Semakin dewasa, semakin merasa alangkah baiknya tidak perlu dekat dengan siapa-siapa ; laki-laki dan perempuan.
Semakin sedikit teman, semakin sedikit hal-hal yang dapat memantik konflik. Semakin sedikit effort untuk menjaga perasaan orang lain.
Kadang akutuh sadar, Allah jauhkan dari seseorang karena memang dia kurang baik untuk kita.
Tapi apadaya, dari awal sudah ku letakkan ekspektasi terlalu tinggi.
Tapi semenjak aku sasar, aku sudah tidak lagi bercerita. Sudah cukup dengan penghakimannya.
Maka sejak itu, aku tidak pernah mau curhat dengan anak yang pintar. Trauma.
Dari trauma itu, apapun yg sedang ku hadapi seringnya cukup ku pendam sendiri.
"kalo ada apa-apa cerita."
Ngga semua orang bisa terbuka, bisa dengan mudah mengungkapkan semua uneg-unegnya ataupun overthinking mereka. Ngga semua!
Terkadang kepingan masa lalu membuat mereka trauma untuk bercerita.
Dulu aku pernah menceritakan uneg-unegku padanya. Namun, bukan afirmasi positif yg kudapatkan, justru aku malah dihakimi habis-habisan. Sedih kala itu. Tapi mencoba untuk biasa aja.
Hal ini tidak satu dua kali. Bodohnya, aku cukup sering menceritakan keluh kesahku padanya.
Siswa A : "Pak nanti kalo kita udah kelas 5 ngajar 5b aja ya pak!"
Siswa B : "Pokoknya pak dani yang ngajar 5b ya!"
Duh nak, romannya taun depan kalian dibuat satu kelas. Dan pak guru udah capek dulu menghadapi 43 siswa. Huhu