Tato bisa dibilang "permanen" 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗮𝗿𝗲𝗻𝗮 𝘁𝗶𝗻𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗺𝗲𝗹𝗲𝗸𝗮𝘁 𝘀𝗲𝗹𝗮𝗺𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗱𝗶 𝗸𝘂𝗹𝗶𝘁, 𝗺𝗲𝗹𝗮𝗶𝗻𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗮𝗿𝗲𝗻𝗮 𝗮𝗱𝗮 𝘀𝗶𝗸𝗹𝘂𝘀 𝗽𝗲𝗿𝗮𝗱𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗸𝗿𝗼𝗻𝗶𝘀 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗲𝗿𝘂𝘀 𝗯𝗲𝗿𝘂𝗹𝗮𝗻𝗴, 𝗺𝗲𝗹𝗶𝗯𝗮𝘁𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗹-𝘀𝗲𝗹 𝗶𝗺𝘂𝗻 𝗱𝗶 𝗯𝗮𝘄𝗮𝗵 𝗸𝘂𝗹𝗶𝘁.
Jadi pas jarum tato menusuk dan melukai kulit, tubuh otomatis membaca ini sebagai cedera plus benda asing yang harus diatasi. Sel-sel imun seperti neutrofil, makrofag, dan sel dendritik pun langsung bergerak untuk "menangkap" partikel pigmen tato yang masuk.
Nah, alasan tinta bisa bertahan puluhan tahun ada di makrofag, sel imun ini punya pola kerja yang disebut capture, release, recapture. Saat pigmen masuk, makrofag beramai-ramai menelannya, karena merupakan benda asing.
Masalahnya, partikel pigmen itu terlalu besar dan terlalu awet untuk benar-benar dicerna. Jadi ketika makrofag yang menelannya akhirnya mati, pigmen tadi terlepas lagi ke jaringan sekitar.
Lalu datang generasi makrofag baru yang menelan pigmen yang sama, mati lagi, lepas lagi, begitu seterusnya tanpa henti.
𝗝𝗮𝗱𝗶 𝗶𝗻𝘁𝗶𝗻𝘆𝗮, 𝘁𝗮𝘁𝗼 "𝗽𝗲𝗿𝗺𝗮𝗻𝗲𝗻" 𝗶𝘁𝘂 𝘀𝗲𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿𝗻𝘆𝗮 𝗵𝗮𝘀𝗶𝗹 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗿𝗲𝗹𝗮𝘆 𝗺𝗮𝗸𝗿𝗼𝗳𝗮𝗴 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗲𝗿𝘂𝘀-𝗺𝗲𝗻𝗲𝗿𝘂𝘀 𝗺𝗲𝗻𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝗽 𝘂𝗹𝗮𝗻𝗴 𝗽𝗶𝗴𝗺𝗲𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶𝗹𝗲𝗽𝗮𝘀 𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗺𝗮𝗸𝗿𝗼𝗳𝗮𝗴 𝘀𝗲𝗯𝗲𝗹𝘂𝗺𝗻𝘆𝗮, 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗮𝗿𝗲𝗻𝗮 𝘁𝗶𝗻𝘁𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗲𝗺𝗽𝗲𝗹 𝘀𝘁𝗮𝘁𝗶𝘀 𝗱𝗶 𝗸𝘂𝗹𝗶𝘁.
Yang menarik, beberapa riset terbaru menemukan bahwa penumpukan pigmen jangka panjang ini berpotensi mengganggu fungsi imun normal, termasuk respons terhadap vaksin tertentu, dan juga dikaitkan dengan peningkatan risiko limfoma (kanker kelenjar getah bening) serta kanker kulit.
Semoga bermanfaat!
Sumber:
Tattoo ink exposure is associated with lymphoma and skin cancers - a Danish study of twins