Keluarga besar PSS Sleman mengucapkan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya Fajar Listiyantara, mantan pemain luar biasa untuk PSS Sleman.
Terima kasih atas dedikasi, perjuangan, nilai-nilai serta loyalitas yang telah diberikan dan tanamkan untuk PSS Sleman.
Semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan.
Selamat jalan, 𝐥𝐞𝐠𝐞𝐧𝐝𝐚.
#PSS #COSE
Romo Magnis hendak cerita kepada kami,
sembari ditemani air putih.
Silakan Romo kita ngobrolnya sembari makan siang, saya menawari beliau nasi kuning dan snack
"Sudah lama saya tidak makan siang", ujarnya.
Bagaimana kabarnya Romo? salah satu teman ngobrol bertanya.
"Ya puji syukur saya masih hidup"
Hahaha, tentu saja kami tertawa.
Lalu beliau bercerita. Siang itu romo mengnakan batik sederhana, lengan pendek. Arloji di tangan kirinya, dan tongkat yang diletakkan dekat dirinya.
"Falsafah Jawa itu mengutamakan keselarasan".
Bagaimana itu maksudnya Romo?
"Dalam pewayangan, misalnya ada kaum ksatria yang baik budi, seperti Pendowo. Juga ada kaum Kurowo yang dikisahkan memiliki sifat jahat. Dalam kisah lain ada juga kaum Raksasa. Rahwana itu buruk, tapi Kumbokarno yang selalu tidur, raksasa ini malah membela kebenaran. Padahal dia adik Rahwana."
Romo dengan perlahan, suaranya pelan, bicara soal pewayangan. Kami menyimak dengan seksama.
"Jangan lupakan dalam pewayangan Jawa, ada tokoh penting yang bukan dari kalangan ksatria maupun raksasa, atau dewa dewa. tokoh ini adalah wujud dari rakyat jelata. Namanya Punakawan."
Kami terus menyimak. Romo lebih senang jika yang bertanya ada di sisi kiri beliau. Telinganya masih mendengar dengan baik dibantu alat. Untuk telinga kanan, katanya sudah sama sekali tak mendengar.
"Jangan pakai loud speaker, saya justru sulit mencerna"
Kami pun akhirnya menggunakan lisan ala kadarnya yang volumenya kami besarkan, tanpa pelantang suara, ketika bertanya atau menanggapi beliau.
"Saya sedih. Dulu saya diberi wejangan oleh senior saya di Jesuit: tugas kamu sebagai pastor adalah: dengar, dengar, dan dengar jemaat kamu. Sekarang saya malah sulit dengar. Lebih mudah bicara, bicara, dan bicara."
Kembali ke soal punakawan, Romo meneruskan:
"Punakawan pun demikian, ada sisi gelap dan terang. Wujud rakyat yang lucu, kadang bicaranya ngelantur, tapi jujur. Gareng, Petruk, dan terutama Semar. Di sisi gelap ada togog, misalnya."
"Nah hebatnya punakawan adalah, para ksatria menganggap punakawan itu penting, Mereka selalu didengar keluh kesahnya, lontaran omongannya. bahkan Semar dianggap bagian dari Punakawan yang bisa memberikan nasehat kepada para Ksatria".
Kami angguk-angguk mendengar cerita beliau,
"Saya ingat, kalau tidak salah tahun 1997, saya diajak Aristides Katoppo, dari Sinar Harapan, menjenguk sahabat kami Pak Boediarto. Rumahnya hanya beberapa meter dari candi Borobudur. Saya berangkat ke Adisucipto, lalu naik taksi ke Magelang.
Malam itu ada acara ruwatan. Pak Boedi sakit keras dan kami berkumpul untuk menyaksikan acara ruwatan sekaligus pertunjukkan wayang dengan lakon Semar Kuning".
