Berat kalau gak punya basic logic dan basic ilmunya.
Gak bakal tahu kalo AI nya ngibul.
Contoh terparah: Tugas dengan TULIS TANGAN, entah bagaimana, yg ditulis tangan adalah FORMAT LATEX
Misal ½ dalam Latex ditulis \frac{1}{2}
Bagaimanapun dan sampai kapanpun, ilmu sejarah akan terus relevan dengan berbagai aspek kehidupan dan lintasan zaman. Prof. Bambang Purwanto memberikan panduan bagaimana ilmu sejarah memiliki urgensi, termasuk dalam sektor industri.
Baca di: https://t.co/lf4VRJcQtY
dan ga perlu dibayangin kalau kejadiannya dibalik ini udah terjadi tiap hari kok. kasian ya laki laki kena sexually harassed bukannya ditolong laki laki lain malah dijadiin gotcha moment
You can see this phenomenon everywhere among Indonesians:
- People believing that processed foods are universally unhealthy
- People believing that "improper spellings" implies incorrect arguments
- People believing that "herbal" stuff -> Universally safe / healthy
- People believing that overcharging is universally bad regardless of the device being involved
The list is endless. Those people basically learned something from some sources but they never asked themselves: What is the limit of this categorization? Is it just a rule of thumb? In what context can it be inaccurate? A significant amount of knowledge / categorization is assumed to be "universally applicable" unless explicitly stated otherwise. Nuance is assumed to be nonexistent unless it's elaborated
Aku bosan segalanya; Bukber bosan, kerja bosan, di rumah bosan, scrolling bosan, baca buku jenuh, dll. Liburan pun tak excited. Rasanya kayak mengambang2 aja di kehidupan; Bukannya aku tak punya arah, cuma ya "arah" yang dulunya kayaknya menarik rasanya hambar sekarang
Pada dasarnya, tidak semua organisasi mahasiswa ditujukan untuk memberikan keuntungan material. Manfaatnya memang sudah bukan soal dapat apa, tapi soal menghadapi orang lain (dan diri sendiri) yang selalu ada aja aneh-anehnya.
"Kenapa harus ikut berorganisasi?"
Beberapa orang bertanya hal yg sama kepada saya. Jawaban saya hampir selalu sama, "Organisasi mahasiswa menawarkan banyak kekacauan".
Untuk jadi manusia yang lebih baik, kita harus terbiasa dengan kekacauan.
Dan, saya sering melihat narasi bahwa orang dengan kondisi mental terpuruk disuruh untuk bersyukur. Sejak kapan agama melarang umatnya untuk memvalidasi perasaan/keadaan? Bersyukur bukanlah soal memaksakan makna kebahagiaan tanpa memahami faktor-faktor lain.
Konsep “bersyukur” kerap disalahguna/artikan oleh oknum umat Muslim sebagai alibi untuk tidak mengusahakan keadaan yang lebih baik. Hal ini malah membentuk romantisasi penderitaan seakan-akan itu bagian dari beriman, padahal bukan seperti itu.
@OG_Eniwealth Sabar ≠ menerima apa adanya.
Sabar itu bentuk pengendalian diri, bukan berarti menyerah. Berusaha untuk membela diri juga termasuk sabar kalau cara dan emosinya tidak meledak2. Bukan berarti diam tersakiti padahal bisa mencegah/melawan.
Kalau ribuan anak kecil keracunan aja gak peduli, what do you expect to happen when elephants died or huge flood in northern Sumatera killed and displaced people.. innalillahi..
Pemilik Langit,
temukan aku pada cahaya
Sebab 'ku tak mengerti cahaya
Jalanku s'lalu gelap,
hingga aku jatuh dan jatuh,
lalu s'makin didekap kegelapan
Pencipta Diriku,
berikanku jawaban atas apa yang kucari di semesta ini