BREAKING📝
Kalo lu lajang dan tinggal
-di Jakarta dan income <12jt/bulan; atau
-di luar Jakarta dan income <8,5jt/bulan,
maka lu adalah Masyarakat Berpenghasilan Rendah
Saatnya kita dorong kenaikan PTKP.
PTKP 12jt untuk WP Jakart dan 8,5 untuk WP non-JKT boljug juga😌
Giliran buat program jualan rumah batas masyarakat penghasilan rendah ditinggi2in.
giliran bayar pajak, PTKP direndah2in👀
cherry-picking🍒
Our president, leader of the Republic of Indonesia, watches the poor eat their meal.
He does the watching from a lavish setting, his own plate stacked with expensive food.
Poverty as an evening's entertainment.
Gerbong perempuan di belakang itu bukan policy failure. You know what is?
Negara gagal mendidik laki-laki to not be a huge misogynistic perverted piece of shit is a policy failure,
Negara ga menyelesaikan proyek double track disaat KAI punya Argo Bromo yang merupakan salah satu kereta jarak jauh tercepat mereka is a policy failure,
KAI sebagai pemilik rel kalah sama preman yang menolak adanya rambu/penghalang resmi is a policy failure,
Preman dibiarkan dan dipelihara oleh negara untuk jadi attack dog mereka terhadap kelompok oposisi / kalangan politik/agama tertentu is a policy failure,
Perusahaan taksi punya policy yang ga manusiawi kepada driver mereka, ga ngelatih dengan baik, dan mengancam denda kalau diderek bukan oleh derek perushaan is a policy failure,
Tata kota dan pengembangan kota satelit Jakarta yang tidak beorientasi pada transit is a policy failure.
Let's not try to change our food names into descriptive words for English, okay?
If they can make us struggling to spell "baguette" "croissant" or "hors d'oeuvres", then sure, let them struggling to call it "rawon".
*me nyelipin masalah kesetaraan gender di dalam penjelasan materi sosiologi tentang mobilitas sosial*
Murid cowok: “pak berarti kalau ada kesetaraan gender gitu kita boleh nabok cewek dong”
Me: “dek, semisal gaada kesetaraan gender pun kamu tiba2 nabok sesama cowok tanpa sebab jelas ya salah itu namanya”
Murid cowok: “iya juga ya pak”
Me: “kenapa sih beberapa di antara kalian kalau ngomongin masalah kesetaraan gender selalu yang diperhatikan masalah berantem sama cewek, cewek harus ngerasain jadi kuli, atau boleh bales nabok cewek, kesetaraan gender itu fokusnya dimana cewek dan cowok punya kesempatan yang sama di berbagai bidang, di kesehatan, pendidikan, kesempatan kerja, pemilihan nasib dll, jangan selalu yang dibicarakan masalah anarkisnya. Ini kak kakak membicarakan mobilitas sosial, jadi maksud kakak supaya tanpa ada diskiriminasi gender, seorang perempuan seharusnya bisa bermobilitas sosial vertikal naik tanpa halangan yang ga perlu”
@audreysunburn SURAT BUAT MAMA RETI
MAMA SAYA PERGI DULU
MAMA RELAKAN SAYA PERGI (MENINGGAL)
JANGAN MENANGIS YA MAMA
MAMA SAYA PERGI (MENINGGAL)
TIDAK PERLU MAMA MENANGIS DAN MENCARI ATAU MERINDUKAN SAYA
SELAMAT TINGGAL MAMA
Ada anak kecil di kampung saya, Ngada, Flores, meninggal bunuh diri. Anaknya dikenal cerdas dan ramah di sekolah. Dia meninggal karena putus asa. Sebelum pergi, dia cuma minta satu ke mamanya.
'Mama, saya minta buku dan pena'
Mamanya ga bs kasi dua hal itu lantaran kondisi ekonomi memburuk.
Mungkin buat penguasa dan media massa, anak ini cuma satu angka di dalam statistik. Bahkan bs jadi mudah dilupakan.
Tapi buat saya, anak ini jadi bukti nyata bahwa kita semua gagal bukan karena pengaruh asing. Kebanyakan kita semua gagal karena kita ga mau berbenah. Kita tetap memilih pemimpin yg itu2 aja. Kita tetap mempertahankan institusi yg diisi oleh orang2 itu aja.
Kita sibuk mencari kesalahan org lain, tp kita ga pernah mau sama-sama berjuang sebagai anak bangsa.
Pak Presiden, bapak selalu bilang kalo Bapak adalah presiden semua orang. Saya gak minta Bapak jadi NABI.
Saya minta bapak tidak membiarkan sistem yg uda bobrok ini semakin bobrok.
Belum pernah sesakit hati ini nulis postingan di media sosial.
Tau ngak kenapa DPR berbusa2 ngejual LGBT di RUU Penyiaran ini???
Supaya publik setuju & ngerestuin ini, padahal asal lu tau semua yang poin C itu lebih menyeramkan.
Jurnalistik Investigasi yang lakukan indepth stories kayak Tempo, Tirto, BBC, Kompas Narasi, dsb bisa di bredel.
PSA: if someone ever edits your photo with Al or Photoshop to create a nude photo, go to https://t.co/jjw3PScNjH and submit the original photo & the edited photo. they’ll take it down. If you’re a minor go to https://t.co/hxC8FdY5M2 or https://t.co/ttZuaSKtET
“Can I bring my baby to the interview?”
The message came in at 11 PM:
“Hi, I have an interview with you tomorrow at 2 PM. My childcare fell through. Can I bring my 8-month-old? I understand if you need to reschedule.”
Old me would have rescheduled.
Unprofessional. Distraction. Red flag.
New me replied:
“Absolutely. See you tomorrow.”
She showed up with her baby on her hip.
She apologized three times before even sitting down.
Ten minutes in, the baby started crying.
She tried to soothe him while answering questions.
She apologized again.
I stopped the interview and said:
“Hey. You’re managing a fussy baby, answering complex questions, and staying calm under pressure. That’s literally the job. Handling chaos while staying professional. You’re already proving you can do it.”
Her eyes filled with tears.
We hired her.
She’s been with us for a year now.
The most reliable team member we have.
Why?
Because when you’re used to handling a screaming infant at 3 AM and still showing up to work the next day, workplace stress feels like nothing.
Working parents, especially mothers, are some of the most organized, efficient, and resilient people you’ll ever hire.
Yet we lose them because our hiring processes are built for people with zero caregiving responsibilities.
If your interview process can’t accommodate a parent facing a childcare issue, you’re not filtering for professionalism.
You’re filtering for privilege.
Menurut saya dengan cctv sejelas ini
Kalau Polisi tidak bisa menangkap, kita patut menduga, ada pembiaran dan ini pelanggaran serius pada hak warga negara
DPR harus memanggil Kapolri dan meminta penjelasan