Lanjutnya,
"Saya kaget ternyata disana berkumpul lebih dari 30 tokoh yang berseberangan dengan Soeharto. Saya kenal betul sosok-sosok ini. Semuanya kok kumpul disini? Pak Boedi sendiri sakit dan terbaring di kamarnya. Saya hadir untuk menjenguk, ruwatan, melihat lakon Semar Kuning, dan tentu saja berkesempatan saling ngobrol membicarakan banyak hal, termasuk kondisi negara ini."
"Nah ini ada hal menarik..."
Kami pun terus mendengarkan beliau yang suaranya makin sayup sayup.
"Beberapa bulan kemudian, saya diberi tahu oleh Aristides. Tau tidak beberapa bulan lalu kita diundang ke Rumah Boedi? katanya. Ya tentu saja, kan bersama kamu, saya jawab. Tahu, siapa yang membiayai?
Untuk itu saya tidak tahu sama sekali
Lalu Aristides beritahu saya: Itu semua, kita kumpul di rumah Pak Boedi, kita makan malam, ada ruwatan, pertunjukkan wayang, semuanya dibiayai oleh Pak Harto..."
Wah tentu saja saya kaget. Bagaimana mungkin kami yang sering berseberangan dengan Pak Harto, lebih banyak mengkritik dia, apalagi kumpul semua yang oposisi ini, malah dibiayai.
itulah kompleknya manusia Jawa"
Saya yang takzim mendengarkan tentu saja ikut kaget.
Saya lalu bertanya, bagaimana dengan Prabowo Romo?
Singkat, padat dan jelas dijawab beliau.
"Dia sama dengan yang dialami saya"
Apa Romo?
"Sulit mendengar.."
Hobinya seremonial dan kasi sambutan.
Kalo dikritik, tersinggungan lalu gas ke wa pribadi menuju doxxing.
Kerja nomer dua, nama baik adalah utama
Kalo melaju pake kendaraan, harus dikasi jalan
Kalo berobat harus dikasi spot terdepan.
👍
Top KOE
SING LIYANE BENG2
Negaramu telah kehilangan masa depan saat aparat penegak hukum korup tanpa henti. Negaramu telah usai saat mereka saling melindungi atas nama hukum. Dan, sebenarnya, kamu tak lagi memiliki negara saat hukum itu hanya berlaku buat rakyat kecil yang lemah.
Yang satu sukanya pegang mic nyanyi gak jelas
Yang satu sukanya dimanja bapaknya
Masa kecilku dihibur mereka dalam versi kartun, masa dewasaku diobrak-abrik mereka dalam versi live action.
Pukimak betul kalian ini. Berkelahi dan saling mempermalukan satu sama kalian lalu cipokan didepan kami. Besok-besok jangan lagi gunakan kalimat ‘Kita ini negara hukum’. Kalian menunjukkan ini bukan negara hukum tp ini negara milik nenek klean.
Keadaan restonya sengaja dicat jadul untuk keperluan estetika, kata tulisan di tembok.
📍Xian Smoked Duck
Tapi beneran emang menambah vibe sih. Rame sangat. Enak juga. Pelayanan cepat sekali. Cuman parkirannya aja terbatas, apalagi buat mobil. #jogjamakanterus
Ada akun instagram yang spill barang mahal pejabat, bukannya diselidiki asal usul barangnya malah akun instagramnya yang dihilangkan. Ada pegawai yang bocorin surat perjalanan dinas pejabat bawa keluarga, malah pegawainya yang dimutasi. Aneh memang, jika tiap ada alarm bencana, yang dihancurkan malah alarmnya.
April, 13 tahun yang lalu, Andie Peci dibacok dan dipukuli sekitar 12 orang berbadan besar.
Peci dianiaya beberapa saat setelah ia mengikuti aksi damai mendukung Persebaya Surabaya 1927 yang tak diakui eksistensinya oleh PSSI.
Karena sepak bola, pria2 beringas itu hendak menculik Peci. Namun Peci menolak, melawan, dan menangkis sabetan2 celurit pelaku. Tangan Peci berdarah, beberapa bagian tubuhnya lebam. Di rumah sakit, Peci menerima 29 jahitan pada tangannya.
