Guys, Gema Goeyardi punya satu klaim yang menurut gue paling kontroversial dan paling menarik dari seluruh analisisnya.
Bukan soal rupiah.
Bukan soal IHSG.
Tapi soal satu pola yang dia temukan dan kalau benar ini mengerikan.
Setiap kali Prabowo pergi ke Paris pasar Indonesia langsung dihajar.
Bukan sekali.
Bukan dua kali.
Tiga kali berturut-turut dengan pola yang persis sama.
23 Januari 2026 — Prabowo terbang ke Paris.
IHSG langsung turun 17%.
Rupiah yang sedang menguat tiba-tiba berbalik melemah di hari yang sama.
14 April 2026 — Prabowo ke Paris lagi.
IHSG jebol tepat di tanggal itu. Gema bahkan sudah memprediksi di videonya sebelumnya bahwa 15 April akan jadi turning point dan ternyata persis kena.
29 Mei 2026 — Prabowo mengumumkan deal bisnis dari Paris senilai 3,5 miliar dolar. Ini seharusnya berita bagus. Tapi yang terjadi sebaliknya: IHSG dan rupiah langsung dihajar habis-habisan di hari pengumuman itu.
Dan ini yang membuat Gema yakin ini bukan kebetulan:
Ketika rupiah melemah dia melacak ke mana uangnya pergi.
Indeks dolar Amerika DXY tidak bergerak.
Artinya dolar global tidak menguat.
Tapi rupiah tetap melemah drastis.
Di saat yang sama dolar Singapura justru menguat terhadap dolar Amerika.
Kesimpulan Gema:
ada yang melakukan sell off besar-besaran di rupiah secara terkoordinasi dan uangnya dipindahkan ke Singapura. Bukan ke dolar. Ke Singapura.
"Dari awal sudah kelihatan.
Sell off rupiah. Orang pindah ke Singapura.
Dan sekarang Singapura malah bikin berita sel Indonesia."
Dan ini kenapa Paris jadi triggernya menurut Gema:
Deal dengan Prancis bukan sekadar beli pesawat Rafale. Di baliknya ada transfer teknologi Indonesia diajari cara membuat kapal selam sendiri di Surabaya.
Senjata Prancis tidak ada klausul pembatasan penggunaan. Beda dengan senjata Amerika yang hanya boleh dipakai untuk pertahanan dan terikat berbagai syarat.
Artinya: setiap kali Prabowo pulang dari Paris dengan deal Indonesia semakin dekat ke kemandirian alutsista. Dan itu tidak disukai oleh pihak-pihak yang selama ini ingin Indonesia bergantung pada mereka.
"Anda pikir kita akan didiamkan begitu saja ketika kita mulai bisa bikin senjata sendiri?"
Tiga kunjungan. Tiga kali pasar langsung jatuh. Pola yang sama persis setiap kali.
Kebetulan atau terkoordinasi Gema menyerahkan jawabannya kepada kita.
Yang dia yakin: ini bukan soal fundamental Indonesia yang buruk. Ini soal Indonesia yang berani mencoba mandiri dan sedang membayar harganya.
Best part menurut saya di film dokumenter Pesta Babi.
" Ternyata merah putih tidak melindungi kami" 💔
Part yang bener2 bikin hati hancur & sedih mendengar kata2 bapa ini 🥹
Nah kalau konsepnya begini baru kerasa “Dari desa, oleh desa, untuk desa” 🥹
UMKM lokal jalan, hasil tani warga kepake, sembako murah ada, uangnya juga muter buat warga desa sendiri.
Viral dan Heboh.
Jalan ini tidak boleh dilewati pejabat pemerintah.
Suara rakyat cilacap_Jalan ini bukan hasil janji, tapi hasil keringat.
Saat proposal diabaikan dan aspirasi dianggap angin lalu, warga memilih bergerak sendiri—tanpa seremoni, tanpa baliho nama pejabat.
Guys, Ahok baru ngomong sesuatu soal Chromebook dan MBG yang menurut gue paling jujur dan paling berani dari siapapun yang gue dengar dalam beberapa bulan terakhir.
Dan dia ngomongnya
bukan sebagai pembela Nadiem.
Dia ngomong sebagai orang yang paham betul bagaimana sistem pendidikan dan teknologi seharusnya bekerja.
Soal Chromebook dan kenapa Ahok marah:
Ahok bilang dengan sangat tegas:
pengadaan Chromebook itu sebenarnya adalah kebijakan yang sangat masuk akal secara logika.
Chromebook itu bukan laptop biasa.
Operating system-nya berbasis cloud sekali beli langsung include semuanya, tidak perlu diperbarui terus-menerus.
Harganya jauh lebih terjangkau
dari laptop konvensional.
