Beberapa hari ini aku kok menyadari pikiranku banyak diisi hal-hal negatif yak, kaya iri sama pencapaian orang lain. Yo, Kiky iri itu tak baik. Ingatlah, kalau lihat orang lain sukses, congratulate them and ask them how to be success as well 🤣🤣🤣
Subject ini tuh menarik banget dan aku cuman dapat 76 untuk mid semester dan 78 untuk final ini. Ada peningkatan sih. Tapi, tetap saja, aku kok merasa aku bodoh sekali karena aim-ku adalah 80.
Hhh... aku perlu waktu untuk menerima betapa jeleknya nilaiku dulu.
Nilaiku keluar untuk subject ini dan astagfirullah, sulit banget ya dapat nilai bagus. Kaya, aku struggling untuk tidak mencap diriku sebagai orang yang gagal tiap lihat nilaiku 😅
I'm learning, wajar kalau nggak bisa, wajar kalau nggak pinter.s
Kalian masih sabar? Kami udah #MarahLuarBiasa ‼️
Beragam peristiwa belakangan ini udah nggak masuk akal untuk dimaklumi. Kami mau bergerak! Kalian ikut nggak?
Komen di bawah dengan #AdiliRezimJokowi jika ingin ikut dan bergabunglah dalam #MahkamahRakyatLuarBiasa
Kupikir salah satu alasan aku bisa bertahan menghadapi rasa tidak enak itu adalah karena aku ingat why-nya. Alasan kenapa aku memilih lanjut pendidikan ke sini dengan beasiswa ini.
Itu dan beberapa coping mechanism lain kaya makanan manis, pilates dan yoga, serta buku.
Ada ketakutan besar juga kalau tiba-tiba kita ingin menunjukkan sisi diri kita yang tidak fit in dengan pemberi beasiswa atau bahkan keputusan pemerintah negara tempat kita belajar. Pertanyaan kaya, gimana nanti kalau visaku di cabut? Gimana kalau di deportasi? Hal-hal gitu.
Kadang untuk fit ini, kita harus menahan/menyembunyikan bagian diri kita yang tidak fit. Selama tidak bertentangan sih ok aja ya. Tapi, kalau sudah menyentuh aspek fundamental dalam diri kita, rasanya tuh ga enak banget woyyyy.
Ini aku belum nyentuh aspek lain dari beasiswanya sendiri yak. I mean, aku pun pernah bilang, "kita harus mencoba fit dengan apa yang pemberi beasiswa mau".
Ini membuatku sebel dan kesel juga sebenernya, karena ada relasi kuasa yang kuat di situ untuk membuat diri kita fit.
Secara pribadi syukurnya aku nggak pernah sampai terkenal itu. Jadi, masih punya waktu untuk berefleksi.
Sebagai penonton para influencer ini, aku melihat betapa hidup mereka seperti mulus sekali. Tapi, ketika aku menjalaninya, nggak woy, nggak mulus sama sekali.
Furthermore, aku juga kecewa sama kampusku karena berbagai faktor ya: mulai dari sikapnya terhadap apa yang terjadi di Palestina sampai pengelolaan keuangannya.
Makanya aku juga males gitu lo ngebranding diriku sebagai mahasiswa di kampus ini 🤣
Aku jadi takut membagikan hal-hal yang menggembirakan karena khawatir justru orang yang nonton nggak dapat full story. Aku takut orang ngira kuliah ke luar negeri apalagi di kampus top itu happy ending.
Ya happy-nya ada, tapi stress, takut, kecewa, semuanya juga ada.
"Aku dapat kesempatan ini dan aku ingin menginspirasi banyak orang Indonesia lainnya agar dapat kesempatan ini juga," kira-kira mungkin begitu niat awalnya. Karena aku begitu.
Di tengah jalan, bisa jadi lupa atau mabuk kepayang karena tiba-tiba terkenal.
Tbh, ini membuatku agak khawatir. Fenomena jadi influencer atau menjadikan title sebagai awardee suatu beasiswa tertentu ini juga sering kulihat di kalangan teman-temanku, meski mungkin nggak se-viral DN.
Sejujurnya, beberapa video tiktokku pun sempat viral pas bahas beasiswa
Terus karena aku khawatir kalau aku menjadikan fase hidupku yang menjadi awardee beasiswa ini sebagai personalitasku, aku langsung buru-buru mengunci akun Instagramku (sekarang sudah nggak sih).
Aku, dan banyak influencer di luar sana, mungkin pada awalnya punya niat bagus