berapapun? Gue buka perjanjian lo sama Telkomsel yah…
Pada mau tau Gak yang katanya gak bisa dibeli dengan UANG BERAPAPUN
Dapat Brapa Puluh Milyar dari Telkomsel?
Kalau minat 2222 RT.
Yang Minat aja…
Polisi menembakkan proyektil Gas Air Mata ke jalan raya depan Stadion GJS Gresik. Efek terkena pengendara yang terkendala kemacetan.
#ACAB#RefuseTearGas