Di usia sekarang, jelas pilih bertahan.
Selama hubungannya sehat, ga toxic, ga saling nyakitin, masih ada respect, masih saling sayang & cinta, dan yang hilang cuma spark bahagianya doang, belum cukup jadi alesan buat pisah. Imo.
So I’ll fight for it. I don’t need a new person. I just need us to find our way back to each other.
Hubungan jangka panjang emg ga akan selalu ada di fase butterflies era ga siih?
Ada fase excited.
Ada fase biasa aja.
Ada fase bosen & cape sama rutinitas.
Selama masalahnya masih sesuatu yang bisa dibicarain dan diusahain berdua, kenapa harus buru-buru nyerah?
Lagian di usia sekarang, getting to know someone new is not that simple. Ada proses panjang buat kenal seseorang dari nol.
Belajar cara komunikasinya, belajar nyesuaiin kebiasaan, belajar nerima each other’s stories, sampe akhirnya bisa ngerasa safe, secure, dan nyaman lagi buat ada dlm satu hubungan.
Buatku hubungan yang worth keeping bukan yang selalu bikin bahagia, tapi hubungan di mana ketika lagi ga bahagia pun, dua-duanya masih mau duduk bareng, ngobrol, dan mencoba memahami kebutuhan satu sama lain.
Tapi critanya bakal jadi beda kalo salah satu atau keduanya udah ga mau saling mengusahakan lagi.
mnurutku stigma pasangan friendly itu ga baik harus dihapus. whats wrong abt being friendly? harusnya kmu mlh seneng pasanganmu punya relasi yang banyak dan ramah
itu dunianya, kmu bisa support by just happy with that. bukan malah "mengekang"
kalo kritik pemerintah dibilang kaum sakit hati, emang lu semua ga sakit hati liat situasi sama kebijakan sekarang?
terus orang malay yang ikutan kritik pemerintah juga bakal lu bilang kaum sakit hati juga?