Banyak yang mempersoalkan hantu dalam film Jumbo, fiksi yang dinilai menyesatkan.
Fiksi, dalam hal ini, bukan karangan ngawur, tapi taman bermain bagi imajinasi anak—keberanian untuk berpikir. Dan itu adalah hak anak untuk bertanya.
Sebuah esai oleh @zenrs.
| Narasi
Jumbo mecahin rekor sebagai film animasi Indonesia dengan penonton terbanyak sepanjang masa, dan sesuai pribahasa; semakin tinggi pohon, semakin kencang angin menerpa.
Angin-angin ini berbentuk kritik orang tua yang mulai mempertanyakan kehadiran hantu dalam film anak-anak.
Bahkan ada yang bilang ini film musyrik.
Angle kritik ini dipakai banyak orang tua yang lelah menjelaskan ke anak bahwa orang yang sudah meninggal itu tidak akan bisa muncul lagi sebagai arwah.
Pertama, kita sepakat prodak storytelling itu tidak ada yang sempurna dan selalu ada ruang untuk tumbuh. Ngejar sempurna mah mungkin Jumbo ampe 50 tahun lagi juga belom tayang.
Kedua, dalam film, selalu ada angle yang bisa dikomentari; plot, adegan-adegan yang ingin menyisipkan nilai baru, kualitas visual, audio, dsb.
Jadi, sah-sah aja kalau ada yang datang dengan argumen ‘hantu di dalam film anak itu ngajarin musrik!’
Tapi kalau mau ambil angle itu, kita harus fair dengan produk storytelling yang pernah ada dan punya muatan serupa; Lion King ada arwah bapaknya dateng lewat awan, Coco sebagian besar plotnya di alam barzah, Casper cerita tentang hantu baik, Tuyul dan Mbak Yul tentang tuyul insyaf.
Kalau kita selalu merasa produk storytelling ini adalah masalah, jangan-jangan kitalah yang bermasalah dalam menyerap sebuah konsep dan sulit mengkomunikasikannya ke anak. Kesalahan cara berpikir punya dampak lebih serius karena sifatnya turun temurun.
Emosi anak itu campur aduk, jadi kalau misal Film Coco menggambarkan fakta bahwa suatu hari kita akan kehilangan keluarga, anak akan merasakan takut akan kehilangan, lalu berharap bisa bertemu dengan orang tuanya dengan menembus alam barzah lewat genjrengan gitar.
Buat gue, Ini adalah emosi yang perlu divalidasi, bukan dicut dengan langsung menjejali anak soal kuliah hidup setelah kematian.
Sisi luar biasa dari produk storytelling adalah mereka menyampaikan kebenaran, dengan cara-cara yang barangkali gak mungkin terjadi di dunia nyata, sehingga kita berani untuk punya harapan sekali lagi.
Mainan gak bakal hidup kayak di film Toy Story, tapi merasa tergantikan akan dialami semua orang seperti Woody yang takut digantikan kehadiran Buzz.
Ikan gak bakal nyari anaknya kayak di film Nemo, tapi keluar dari zona nyaman karena suatu insiden akan dialami semua orang seperti Marlin yang harus melintasi samudra demi Nemo.
@tanyakanrl Pernah bgni dulu dan kambuh wktu kecil. Dulu suntik kalk gtu. Skg baru ngeh kalau Kalk itu kalsium. Msh blm nemu jawaban hubungan biduran bs smbuh sm kalk. Cuma dulu aku bisa smbuh alhamdulillah abis suntik itu. Smoga membantu dan get well soon nder
@tanyarlfes Bodoamat tradisi culture apalah itu.
Tapi rentetan masalah seks pranikah itu banyak bgt
Aku bikin ginian supaya orang yg belum tau jadi tau, apa aja dampak yg akan mereka hadapi.
Harapannya praktek seperti ini akan berkurang, tapi kalo mereka masih aja melakukannya, yaudah resiko
Satu2nya hal yg gk bsa gw terima dri lgbt cuma ini. Propaganda / mengajarkan dan memperihatkan kepada anak2 kecil bahwa lgbt itu gpp, boleh saja kalau laki2 menikah dengan laki2 afau perempuan menikah dengan perempuan.
Anak kecil tdk perlu diperkenalkan sprti ini.