Ternyata nulis 1 ucapan terima kasih (gratitude letter writing) bisa ngubah cara kerja otak kita selama 3 bulan ke depan.
Jadi, ada peneliti di Indiana University yg penasaran: pas kita bersyukur, apa yang sebenernya terjadi di otak? dan apakah efeknya cuma numpang lewat doang, atau nempel lama?
Terus mereka rekrut orang yg baru mau mulai terapi buat depresi/anxiety. Satu grup disuruh nulis surat rasa syukur, satu grup lagi jalanin terapi seperti biasa aja, gak nulis apa-apa.
Unpopular opinion:
Analisa pake technical analysis classic, gak banyak mikir, udah punya jam terbang: Win rate 45-50%
Trading/investing pake quant canggih top tier: 50.75%
Ini menurut Grok yang paling sukses
Yang satu pake teknologi complicated ini itu segala macem. Yang satu modal tarik garis
Mending pake classic technical analysis. Terutama kalau level masih retail
Tinggal perbaiki risk managementnya
Salah satu kesalahan paling umum dalam membaca data makro: terpaku pada angka absolutnya.
• "Inflasi naik ke 4%."
• "BI hike 25 bps."
• "GDP tumbuh 5%."
Refleksnya langsung menilai bagus/jelek dari angka itu.
Padahal pasar bereaksi terhadap "Surprise Factor".
"Surprise Factor" adalah selisih antara REALISASI dan KONSENSUS.
Harga itu sudah mendiskon faktor2 yang forward-looking.
Sebelum sebuah data rilis, konsensus tentang data tersebut sudah priced in di harga.
Market sudah antisipasi data makro yang belum keluar based on konsensus.
Ketika datanya riilnya keluar, satu2 informasi baru adalah selisihnya terhadap ekspektasi, dan itulah yang menggerakkan harga, bukan angkanya sendiri.
Kalau inflasi keluar di 4% dan konsensus memang 4%, market price most likely tidak akan kemana2.
4% itu sudah priced in.
Yang menggerakkan pasar adalah kalau yang keluar ternyata 4,5% (di atas dugaan) atau 3,5% (di bawah).
Implikasinya adalah, angka "bagus" bisa menurunkan pasar kalau di bawah ekspektasi, dan angka "jelek" bisa menaikkan kalau lebih baik dari yang ditakutkan.
Di portfolio management, ini masuknya ke Macroeconomic Factor Model. (terlampir di gambar)
Di pasar global ada indeksnya: Citi Economic Surprise Index (Citigroup), yang mengukur data aktual vs konsensus.
Jadi kalau ada rilis data atau keputusan bank sentral, pertanyaan pertamanya bukan "angkanya berapa", tapi "angkanya berapa dibanding yang diperkirakan."
Yang sesuai ekspektasi, sekencang apa pun headlinenya, sebagian besar sudah priced in di harga.
Kenaikan Pertamax Hari Ini Adalah Pengakuan Setelah Denial Berbulan-Bulan 👇
Soal pengumuman pertamax naik jadi 16.250 dini hari tadi: pemerintah memang harus naikin kok. (sabar baca sampe beres)
Minyak dunia gila gara2 perang, gak ada negara yg sanggup nahan selamanya. Tapi inget gak 3 bulan terakhir kita dibilangin apa? Stok aman kata ESDM.
Gak ada penyesuaian harga kata Mensesneg. Menkeu malah jamin subsidi gak naik sampai akhir 2026.
Padahal di saat yg sama Filipina sama India udah ngantri dan ngebatesin pembelian, negara tetangga udah naikin harga nyicil dari awal.
Cadangan BBM kita? Cuma cukup 20 hari, standar internasional 90.
Kalo mereka nyiapin rakyatnya, kita dinina-boboin 😹
Jadi kenaikan 32% sekali gebrak hari ini itu sebenernya pengakuan, kalau narasi "aman" kemarin cuma obat penenang.
Nah yang bikin minpuk kepikiran,
Ini persis kejadian 2022 loh, bisa keulang kalau kita gak belajar.
April 2022 pertamax naik, narasinya sama "cuma nyasar yg mampu". Aslinya org mampu pindah ke pertalite, kuota jebol, subsidi bengkak dari 502 ke 650 T, sampai akhirnya September 2022 pemerintah nyerah: pertalite ikut dinaikin 30%.
