Gue masih ga berani ngomong di rapat organisasi. Masih takut untuk berpendapat. Jadi banyakan diam dan memperhatikan saja.
Ini terjadi sejak Maret 2020 sampe awal 2026.
Selama 6 tahun saya jadi pengurus di sebuah yayasan yang mengelola rumah duka di Kota Pekanbaru, saya ga berani mengutarakan pendapat saat diajak rapat.
Why?
Alasannya karna saya ga tau apa-apa soal pengelolaan rumah duka, tanah pemakaman, dan krematorium.
Selama 6 tahun menjabat anggota bidang humas, saya cuma handle social media organisasi saja. Posting berita duka. Posting kegiatan bansos. Itu saja.
Ga pernah paham gimana pengelolaan rumah duka secara keseluruhan.
Sudah sering diajak meeting, tapi karna kesibukan, sangat jarang bisa ikutan.
Jadi saat saya bisa hadir, saat pengurus lain membahas terkait rencana ekspansi tanah pemakaman, sarana dan prasarana, aturan/flow untuk perayaan Qing Ming, tata kelola inventory di bursa (peti mati, kertas sembahyang, dupa, dll), dan lainnya, saya banyakan diam dan memperhatikan aja.
Saat saya ga punya ilmunya, saya khawatir, komentar saya tidak relevan dan ga tepat.
Saat saya ga punya ilmunya, saya pakai kesempatan hadir di meeting untuk memahami, belajar dari senior-senior yang sudah lama mengurusi yayasan ini.
Saat saya ga punya ilmunya, saya harus banyak mendengarkan, ga perlu sibuk membuktikan ke dunia kalo saya capable, saya tau.
_
Awal tahun 2026 ini, saya meluangkan waktu khusus untuk memahami alur dan detail administrasi di rumah duka. Banyak sekali informasi yang dulunya saya ga paham, sekarang sudah sangat sangat menguasai.
Saya dan tim di kantor, secara sukarela, juga mengembangkan aplikasi yang bisa handle flow di rumah duka agar jadi lebih mudah. "Ga bertele-tele lagi", kalo kata koordinator lapangan di sana.
Saat ini versi awal aplikasi sudah digunakan.
_
Sejak punya ilmunya, saya mulai berani menyampaikan pandangan saya atas domain yang sedang dibahas di rapat kami. Ga lagi takut. Ga lagi diam. Ga cuma memperhatikan.
_
Punya opini itu gampang. Semua orang bisa "berbunyi". Tapi hindari "asal bunyi".
Tau kapan harus diam, kapan harus bersuara itu penting.
Ga semua hal harus kita komentari.
Ambil waktu untuk ngerti dulu, dalami, baru ambil posisi.
Makes sense ya.
Como 1907 is deeply saddened by the passing of Michael Bambang Hartono.
We extend our sincere condolences to the Hartono family and to all at the Djarum Group.
Under the family’s leadership, the Club has entered a new chapter in its history, and we remember him with gratitude and respect.
Red Bull Sudah Mengumumkan Secara Resmi
Veda Ega Pratama, 17 tahun, asal Gunungkidul menjadi pembalap Indonesia pertama dalam sejarah yang menjadi atlet Red Bull!
🎥: Red Bull
“Dedicated to our beloved journalists in Gaza showing the world the truth.”
Basketball superstar Kyrie Irving has worn a shirt reading “PRESS” at the NBA All-Star Game to honour journalists covering Israel’s genocidal war against Palestinians in Gaza https://t.co/9SAhxbsfWC