NASA akan meluncurkan 4 astronaut ke Bulan pada (jika tidak delay lagi) 1 April 2026 ini dalam misi Artemis II.
Tahukah kamu bahwa biaya Artemis II setara 308 hari MBG?
Narasi romantisasi Bandung tuh udah terlalu lebay untuk merepresentasikan Bandung saat ini.
Kenapa? Ya karena kotanya JELEK.
- Drainase jelek
- Trotoar jelek
- Macet parah
- Transum jelek
- Jalanan jelek
- Penerangan jalan jelek
- Pengelola parkir jelek + pengamen di mana mana
28 tahun idup di Bandung, gatau apa yg improve dari kota ini dari tahun ke tahunnya.
RAFAH UDAH LENYAP...
😭😭😭
Rafah, yang pembangunannya diawali sejak zaman Fir'aun, kini menjadi puing-puing, menghapus jejak ribuan tahun sejarah...
Rafah, kota yang rata dengan tanah di ujung selatan Gaza, udah dibersihkan secara etnis oleh Israhell di depan mata dunia...
Skala kehancuran di Rafah, terlepas dari setiap peringatan, memperjelas bahwa apa yang udah dilakukan Israhell di Gaza adalah sebuah genosida, sebuah upaya untuk membersihkan warga Palestina secara etnis dari tanah mereka, persis seperti yang mereka lakukan pada tahun 1948...
Penghancuran Rafah yang terus berlanjut harus segera dihentikan, karena hal itu gak hanya mengancam peluang warga Palestina untuk kembali, tetapi juga menyembunyikan kejahatan yang udah dilakukan Israhell laknatullah...
Kita gak tauk berapa banyak jenazah yang tertimbun di bawah reruntuhan, kita mungkin gak akan pernah tauk skala sebenarnya dari apa yang udah dilakukan Israhell di Rafah...
Source : FB Greta Thunberg
Entah setan apa yang ngerasuki saya sampe nekat ngeberaniin diri nonton versi “manusia” 5 Centimeter Per Second, adaptasi dari salah satu animasi Jepang paling indah sekaligus paling “jahat” yang pernah saya tonton. Ya, padahal luka dari versinya Makoto Shinkai aja masih belum sembuh, bahkan soundtrack “One More Time, One More Chance” Masayoshi Yamazak juga masih selalu saya simpan di list favorit Spotify. Lalu datanglah live action-nya yang gak disangka ternyata jatuhnya malah lebih bagus.
Meski style-nya berganti dari goresan animasi ke dunia nyata, ini masih film yang sama, sama indahnya, sama pedihnya. Tapi seengaknya kali ini dengan durasi dua kali lipat, narasi Takaki yang gagal move on dari Akari kini yang udah bikin dia jatuh cinta sejak SD punya cerita lebih lengkap, bahkan sebuah closure yang akhirnya bisa bikin saya juga ikutan move on bareng Takaki. Ya, meski adegan akhir ketika kereta lewat sebagai tanda semesta yang konon cuman ngasih kesempatan 0,00003% buat merestui pertemuan mereka kembali itu masih bikin saya sedih.
Yang bikin saya kagum adalah gimana live action ini berhasil nge-handle "kejamnya" cerita asli tanpa kehilangan esensi pedihnya. Di anime, durasi cuma 63 menit bikin semuanya terasa seperti kilas balik cepat yang dingin dan jauh—Takaki cuma diam-diam kejebak di masa lalu, Akari jadi bayangan yang makin samar, dan Kanae cuma jadi episode sampingan. Tapi di sini, hampir 2 jam lebih (sekitar 121-123 menit), sutradara Yoshiyuki Okuyama ngasih kita ruang yang lebih lebar buat karakter-karakternya bernapas.
Takaki (Hokuto Matsumura) gak lagi cuma cowok pendiam yang "nggantung" doang. Kita bisa lihat lebih dalam prosesnya buat move on setelah ditinggal Akari di stasiun kereta yang bikin hatinya ketutup buat orang lain. Gimana dia pacaran, putus, kerja di Tokyo yang sibuk, tapi tetep ada momen-momen di mana Akari (Mitsuki Takahata) gak cuman muncul sekilas, Akari juga dikasih porsi cerita lebih bangak untuk menguatkan karakternya yang berasa misterius di animenya. Ada adegan-adegan baru yang gak ada di anime, termasuk interaksi lebih banyak sama temen kerja, dan beberapa adegan “nyaris” yang bikin gregetan, bahkan seperti yang saya bilang, closure yang lebih jelas soal apa yang sebenarnya terjadi sama Akari setelah bertahun-tahun.
Meski beda gaya, versi live action ini masih cakep banget. Kalau anime Shinkai itu penuh hyper-detailed background dan cahaya dreamy, kali ini berasa lebih grounded. Sakura jatuh di kecepatan 5 cm/detik tetep ada, kereta yang lewat, salju di Tanegashima, bahkan “One more time, One more chance" tetep dipake di momen krusial, semuanya difilmkan dengan komposisi yang mirip homage ke aslinya, tapi pakai lensa real life.
Kalau versi anime-nya itu seperti puisi pendek yang ninggalin luka terbuka yang gak sembuh, live action ini kayak versi extended diary-nya Takaki. Lebih lengkap, lebih berani nunjukin gimana gagalnya move on, tapi juga kasih ruang buat penyembuhan. Buat saya pribadi, ini jadi versi yang bikin saya akhirnya bisa "selesai" sama cerita ini. Luka lama tetep ada, tapi sekarang saya lebih ngerasain sebuah kedamaian. Makoto Shinkai pernah bilang: “cinta bukan tragedi besar, tapi hal kecil yang perlahan hilang” yang hanya jadi memori indah bagian dari diri kita yang bakal kita bawa selamanya.
4,5/5
Sengaja engga nonton animenya dulu karna ingin merasakan "cerita baru" dan mencoba untuk tidak membandingkan sama anime. Eh malah yang "enih" yang terguncang ☺️