Bagus Muljadi, profesor termuda Indonesia yang kini mengajar di University of Nottingham, menyentil satu hal penting:
pendidikan kita mahal, tapi arahnya murahan.
Di luar negeri, kampus meringankan biaya dan memamerkan alumni sukses sebagai pertanggungjawaban moral.
Di Indonesia, mahasiswa bayar mahal dulu. Soal masa depan, silakan cari sendiri.
Early this morning, a massive fire struck residential areas and rows of kiosks at Kasongan Market, Katingan Regency, Central Kalimantan, Indonesia 🇮🇩(26/26)
The fire spread rapidly, destroying nearby buildings. No official details yet on casualties.
ANEH BIN AJAIB
Silakan simak @KejaksaanRI!
1. Yang ditunjuk impor koperasi TNI POLRI
2. 10 orang tersangka yg diduga memperkaya diri sendiri adalah mereka (pihak swatsa) yg bekerjasama dan mendapat keuntungan dari koperasi TNI POLRI
3. Tidak ada tersangka dari Koperasi TNI POLRI
Ternyata pelakunya orang Kristen sendiri. Tapi replies awalnya langsung berasumsi pelakunya muslim.
Dari sini sebenernya bisa dilihat, sangat sangat mudah melakukan false flag attack dan framing yg bisa berujung konflik SARA.
Bakal gampang banget dimanfaatkan buat adu domba.
.
.
BUAT APAAA PUNYA 7 VIDEOGRAFER ???!!
Hawa-Hawanya Mulyono Jilid 2 inih
Rakyat Please STOP percaya sama Pejabat Pemerintah
yang Hobby nya NGONTEN
Mereka DIGAJI buat KERJA ..
BUKAN PENCITRAAN !!!
.
.
Ketika "Keterlaluan" Menjadi Senjata Kekuasaan
Dalam politik, tidak ada kata netral.
Terlapor menyebut kata "keterlaluan" tepat saat wartawan menanyakan tanggapannya terkait pernyataan Ketum PDIP - Ibu Megawati Soekarnoputri- pernyataan : "kalau memang punya ijazah, diperlihatkan saja, kenapa harus repot-repot"
Jawaban terlapor: "Keterlaluan".
Artinya, ini bukan lagi komentar personal. Ini adalah "kode kuasa".
Kata ini digunakan untuk menjawab pertanyaan atas pernyataan Ketum PDIP. Kata ini tidak hanya diarahkan kepada Roy Suryo, Rismon Sianipar, dr Tifa, Peneliti yang mewakili pertanyaan rakyat,
tetapi juga menjadi sinyal halus kepada Megawati - yang notabene Ketua Umum PDIP: Partai pengusung utama sejak terlapor menuju kursi Presiden 2014, 2019 bahkan sejak Gubernur DKI, bahkan sejak Walikota.
Artinya,
Siapapun yang mempertanyakan ijazah, meskipun berasal dari rumah politiknya sendiri, dianggapnya telah melewati batas. Dianggapnya keterlaluan.
Padahal, dalam Republik Demokratik, tidak ada batas untuk berpikir. Tidak ada batas untuk bertanya tentang sesuatu yang disembunyikan dan butuh jawaban.
Yang terbatas, adalah batas untuk berkuasa, dan batas menggunakan kekuasaan, dan ketika tidak ada batas dalam kekuasaan, itu adalah penyalahgunaan kekuasaan.
Keterlaluan ini, adalah sebuah abuse of power.
Ketika keterlaluan diucapkan untuk membungkam akal publik, justru di situlah letak keterlaluan yang sesungguhnya.
Megawati Soekarnioputri hanya menyatakan:
Kalau memang punya ijazah, mengapa harus repot-repot.
Sebuah pertanyaan sederhana. Yang seharusnya dijawab dengan sederhana juga. Toh, ketika ditanya wartawan, ijazah sedang dipegang di tangan.
Kenapa map ijazah itu harus dibalik, hanya memperlihatkan sisi belakang saja?
Kenapa harus mempersulit keadaan, dengan menyatakan bahwa nanti ijazah diperlihatkan di depan hakim?
Bukankah terlapor, di Pengadilan Negeri Surakarta yang sedang berlangsung, sudah diminta oleh Hakim untuk memperlihatkan ijazah? Dan berkali-kali pula?
Tetap saja di depan pengadilan negeri Surakarta, diminta oleh Hakim, tidak mau menunjukkan ijazahnya?
Mau Hakim di pengadilan mana lagi yang bisa memaksa terlapor menunjukkan ijazahnya?
https://t.co/mDMJUI3fmN
Di Balikpapan sempat ga ada BBM sampe warga antri di mana.
Kesusahan semua mau beraktivitas.
Walikotanya?
Liburan sekeluarga ke London.
Temenku, salah satu dari antara sekian banyak masyarakat, mengeluh di IG-nya, nge-tag sang penguasa yang gembok akun ga mau dikritik, di postingannya dia nulis, “Cupu, anjing.”
Dah, dianjingin doang.
Lu bayangin kesel ga ada bensin, lu liat walikota lu kek gada peduli-pedulinya dan malah LIBURAN, waw. Masih bagus cuma “anjing” aja yang keluar.
Ealah, kemudian sama anaknya si walkot di-dox di IG-nya.
“Tunggu team saya silahturahmi ke rumah.”
Astagaaaaa.
Emang busuk, BUSUUUUUUUUUUK, busuk sebusuk-busuknya busuk orang-orang pemerintah ini, ya.
Ngeri Balikpapan ini, sodaraan semua keknya yang memerintah, gubernur, walikota, anggota DPR.
HEBAT EMANG.
Presiden ke-8 baru baru ini mengatakan bahwa dirinya akan memberantas segala bentuk korupsi di republik ini
Gimana mau percaya? Kalo Budi Arie yang terlibat skandal jatah judi online aja masih jadi Menteri dan dikirim ke Vatikan pula
Gimana mau percaya? Kalau RUU Perampasan Aset aja ga diseriusin, ga dikebut kayak RUU TNI
Gimana mau percaya? Kalau pa Presiden aja masih ngomong “Hidup Jokowi”, padahal orang itu masuk dalam liga korupsi dunia
Gimana mau percaya? Kalau Kabinetnya aja masih berisi orang-orang lama dan telribat dalam korupsi-korupsi lama
Jangan cuma akan pa Presiden, tapi lakukan. Konkret. Bapak kayanya masih kebawa suasana nyapres 4x itu ya? 🙏
Polisi bunuh supporter:
"Mereka mabuk-mabukan"
Polisi bunuh pelajar:
"Dia ikut tawuran"
TNI tembak sipil Papua:
"Dia OPM"
Pemusnahan amunisi kadaluwarsa oleh TNI memakan korban:
"Dia pemulung besi"
Mau coklat atau ijo sama aja. Sama-sama suka fitnah & framing orang meninggal
Dia lebih memilih Penjarakan orang² yang curiga keaslian ijazahnya daripada dia menunjukkan atau membawa ijazahnya kepengadilan dari beberapa tahun yg lalu.
Orang macam ini disebut negarawan ? Macam mana itu?
"Sudah jadi Raja kau?! kamu itu Preman, memakai pakaian Ormas.." Jendral (Purn) Gatot Nurmantyo
Para mantan Jendral berani bersuara ktika negeri diinjak2 preman, sementara para Jendral yg masih aktif?.............