Kenaikan "buat org kaya" nyampe ke tukang ojek cuma butuh 5 bulan.
Dulu itu gap pertamax-pertalite cuma 4.850 perak udah cukup jebolin kuota nasional. Sekarang gapnya 6.250, dan kuota pertalite tahun ini malah dipangkas.
Belum lagi godaan ngoplos kan, skandalnya aja baru setahun lewat.
QR MyPertamina? Itu lahirnya dari panik 2022, dan kasus oplosan kemarin bukti masih bisa diakalin.
Menurut keyakinan minpuk, 3 bulan kemarin itu harusnya dipakai nyiapin mitigasi, bukan ngeyakinin publik gak ada masalah loh ya 😹
Kalau polanya keulang, 5 bulan dari Juni itu November. Masih di dalam tahun yg katanya subsidi dijamin gak naik.
Kita liat aja janjinya si Purbaya kepegang apa nggak?
[KerupukOpini]
FYI aja di SCBD tuh ada UD Mitra, Los Ciken, Cosan, JRNY, Geprek Bu Rum, Geprek Bu Made, Rolas Burger, Taigersprung, Couvee. Jadi lu tafsirkan sendiri aja yang dibilang disini generalisot apa sesuai data lapangan wkwkwkwk
Indonesian stocks slump to their lowest level in almost 14 months while the rupiah reaches another record low, underscoring investor concern that persistently high oil prices are straining the country’s finances https://t.co/knKBUP1Wsa
Berikut video analisa saya berjudul "Rakyat gaduh : Presiden Prabowo 1 dari 6 hari berada di luar negeri ? 5 saran saya". Semoga didengar Pemerintah. Silahkan dikomentari, dibahas, disebarkan, dikutip & boleh juga diliput media. Salam, Dr. Dino Patti Djalal
Indonesia gak punya gandum tapi ekspor mie instant ke mana-mana. Singapura gak punya minyak tapi mengimpor minyak mentah dikilang lantas diekspor. artinya apa? kepemilikan SDA bukanlah kunci. Kuncinya kemampuan manufaktur secara efisien dan kreatifitas
Bahasa sederhananya kayak gini…
Bayangin pasar keuangan global itu kayak kompetisi dua wahana bermain:
Wahana Amerika: Super aman.
Wahana Indonesia: Seru tapi penuh goncangan.
Normalnya, investor asing mau bermain di Wahana Indonesia asalkan pengelola memberikan bonus hadiah yang jauh lebih besar daripada Wahana Amerika, minimal selisihnya harus 2,5%.
Kalo bonusnya cuma beda tipis, buat apa mereka ambil risiko terlempar dari wahana yang berguncang?
Mereka pasti pilih main aman di Wahana Amerika.
Nah, masalahnya dimulai ketika Wahana Amerika tiba-tiba menaikkan standar hadiah mereka jadi sangat tinggi, sampe 4,59%.
Di sisi lain, Wahana Indonesia cuma sanggup kasih hadiah 6,85%.
Selisih hadiahnya menyusut tinggal 2,26% saja. Jarak ini terlalu sempit dan melewati batas toleransi mereka. Apalagi, asuransi keselamatan di Indonesia (CDS) juga mendadak ikutan naik, pertanda wahana domestik sedang dinilai lebih berbahaya dari biasanya.
Melihat angka yang nggak masuk akal ini, robot-robot canggih milik institusi asing langsung bergerak tanpa ampun. Mereka kompak memencet tombol “sell-off”, membuang semua tiket surat utang Indonesia yang mereka pegang sampe harganya jatuh nyungsep.
Setelah tiket itu dijual, tumpukan uang Rupiah yang mereka dapatkan langsung ditukar ke Dollar buat dibawa pulang kampung ke Amerika.
Karena semua orang berebut membeli Dollar dan membuang Rupiah, mata uang kita langsung loyo dan jatuh terpuruk.
Biar Rupiah nggak makin hancur, Bank Indonesia terpaksa menaikkan suku bunga. Akibatnya, aliran uang di perbankan mengetat dan biaya pinjaman modal bagi perusahaan-perusahaan besar di bursa saham $IHSG jadi lebih mahal.
Perusahaan jadi semakin susah cetak laba, dan secara hitung-hitungan valuasi, nilai mereka otomatis menyusut.
