Ketika tak ada tempat untuk mengadu, tak ada tangan yang menjabat, tak ada lengan yg merangkul. Curahan hati menggambarkan suasana hati yang ingin diluapkan.
Kukira kecewa untuk yang kedua kalinya akan berakhir biasa saja karna sudah melewati yang pertama. Ternyata rasanya semakin patah. Ya mungkin memang lebih baik berhenti untuk menarih ekspektasi terlalu tinggi di awal. Jadinya seperti ini π
Pertanyaan itu selalu aku gumamkan dalam hati. Tak bersuara hanya bisa dalam hati. Rasa sesakku semakin tak tertahankan rasanya. Rindu ini menyiksa, sampai di titik aku merasa tak tahu harus bagaimana lagi.
Aku selalu bertanya, apa salahku sampai semesta seperti tidak mengizinkan kamu untuk bertemu. Apakah kami tidak boleh bersama? Apakah sangatlah berat keinginan dua insan ini untuk melepas semua kerinduan yang selama ini harus tertahankan karna jarak, waktu dan juga impian?
Aku tak tahu harus bercerita kepada siapa selain kepada Tuhanku. Setiap malam dalam setiap tidurku aku bermimpi akan hadirnya sosoknya disini tanpa harus melihat dari layar warna.
Tak kusangka bahwa hatiku bisa selemah ini. Tak kusangka bahwa kuatku mulai terkikis, sedikit demi sedikit. Tangisku mulai pecah dan semakin lama aku mulai menangis tanpa suara.
Awalnya ini semua terasa sangat mudah, hatiku masih tangguh, tangisku belum pecah dan kuatku masih bertahan. Waktu berganti, dari tahun ke tahun, minggu ke minggu dan hari ke hari, rasa sesak akan merindukanmu mulai terasa menyakitkan.
Tahun pertama, kedua, ketiga, keempat dan sampai hari ini⦠sudah berjalan ke tahun ke-7. Sudah tahun ke-4 saat terakhir kita bertemu, dan aku merelakan kepergianmu untuk mengejar yang kau inginkan.
Ingatku saat pertama kali kita bertemu setelah menunggu selama setahun dan akupun berhasil menyelesaikan tantangan yang kau beri. Ku buktikan kalau hatiku tangguh.