Teror itu tidak pernah menghentikan Peci. Dia bersuara semakin lantang, semakin aktif turun ke jalan. Sampai hari ini, para pelaku pembacokan itu tidak pernah terungkap. Siapa otak di balik penyiksaan itu tidak pernah tersingkap.
Hari ini, Peci meninggal dunia, meninggalkan jejak kenangan berupa keberanian dan idealisme pilih tanding.
Peci, sebuah kehormatan bisa mengenalmu. Selamat jalan. Semoga mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT.
Innalillahi wa innailaihi rojiun.
Selamat jalan Cak Andie “Peci” Kristianto. Nama Anda akan abadi bagi kami, keluarga besar Persebaya.
Teriakan Anda, orasi Anda, keberanian Anda, menjadi salah satu energi utama, sehingga Persebaya kembali ke kancah sepak bola tanah air.
Kami yakin, setiap langkah Persebaya, kebaikan-kebaikan yang mengiringi perjalanan Green Force, akan senantiasa menjadi amal jariyah Cak Andie.
Sugeng tindak Cak Andie, suwargi langgeng, amin….
karena @Cloudflare pernah narik kabel dari Singapore ke Jakarta di palak dengan total 43x lebih mahal dari narik kabel di Amerika Latin atau eropa
43x lebih mahal, yg bener aja 🤧 @TelkomIndonesia@kemkomdigi
Turut menyebarluaskan:
*Pernyataan Sikap Jogja Last Friday Ride (JLFR)*
Yang ironis hari ini bukan sekadar perdebatan tentang sebuah kegiatan bersepeda, melainkan cara kita memandang ruang jalan.
Ketika kemacetan yang didominasi kendaraan bermotor terjadi hampir setiap hari, kita perlahan menganggapnya sebagai sesuatu yang lumrah. Ruang publik dipenuhi mesin, kebisingan, polusi, dan antrean panjang, namun semua itu diterima sebagai konsekuensi yang "normal".
Sebaliknya, ketika jalan sesaat dihadirkan untuk aktivitas manusia—bersepeda, berjalan kaki, atau berkumpul dalam sebuah kegiatan komunitas—muncul anggapan bahwa hal tersebut adalah gangguan yang harus segera disingkirkan.
Inilah ironi yang patut kita renungkan bersama.
Jogja Last Friday Ride sejak awal tidak pernah lahir sebagai ajang untuk menguasai jalan ataupun menghalangi masyarakat beraktivitas. JLFR lahir sebagai ruang bersama untuk merayakan budaya bersepeda, mengingatkan bahwa jalan adalah ruang publik yang seharusnya dapat dinikmati oleh semua pengguna jalan secara adil, aman, dan saling menghormati.
Kami menyadari bahwa setiap kegiatan di ruang publik harus diselenggarakan secara tertib, menghormati aturan, serta meminimalkan dampak terhadap masyarakat. Apabila terdapat kekurangan dalam pelaksanaannya, kami terbuka terhadap evaluasi dan perbaikan.
Namun demikian, kami juga berharap pendekatan yang dilakukan kepada komunitas dilakukan secara proporsional, humanis, dan mengedepankan dialog. Keselamatan, ketertiban, dan penghormatan terhadap hukum adalah tujuan bersama, bukan alasan untuk menghilangkan ruang ekspresi warga negara yang dilakukan secara damai.
Peristiwa ini hendaknya menjadi momentum bagi semua pihak, komunitas, pemerintah, aparat, dan masyarakat—untuk kembali berdialog mengenai bagaimana ruang jalan dikelola secara lebih adil. Sebab kota yang baik bukanlah kota yang hanya memberi ruang kepada kendaraan bermotor, melainkan kota yang juga memberi tempat bagi manusia.
Kami percaya bahwa budaya berlalu lintas tidak dibangun melalui saling menyalahkan, melainkan melalui saling memahami, saling menghormati, dan bersama-sama menciptakan ruang publik yang aman, inklusif, dan berkeadilan.
Karena pada akhirnya, jalan bukan hanya tempat untuk berpindah, tetapi juga ruang hidup bersama.
https://t.co/nRkBqpXUOS