Melihat masa depan yang suram ini, para investor saham ikut panik, menekan tombol jual, dan seketika membuat $IHSG ikut roboh berjamaah.
HIDUP JOO KOO WEE!!!
Kayanya terkoordinir banget nih, Indonesia disebut lagi di Bloomberg, ketika Blackrock mau launching fund bulan depan untuk ASEAN Stocks.
Dan kata kata yang paling penting: "underweight position in Indonesia"
🤣🤣
Di bidang astronomi, jarak yg sangat jauh diukur dgn satuan “tahun cahaya”
Di Indonesia ada satuan baru dlm perhitungan harga/biaya yg sangat mahal, yaitu “hari MBG”
* Anggaran beasiswa LPDP: 5 hari MBG
* Subsidi BPJS Kes: 40 hari MBG
* Biaya pembangunan Whoosh: 94 hari MBG
😁
J.P. Morgan: Foreign equity ownership Indonesia 65% → 38%. Bonds: Asing 13%, Domestik 87%.
Bad news? Not that simple. Ada trade-off nya.
Ini punya dua sisi yang jarang dijelaskan bersamaan.
POSITIF: Lebih resilient terhadap guncangan global.
Ingat tahun 2013 saat Taper Tantrum? Asing pegang 30%+ SBN kita.
Asing panik dan kabur di 2013.
Rupiah jatuh 26% dalam hitungan bulan & IHSG ambruk.
Sekarang mereka cuma 13%.
kalau mereka panik keluar hari ini, dampaknya jauh lebih terbatas.
Shock absorber kita secara struktural jauh lebih baik.
NEGATIF: Ada harga yang harus dibayar.
Dengan sedikitnya asing di pasar, pemerintah harus offer yield lebih tinggi untuk attract buyers (utang lebih mahal).
Price discovery jadi kurang efisien.
Likuiditas pasar menipis.
Lebih Stable tapi lebih Mahal.
Lebih Resilient tapi lebih Sepi.
Double-edged sword.
Satu hal yang menarik dari chart kanan (Bond): Asing sempat naik tajam ke ~IDR 960 triliun di mid-2025 sebelum balik turun. Ada window mereka mau masuk, tapi ga bertahan.
Artinya: appetite ada, conviction belum.
Conviction itu datang dari dua hal: Policy clarity dan stable currency.
JP Morgan releases the newest monthly global investment strategy mereka di Bulan Maret.
Topik pertama yg mreka bahas tentu aja US IRAN War, dan surprisingly topik kedua spesifik yg dibahas adalah INDONESIA.
Saya kok melihat ada harapan besar yah, semua mata seperti tertuju & wait and see menunggu perubahan segera di Indonesia.
Kita berharap pemerintah semoga bs cepat membereskan masalah-masalah yg ada. Tetap optimis 🙏
Kenapa Trump sering tiba2 keluarkan GOOD NEWS ketika UST 10Y yield naik/ada di area 4.3%–4.5%? COINCIDENCE? Saya rasa tidak.
Saya coba backtest 17 event tariff pivot Trump sejak Jan 2025.
Dari 17 kali Trump bikin "good news" (tariff pause, trade deal, soften stance):
• 12 dari 17 event (71%) terjadi saat yield ≥ 4.3%.
• Saat yield di atas 4.5%: 3/3 kali Trump langsung lunak, yield turun semua.
• Saat yield di bawah 4.3%: Trump santai, jarang ada konsesi.
Bukti paling jelas: 9 April 2025.
• Seminggu sebelumnya yield spike dari 4.0% ke 4.4%.
• Bond market mulai jual US Treasury besar-besaran.
• Hari itu juga Trump umumkan 90-day tariff pause untuk 75+ negara.
Utang US = $36 triliun.
Setiap yield naik 1% = tambahan $360 miliar/tahun bunga.
US harus refinance $9–10T utang tiap tahun.
Setiap 10bps lebih tinggi = +$9B biaya permanen selamanya.
BOND MARKET IS THE REAL BOSS.
Trump boleh bikin kebijakan apapun.
Tapi kalau bond vigilantes mulai jual, dia balik badan.
Yield 4.3%–4.5% bukan sekadar angka teknikal.
Itu batas toleransi fiskal US.
Manage your portfolio accordingly.