@bakuldimsum_ Yap, tenang aja, lihat ibu ibu janda di luar sana. Kebanyakan membesarkan anaknya sendirian. Dari situ saja mengungkapkan bahwa mereka harus berjuang menafkahi sendirian, dan kemungkinan bahwa menikah tidak memberi manfaat lebih (dibandingkan kerugian dan ketidakbahagiaan)
@BlueZoneLast@TanyarlBase Masalahnya kita gaakan tau calon istri bisa punya anak banyak atau engga meski genetik ortunya subur (ada faktor individu). Kesannya kalau ngomong begitu menikah bukan untuk ibadah dan mencari ketenangan tapi bikin anak. Ya tapi gaada salahnya juga pengen atau ga pengen anak.
@nishimuravy@lioarchives Waduh, kalau contoh gabisa mencontohkan juga kayak gimananya. Tapi intinya eksplorasi di bagian sensitif lainnya. Harus rileks dan tau caranya. Itu bisa bikin orgasm juga. Caranya juga bertahap kayak masturbasi pada umumnya. Tapi tetep dosa yaa kalau sampai orgasm sbg muslim.
@nishimuravy@lioarchives Kak, ga harus down there. Ada yang namanya nipple orgasm dll. Ga harus sampai orgasm, yang penting eksplorasi dan tau tubuh sendiri. Buat cek kesehatan dan mengenal tubuh sendiri.
@naizhafr@cassiocpeia Izin menjawab yaa. Karena agama mendorong untuk melampiaskan ke yang halal: menikah, puasa (kalau tdk/blm mampu menikah). Hanya karena minim risiko bukan berarti ga dosa. Lagipula dosa kecil mendorong ke dosa yang lebih besar (nonton pornografi, zina, dsb).
@iwannaneedu@cassiocpeia Mau kasih insight, orgasm tidak harus didapat dari rubbing down there. Ada juga nipple orgasm dan lain sebagainya. Just FYI yaa.
@badgen1us_ Sama, sebagai cowo jangan mikir semua cewe kayak gitu (whatever pemikirannya apa) karena emang yang koar koar banyak yang buruk, yang baik juga ada. Tapi kebanyakan emang yang baik ga koar koar. Trust me. Mereka kalau spread positivity dengan tenang. You're welcome
@yeounnnnnnnn@noxvine Lah ya makanya, aku tuh bilang kalau banyak IBU KERJA, tapi suaminya gamau bagi tugas. Ngurus anak, masak, bersih bersih, setrika, nyapu, ngepel, nyuci sampe jemur, semua istrinya yang urus. Kalau seimbang dan saling bantu mah gapapa. Yang dipermasalahkan kan yang gamau saling
@yeounnnnnnnn@noxvine Dan mereka juga kerja dari pagi sampai sore, tapi bisa bekalin anak dan suaminya. Banyak suami yang mau bantuin istrinya meski sama sama kerja, bro. Emang u ga kasian istri kalau dia juga kerja? Kalau ga kerja beda cerita. Cuma dalam prinsipku anak tetep harus dididik keduanya
@yeounnnnnnnn@noxvine Kamu baca lagi, itu banyak ibu" di RS juga bekerja. Namun mereka mengurus semuanya. Kalau mendidik dan mengurus anak seharusnya memang berdua, bekerja atau tidak, karena anak itu perlu peran keduanya, tapi kalau hanya salah satu bekerja. Yang ga kerja ngerjain kerjaan rumah
@obighorbi@sosmedkeras Bener, harus jujur jujuran, gabisa menoleransi, soalnya ga pernah juga. Nyari yang sama sama first time aja masih banyak. Lagian bisa baca bahasa tubuh kok kalau jawabannya bohong sambil istikharah
@wavehush@_notanoption_ Perasaan ga salah, tapi aksinya yang menentukan salah benarnya. Karena niat menanam pohon beda dengan aksi menanam pohon. Impactnya beda
@drlrst Me, anak dari ibu yang benci anak anaknya. Saudaraku juga kena imbasnya, bahkan alm. Papa juga. Kalau udah ga bermanfaat, bengis banget ibuku. Tapi yasudahlah. Bahkan saat papa berpulang, saya malah nangis bersyukur daripada melihat beliau (papa) sedih terus.
@yourxxsenpai@yellonjuni@noxvine Tapi saya juga setuju, memang tidak semua, banyak juga laki laki yang ikut andil. Jadi gabisa bilang "banyak" tanpa data pembanding. Tapi bisa diambil pelajarannya saja, bahwa kita semua manusia yang saling membantu dan memerlukan satu sama lainnya.
@ApapunJadie@noxvine Yap, saya paham ini. Dari dulu laki laki kayak ada tuntutan tersendiri untuk menyimpan masalahnya dan menyelesaikannya sendiri. Wanita lebih cenderung butuh divalidasi, didengar, ditemani. Sedangkan laki laki lebih fokus solusi juga terhadap apa yang bisa ia dapatkan.