Kondisi Desa Adat Sade per pagi ini:
Kebakaran di kampung adat Desa Sade semalam bukan hanya menyisakan abu, tapi juga mimpi-mimpi para penduduknya yg menggantungkan hidupnya dgn mencari nafkah di kampung tsb. Ada yg jadi lokal guide, penenun kain, pemusik tradisional dll.
Kondisi Masjid juga dikabarkan rata dengan tanah.
Beberapa warga bahkan masih berusaha mengumpulkan barang-barang yang sekiranya masih bisa dipakai lagi 😔
Sc:
Tour Guide Lokal Lombok, Pak Lalu Habibi
GINI YA gen Z tuh kalo nyebut anak artinya 2, anak bulunya atau staf/rekannya. Karena kasih sayang gak mengenal HIERARKI dan JENIS, panggilan itu simbolis nunjukin deeper care. Gak kaya generasi anda yang mengagungkan hierarki sampe ngejilat atasan atau nginjek bawahan
Ini akun resmi Seskab? Kok jadi seperti akun personal yang baper.
Akun resmi Seskab bukankah seharusnya mendokumentasikan kegiatan Presiden? Tidak semestinya mengubah sapaan warga menjadi kisah emosional tentang pribadi Presiden.
Beberapa bagian yg terasa terlalu personal atau problematis:
- “Sedikit cerita..” ...terasa seperti unggahan akun pribadi.
- “Saat Pak Presiden…” ... lebih tepat “Presiden Prabowo…” atau “Presiden”.
- “menjadi sangat istimewa bila disampaikan oleh warganya” ... membangun glorifikasi personal.
- “Itulah masyarakat Indonesia yang sesungguhnya” .... melakukan generalisasi besar dari beberapa warga yang terdengar dalam video.
- “penuh adab, penuh kasih, penuh sopan, penuh ketulusan” .... sentimental dan normatif, tidak cocok dengan komunikasi institusional.
- “masyarakat setempat justru mendoakan Presidennya” .... kata justru memberi kesan bahwa dalam kondisi sulit warga semestinya marah atau menyalahkan pemerintah, lalu dipuji karena tetap mendoakan Presiden. Ini bisa terbaca sebagai eksploitasi emosi warga untuk legitimasi politik.
- “Pak Presiden” berulang kali .... cocok dalam percakapan warga, tetapi tidak perlu menjadi gaya narasi akun negara.
Dan, yg paling janggal justru kalimat “Itulah masyarakat Indonesia yang sesungguhnya”. Dari dua-tiga ucapan warga--entah natural atau settingan--, akun resmi negara tiba-tiba merasa berhak mendefinisikan “masyarakat Indonesia yang sesungguhnya”. Itu sudah bergeser dari dokumentasi menjadi narasi legitimasi.
Hewan-hewan di dalam hutan tidak ikut pemilu, tidak ikut kampanye, tidak ikut berdebat di sosial media, tapi rumah mereka ikut terbakar saat negara tidak diurus dengan benar.