Dan yang paling penting sistemnya dirancang agar anak tidak bisa nonton video porno, tidak bisa judi online, dan seluruh aktivitas belajar bisa dipantau.
Ahok kasih contoh nyata.
Ada guru di Jawa Barat yang punya empat sertifikat internasional bisa mengajar di level dunia. Ujiannya hanya 10 dolar.
Bayangkan kalau semua guru Indonesia bisa akses sertifikasi seperti itu lewat Chromebook yang terhubung Starlink di daerah terpencil anak di kampung tiba-tiba bisa belajar setara dengan anak di Kanada atau Australia.
Itu bukan mimpi.
Itu sudah bisa dilakukan sekarang dengan teknologi yang ada.
"Bayangin kalau semua anak kita di kampung ada Starlink juga kan.
Anak di kampung kita tiba-tiba belajar setara dengan orang di Kanada atau di Amerika atau di Australia."
Lalu kenapa Ahok merasa ini sengaja dihambat:
Ahok bilang dengan sangat hati-hati karena takut diproses hukum lagi tapi dia tetap bilang:
"Saya pikir ini sengaja."
Logikanya sederhana dan sangat keras.
Kalau rakyat pintar, rakyat kritis, rakyat bisa akses informasi dari mana saja mereka lebih sulit dikuasai.
Lebih sulit dibohongi.
Lebih sulit dimanipulasi menjelang pemilu.
Sistem yang membiarkan rakyat bodoh dan miskin adalah sistem yang menguntungkan mereka yang berkuasa.
Karena rakyat yang bodoh dan miskin lebih mudah disuap dengan sembako, lebih mudah digiring dengan hoaks, lebih mudah dikontrol dengan ketergantungan pada program-program yang terkesan murah hati tapi tidak memberdayakan.
MBG- makan bergizi gratis menurut Ahok adalah contoh dari cara berpikir yang sama.
Daripada kasih rakyat laptop yang bisa membuka pintu dunia, lebih mudah kasih makanan yang habis dimakan dan orang tetap tergantung besok makannya dari mana.
"Kalau saya tanya mau bikin sekolah bagus,
kasih makan bergizi atau rakyat punya laptop yang bisa komunikasi ke mana-mana?"
Yang paling menohok soal survei dan legitimasi:
Ahok tidak berhenti di situ.
Dia lanjutkan dengan sesuatu yang sangat pedas.
Pemerintah melakukan survei.
Rakyat bilang mereka suka makanan gratis.
Lalu itu dijadikan legitimasi untuk program MBG.
Seolah-olah karena rakyat minta ya sudah diberikan.
Tapi Ahok membaliknya:
kalau kamu memberikan sesuatu kepada orang yang tidak pernah tahu bahwa ada pilihan yang jauh lebih baik tentu mereka akan pilih yang ada di depan mata.
Itu bukan preferensi yang genuine.
Itu keterbatasan informasi yang dimanfaatkan sebagai justifikasi.
"Mereka juga pintar.
Dia survei, Pak.
Rakyat suka makanan itu jadi legitimasi."
Dan soal Nadiem yang sekarang dituntut 27 tahun:
Ahok tidak membela Nadiem secara personal.
Tapi dia bilang satu hal yang sangat logis dan sangat sulit dibantah:
Menteri itu tidak pernah menyentuh
anggaran secara langsung.
Menteri membuat kebijakan.
Yang mengeksekusi adalah birokrasi di bawahnya.
Kalau ada yang salah dalam eksekusi pertanyaannya adalah:
apakah menteri yang memerintahkan secara eksplisit?
Apakah ada aliran dana yang bisa dibuktikan masuk ke kantong menteri?
PPATK sudah menjawab:
tidak ada.
Nol aliran dana ke Nadiem dari siapapun.
"Saya pikir ya ini soal profesionalisme.
Menteri kan enggak pernah nyentuh anggaran perantaran kan, kecuali dia nyuruh ya atau terima ya."
Ahok tidak sedang bicara soal
Chromebook sebagai produk.
Dia sedang bicara soal pilihan fundamental sebuah bangsa:
apakah kita mau membangun rakyat yang pintar dan mandiri, atau kita mau mempertahankan sistem di mana rakyat tetap bergantung pada belas kasihan penguasa?
MBG memberikan makan hari ini.
Chromebook bisa mengubah nasib seumur hidup.
Dan ketika kebijakan yang lebih transformatif justru dipersoalkan secara hukum sementara program yang lebih konsumtif dirayakan sebagai prestasi itu bukan kebetulan.
Itu adalah pilihan yang sangat disengaja oleh mereka yang paling diuntungkan dari rakyat yang tetap tidak berdaya.