eh kontol tadi pertalite di spbu deket rumah gw abis gw terpaksa beli pertamax anjeng. opsional mata lu. motor gw bisa isi es teh jumbo dah gw isi es teh jumbo ya monyet
Sampe lupa anak-anak kesekolah mau ngapain...
Ke sekolah ya tuntut ilmu Pak,
biar ngk dibodoh-bodohin orang kayak Elu...
Perasaan sebelum ada MBG,
anak sekolah aman2 aja,
ngk ada yg terancam mati (karna keracunan)
Polda Metro Jaya hari ini, di depan kamera:
"Kami bukan musuh mahasiswa. Kami adalah partner. Kami adalah mitra."
Lalu mereka umumkan angkanya:
Untuk mengawal demo hari ini , 6.675 personel gabungan disiagakan.
Prediksi massa aksi?
Sekitar 300–500 orang di DPR/MPR.
Di Bundaran HI? 80–100 orang.
Rasionya: untuk 500 mahasiswa, negara siapkan hampir 13 aparat per orang.
Tiga belas.
Bukan untuk perang.
Bukan untuk bencana.
Untuk warga negara yang mau bicara.
Dan ini bukan pertama kali.
Jumat 12 Juni lalu ,4.151 personel untuk massa yang juga ratusan orang.
Setiap minggu angkanya naik.
Di saat yang sama, Polda mempersoalkan surat pemberitahuan , apakah mahasiswa sudah lapor sesuai UU No. 9 Tahun 1998 Pasal 10.
Tapi Kabid Humas Polda mengakui sendiri dalam konferensi pers hari ini: meski tanpa surat pemberitahuan, polisi tetap melakukan pengawalan.
Jadi surat itu wajib atau tidak?
Kalau tidak wajib , kenapa dipermasalahkan ke publik?
Kalau wajib , kenapa tetap dilayani?
6.675 aparat untuk 500 mahasiswa yang mau bicara.
Di negara mana ini disebut "pelayanan"?
Saya meyakini gestur Nanik yang sering nangis-nangis ini bagian dari strategi propaganda politik yang sangat sadar.
Kita tahu konsultan politik Prabowo ini sangat piawai memainkan psikologi massa dan emosi publik (Gemoy playbook).
Harapannya mungkin supaya menarik simpati masyarakat awam lalu memberi ruang pemakluman pada masalah utama dari kebijakan MBG yang dampaknya lebih banyak ke elit daripada ke rakyat.
UGM punya Tiyo,
UI punya Fatimah Azzahra🔥
Kalo liat full diskusinya di cnnindonesia, gua rasa Fatimah Azzahra ini malah lebih kompeten daripada mas-mas yg ada di istana presiden.
Argumentasinya bagus dan terstruktur, mewakili keresahan rakyat.
Budiman Sudjatmiko di UGM malam ini:
"Silakan kritik kami di sini, jangan di media sosial."
Lalu mahasiswa naik panggung.
Lalu Budiman menghilang.
Nusron & Sudaryono keluar , tapi pas ditanya
"Apakah kalian merasa bersalah?"
Mereka pergi juga.
Mahasiswa UGM sampai ngejar mobil pejabat di kampus sendiri , hanya untuk dapat satu jawaban.
Gak dapat.
Kedaulatan rakyat, lo bilang?
Malam ini di UGM, tiga pejabat dievakuasi kabur dari forum "Pancasila Pemersatu Bangsa" : dikejar mahasiswa yang cuma nanya soal tanah Papua dan ekonomi amburadul.
Mari kita bicara siapa mereka:
a. Nusron Wahid, Menteri ATR/BPN : Agustus 2025 viral bilang
"tanah itu milik negara, emang mbahmu bisa bikin tanah?"
lalu minta maaf, ngaku
"cuma bercanda, tidak sepantasnya disampaikan pejabat publik."
Tadi malam ditanya mahasiswa soal ratusan ribu hektare lahan Papua yang dialihfungsikan dan warga digusur , jawabnya:
"Ikut saya ke Papua, lihat langsung."
Menteri agraria, tapi jawab pertanyaan tanah kayak ngajakin wisata
b. Budiman Sudjatmiko, Kepala BP Taskin , eks Ketua PRD, dipenjara Orba 13 tahun karena lawan rezim, bebas lewat amnesti Gus Dur karena dianggap pejuang demokrasi.
Tahun 2023 gabung Prabowo , teman satu selnya sendiri, Petrus Hariyanto eks Sekjen PRD, bilang di YLBHI:
"Ia mengkhianati kami dan korban-korban pelanggaran HAM."
Empat hari lalu di Semarang, waktu mahasiswa nanya soal konsistensinya, jawabannya:
"Anda bukan siapa-siapa, silakan pergi."
Malam ini di UGM katanya mau dialog , terus dievakuasi ke pintu samping.
c. Sudaryono, Wamentan : mantan asisten pribadi Prabowo, dilantik Jokowi di penghujung jabatan, analis politik sebut pengangkatannya sebagai manuver mengamankan Pilgub Jateng.
Hadir di forum berlabel Pancasila , kabur naik mobil patwal.
Spanduk mahasiswa UGM malam ini berbunyi:
"UGM Menolak Pengkhianat Reformasi."
Tiga orang datang bicara Pancasila.
Tiga orang tidak bisa menjawab pertanyaan rakyat.
Pancasila pemersatu bangsa , atau sekadar tameng pejabat yang sama-sama takut ditagih?