Inget selama lo masih karyawan you’ve no right to call anyone miskin. Just because you can afford the lifestyle that most people can only dream about it doesn’t mean ur better. Remember where you came from if god can give you an abundance of blessings He can take it back
Udah bener dr tirta ini kurang diterima warga Merseyside, ampe hampir digebuk fans emyu ama everton. Ngaku fans LFC garis keras tapi klasis, sedangkan Liverpool sendiri ketara dengan nilai2 kirinya
Ya silakan aja klen hamburkan uang buat memenuhi lifestyle olahragamu itu.
Yang bahayanya adalah menjadikan olahraga tersebut menjadi kegiatan eksklusif dan bikin paradigma "mau olahraga itu mahal". Jadinya malah adu gengsi.
Yang ada bukan mengajak sebanyak orang berolahraga, malah bikin kelas sosial.
Baru banget ngeliat dua queerphobes debat krn yg satu bilang “LGBTQ+ harus dimusnahkan!!” dan yg satu ngebantah dengan “mereka semua berhak sembuh dan harus direhabilitasi agar normal.”
haelah organ banyak aki2 sangean fantasy bidadari perawan pecinta loli (anak2 di bawah 15 tahun) or possibly rapist sok2an mau buat regulasi kriminalisasi minoritas
"Some Indonesians are very stupid. They never think. They only want the Jomok memes, and the dramok, and the slots, and the pinjol... they'll never think. No values. No Ethics. No Conscience. No Class Consciousness. No timeout to evaluate whether I've done right or wrong."
Gemes liat orang2 pada pake kata "boti" buat merujuk ke gay dan diucapkan secara derogatory.
1. Bottom itu hanya merujuk pada role di ranjang
2. Gay juga ada yang top, side or versatile
Dan root cause penggunaan kata boti sebagai ejekan adalah apa2 teman2? Betul misoginis.
pernah ga, ada org main basket di lapangan umum dinyinyirin?
pernah ga, ada org main sepakbola/futsal di lapangan umum dinyinyirin?
pernah ga, ada orang lari di running track umum dinyinyirin?
yang dinyinyirin bukan olahraganya, tapi eksklusivitasnya.
Dari segala olahraga elit nan klasis paling benci banget sama olahraga golf : perlu lahan luas, ngilangin biodiversitas serangga, seksis dan mengobjektifikasi perempuan.
Ga da skill GPP, yg penting duit
Bukan:
Hate seeing people exercise.
Tapi:
Just hate seeing rich people.
Karena kalau yang diposting itu jogging keliling kompleks, lari CFD, atau futsal tiap Jumat, hampir gak ada yang ribut.
Orang bereaksi bukan karena aktivitasnya.
Tapi simbol yang ikut nempel di aktivitas itu.
Pilates.
Padel.
Membership jutaan.
Outfit olahraga belasan juta.
Brunch setelah workout.
Story estetik jam 10 pagi di hari kerja.
Olahraganya cuma 1 jam.
Lifestyle-nya yang dipamerin seharian.
Dan ketika sesuatu terasa seperti penanda kelas sosial, komentar sinis pasti lebih gampang muncul.
Lucunya, kalau besok pilates bisa dilakukan gratis di lapangan dekat rumah, kemungkinan besar separuh nyinyirnya langsung hilang.
Jadi masalahnya bukan exercise.
Tapi privilege yang kelihatan lewat exercise.
Semua olahraga itu murah, dan aksesibel. Tapi tidak ketika kapitalis datang, dibuat menjadi eksklusif produk turunannya, sehingga menciptakan ruang pemisah kelas, mana yang mampu olahraga ini dan mana yg tidak mampu.
- pake terms klasis kaya ‘kampungan’ dan ‘mental miskin’ buat call out orang yang ngelanggar peraturan, ✅
- ngejek pemerintah pake kaum marjinal (kayak penyandang disabilitas) sebagai punchline. ✅
Ini bahaya banget, SEMUA orang bisa kena dampaknya bukan cuma LGBT kalau bener-bener ada. Buka mata dah coba.
Ini malah bisa jadi hukum karet yang bisa jadi senjata untuk semua. Undang-undang yang dirancang untuk menargetkan satu kelompok minoritas jarang berhenti di situ. Bakal selalu melebar menjadi alat kontrol terhadap siapa saja yang dianggap tidak normal atau mengganggu. Mirip pasal-pasal karet UU ITE.
Identifikasi juga mustahil, coba dah gimana caranya?
Bagaimana negara mendefinisikan LGBT? Apakah dengan penampilan, koleksi seni, like di medsos, atau sekadar fitnah tetangga? Kalau aparat dikasih kekuasaan longgar, yang kena bukan cuma LGBT, tapi siapa saja yang feminine, tomboy, single lama, atau punya musuh.
Potensi penyalahgunaan aparat itu gede. Di negara di mana aparat masih suka sewenang-wenang, menambah pasal pidana subjektif sama saja memberi peluru kosong yang bisa ditembakkan ke siapa saja. Hari ini LGBT, besok bisa kamu yang suka seni seperti tari, besoknya temenmu yang dianggap terlalu dekat sama temen, atau tongkrongan kena fitnah.
Ini bukan perlindungan masyarakat, tapi perluasan kekuasaan negara ke ranah pribadi.
Hukum yang berdasarkan moralitas mayoritas tanpa batas yang jelas adalah undangan terbuka untuk tirani terhadap kehidupan pribadi semua warga.
communism will have cool, futuristic cities AND ALSO maintain vast areas of greenery, parks, and preserves. the town-country distinction is overcome through fully integrating formerly "rural" areas into international supply chains/planning networks... 1/2