penari malam yang suka berayun ditengah rintik hujan sedu yang buram di tengah malam gerhana bintang kejora yang indah dipandangi dalam diam oleh mata telanjang
saran dari sandiaga ke prabowo
untuk menguatkan rupiah
- meningkatkan ekspor produk produk dalam negeri seperti kopi, komoditas
- pengembangan pariwisata seperti bali dan papua
- kurangi wisata ke luar negeri
- kurangi impor gajelas seperti motor listrik dll
- gaya komunikasi jangan tempramen
apakaah sandia uno yang pernja jadi
wakil presiden dia dulu
bakal di cap antek antek asing juga?
@LambeSahamjja Semua jenis bensin buat mobil pribadi itu ya buat orang "kaya". Mending bikin aturan, subsidi cuma buat motor, mobil angkutan umum, dan mobil angkutan barang. Mobil pribadi tidak usah disubsidi.
Berdasarkan pengalaman pribadi dan kerja sama orang kaya:
- Mereka itu bisa banget ngegaji minimal UMK, tapi ga mereka lakuin, karena alasan masih UMKM dan berprinsip keluarga
- Mulanya ngegaji untuk satu bisnis, tengah jalan akan ditambah tapi gaji sama aja
- Rela keluar uang untuk pihak eksternal, tapi ke staffnya pas-pasan aja
- Kewajiban seprti BPJS ngga didaftarkan
- Bikin perusahaan cangkang atau lain, supaya omset perusahaan utama bisa diakalin
- Mereka beli barang pribadi tapi atas nama perusahaan
- Ketika perusahaan untung, pemilik dan keluarganya bisa liburan minimal ke Bali/Lombok/SG
- Tapi pas rugi karena pencatatan keuangan buruk, karyawan juga kena perampingan tanpa pesangon dan bonus-bonus lain semasa kerja
- Intinya mereka kaya kalo bukan karena eksploitasi sumber daya alam atau manusianya + koneksi dengan yang kita tau siapa dan apa
🇮🇩 BREAKING: Indonesia just played the game perfectly. Signed a security deal with the US, then flew to Moscow and locked in oil, gas, and LPG supplies from Russia.
That's not choosing sides. That's choosing Indonesia.
Energy from one superpower, security from another. While Europe burns itself to punish Russia, Jakarta is quietly securing its own interests from both.
The rest of the Global South is watching and taking notes.
@Tu4nT4nahGangn4 That's fair. But here's the reality — no one is happy dealing with superpowers. The US, China, Russia — they all come with strings. The difference is Indonesia is finally pulling those strings instead of being pulled by them.
CASE UPDATE from @FBIAtlanta: FBI, Indonesian Authorities Take Down Global Phishing Network Behind Millions in Fraud Attempts
In a first-of-its-kind joint cyber investigation, the #FBI Atlanta Field Office and Indonesian law enforcement authorities have dismantled a sophisticated global phishing operation that enabled cybercriminals to steal thousands of victims’ account credentials and attempt more than $20 million in fraud.
Learn more about the investigation at https://t.co/UiVWeK4vms
Guys, ada obrolan antara Ahok dan Mahfud MD yang gue pikir jarang banget kedengarannya dari pejabat atau mantan pejabat Indonesia.
Dan yang bikin gue diem bukan karena dramatis. Tapi karena jujurnya.
Ahok bilang satu hal soal Mahfud yang langsung gue catat.
Pak Mahfud ini walaupun orangnya keras
kalau kita kasih data yang masuk akal, dia terima kok.
Dan di kalimat berikutnya dia langsung kasih kontrasnya
Paling repot sama orang berkuasa yang udah salah tapi ngeyel.
Lu ngomongin dia enggak mau dengar.
Lu mau apa?
Dua kalimat.
Tapi nggak perlu dijelasin panjang-panjang siapa yang dia maksud.
Dan dari situ obrolan mereka masuk ke satu pertanyaan yang lebih besar.
Kenapa hukum di Indonesia tidak pernah benar-benar jalan?
Mahfud jawab dengan satu angka yang gue rasa banyak orang belum tahu.
Kekayaan alam yang selama ini kita bangga-banggain itu cuma 23% dari aset kemajuan suatu bangsa.
Yang 44%? Hukum.
Anda sekaya apapun kalau hukumnya tidak jalan Anda akan ambruk.
Negara di mana pun hanya begitu.
Dan kalau lo lihat negara-negara yang maju
New Zealand, Taiwan, negara-negara Nordik
bukan karena mereka lebih kaya sumber daya.
