Doaku hari ini sederhana: Tuhan, berikan aku ketenangan utk menerima yg tak bisa kuubah, mengubah yg bisa aku lakukan, dan berikan kebijaksanaan utk bisa membedakannya.
Akhir-akhir ini sibuk menyesal dan berpikir, “Kalau saya melakukan lebih baik lagi, apakah hasilnya akan berbeda?” Hingga kawan saya menyadarkan, “Jangan lawan Tuhan.” Sesuatu terjadi karena memang sudah seharusnya
Gula di mana-mana. Sulit dihindari, apalagi yang merasakan sugar craving: ingin es teh manis saat panas, cokelat saat stres, es krim saat sedih--yang kesemuanya itu berisiko terhadap kesehatan (jika berlebihan).
Kenapa gula begitu adiktif dan bagaimana kita bisa menyiasatinya?
Hari ini ngobrol panjang dengan teman. Ia bertanya, kalau hidup tak punya ambisi dan ingin jadi biasa saja, boleh ga sih? Kami berdua membahas itu dan sepakat: Jadi medioker itu bikin bahagia, tidak punya beban untuk jadi istimewa atau membuktikan diri pada siapapun. Membebaskan.
bagi yg punya anak, anak asuh/didik, trust me: warisan terbaik yg bisa anda berikan adlh cara berpikir. latih bgmn berpikir, latih bgmn bertanya, dorong dan beranikan dia utk berani menanyakan dan memikirkan *APA SAJA*. biarkan dia menemukan dunianya. dan anda akan abadi di sana.
dan semoga di jaman anak-anak kita, atau cucu-cucu kita nanti, tragedi pemikiran --apalagi kebijakan-- 'doa dan kalung untuk melawan virus' ini tidak lagi terjadi.
Banyak muncul pengandaian atas sebuah masa lalu. "Seandainya, Aku dulu...Aku dengan...Aku tidak...dll", maka pengandaian2 itu hanyalah ucapan hawa nafsu.
Masa depanmu bukanlah masa lalumu. Lihat Pintu-pintuNya ada di depanmu, bukan di belakangmu.