Tapi karena indeks korupsi mereka bagus dan hukumnya ditegakkan serius.
Lalu Ahok cerita soal enaknya jadi pejabat dan ini yang bikin gue pikir.
Bukan enaknya dalam artian korup.
Tapi enaknya dalam artian bisa beneran bantu orang.
Dia cerita waktu jadi Gubernur DKI.
Ada laporan orang sakit diangkut pakai gerobak.
Dia forward ke grup kesehatan. Langsung ditangani.
Ada yang meninggal dia suruh antar jenazahnya pulang ke Jawa gratis pakai ambulans provinsi.
Ada orang lapor ijazah ditahan karena utang Rp3 juta dia bayarin dari kantong sendiri.
Bahkan waktu di tahanan pun orang masih lapor ke dia. Janda yang kerja ojek, motornya rusak, nggak bisa bayar kos. Dia masih coba bantu.
Paling repot sekarang orang minta bantuan tapi saya udah nggak punya dana taktis.
Dan ini yang paling gue inget dari seluruh obrolannya.
Ahok bilang waktu jadi pejabat, dia pernah dapat untung bisnis 140.000 dolar dalam sebulan.
Tapi senangnya kalah sama waktu dia bisa bantu orang.
Ada nenek-nenek bilang ke gue lu miskin, lu jadi pejabat, enggak mau korupsi, gaji kecil. Gue bilang gue pasti lebih kaya.
Karena gue bantu orang miskin tanpa pakai duit gue sendiri.
Dan gue ke mana-mana dibayarin negara.
Soal Danantara Ahok dan Mahfud juga kasih pandangan yang tidak banyak disuarakan.
Ahok bilang dari awal dia udah usul ke Jokowi: bubarkan Kementerian BUMN.
Buat dia negara nggak perlu BUMN.
Yang perlu adalah sistem royalti yang benar.
Contohnya Freeport.
Dia nggak setuju beli saham 51% karena artinya Indonesia ikut nanggung kerusakan lingkungan puluhan tahun yang sudah terjadi sebelumnya.
Mending duduk anteng, dapat royalti, dan biarkan yang ngerjain yang memang ahlinya.
Dan soal Danantara dia bilang nggak perlu debat panjang. Faktanya sudah bicara sendiri.
Kalau Danantara berhasil kenapa rating kita turun?"
Dan yang paling gue appreciate dari obrolan ini:
Dua orang ini Ahok dan Mahfud sama-sama datang dari latar belakang yang nggak mewah.
Sama-sama besar di lingkungan yang bikin mereka ngerti rasanya jadi orang yang enggak punya pilihan.
Dan keduanya sepakat soal satu hal kalau lu punya kekuasaan, gunakan untuk yang benar.
Kalau nggak punya kekuasaan berteriak.
Kalau nggak bisa berteriak lagi berdoa.
Itu selemah-lemahnya iman.
Someone said
"They are lying in broad daylight that Iran started the war when there are 8 billion witnesses who saw the US and Israel assault Iran.
How then do we believe that Germany started the Second World War?"
My Answer:
No, Germany didn't technically start the Second World War, Hitler was forced to.
It is the exact same scenario with Putin going to Ukraine, the endless provocation of NATO and the US.
The Polish government killed the Germans living in Poland. Hitler liberated them and returned.
Then they started the counter-propaganda. Similar to the one you hear from Rubio & Graham.
Hitler asked for a peace treaty twice and sent his vice president to the UK but they declined.
After Berlin surrendered they bombed the defeated cities which resulted in 8 million Germans dead. Then they raped the young girls.
The same thing the US did in Japan dropping the atomic bomb after the war was technically over.
Japan’s navy was already destroyed. Its cities were already being firebombed, the March 1945 Tokyo firebombing killed over 100,000 people.
A naval blockade had crippled food and fuel supplies.
Japanese officials were seeking ways to surrender through intermediaries, such as the Soviet Union.
Boom, the US dropped the atomic bomb!
The most cruel people on earth.
Peak Capitalist Product Strategy:
- They removed SD card slots to make you pay for cloud storage.
- They removed 3.5mm jacks to make you buy their TWS ear buds.
- They removed chargers in the name of eco-friendly so you pay extra for chargers.
- They removed ports to make you purchase their dongles and hubs.
- They removed repairability for selling replacements.
- They removed ownership to sell their subscriptions.
Max Verstappen on the radio ❤️
"Don't be too disappointed guys, I'm definitely not. We can be proud of our comeback. Thanks everyone. Also Honda for the past years. We ended it in style."