Ternyata laparnya orang-orang kaya dalam episode mbg ini, jauh lebih keras raungannya dibanding suara anak-anak yang dikatakan jadi tujuan utama. Akhirnya, kita memang patut bertanya ulang, siapa sebenarnya yang paling diuntungkan.
@cobamerem@tanyarlfes beda rumah sih, klo ibu dulu di rumah nenek, kayanya dibawa ke bidan. klo aku sih cuma ditanyain aja soalnya ga luka ato gimana-gimana, sih 😭
@bakonejgung kak kalo kamu hoki, bisa dpt kip-k susulan, beberapa orang di kelasku gitu (angkatan 23), cuma ini pun kayanya ga pasti deh, univ medioker ini emg susah banget masalah banding ukt, semangat yaa, semoga dpt jalan keluar
"Kenapa Prabowo bisa terpilih?"
Kalo menurut pendapat saya, sistem politik kita memang ter-desain, sadar atau tidak, untuk mengeksploitasi kondisi mayoritas rakyatnya sendiri.
Mayoritas pemilih Indonesia, on a day to day basis hidup dalam survival mode. Suka tidak suka, secara biologis bikin masyarakat lebih memprioritaskan reward jangka pendek dan bukan analisa kebijakan 5 tahun ke depan. Boro-boro mikirin kebijakan yang ditawarkan 5 tahun kedepan, buat besok makan aja masih banyak banget yang bingung. Jadi ya... gausah heran kalo di lingkungan sekitar masih banyak yang jualin daging qurban yang didapet dari DKM Mesjid sekitar.
Hal kaya gini juga diperparah dengan para politisi paham betul soal ini.
Alih-alih memperbaiki kondisi tersebut, mereka justru memakainya sebagai strategi. Kek kampanye di TikTok yang cheerful misalnya, joget-joget, bagi-bagi sembako, bansos yang timing-nya selalu menjelang pemilu. Semuanya ya... soal kalkulasi.
Hasilnya? Pemilih mengukur dampak dari apa yang bisa dilihat langsung dengan mata.
Let me tell you something. I have a relative yang sempet kutanya kenapa milih "beliau". Jawabannya? "Ya karena dia ngasih duit. Aku butuh. Yang lain enggak." a bit Ironic, don't you think?
Pada akhirnya, pilihan ditentukan bukan dari kebijakan yang butuh waktu untuk dirasakan. Yang sialnya, sistem kaya gini tuh gak punya insentif untuk mengubah itu.
Semuanya kembali kepada akses terhadap edukasi soal ini. Salah satu cara yang efektif ya lewat edukasi terkait pemilu ini yang dijalankan secara betahap, berkala, dan sudah pasti dengan waktu yang lama.
Saya rasa kalo "edukasi" terkait pemilu dan hal-hal seperti ini cuma datang pas deket-deket pemilu mau dimulai ya hasilnya gak akan maksimal. Jangkauan-nya mungkin gak akan se-efektif itu juga. Karena suka gak suka, akan selalu butuh waktu untuk mengubah sebuah kebiasaan yang sudah mengakar.
Daaaan... siapa yang bisa ngasih hal tersebut dan punya resource sebesar itu untuk bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali, selain Pemerintah? kayanya gak ada 😅 yang kaya begitu butuh biaya. Apalagi kalo mau jangkau lapisan terbawah.
Terus belom lagi kalo ngomongin faktor incumbency advantage. Kandidat dari kubu petahana selalu punya akses lebih ke resources, infrastruktur, dan narasi yang sudah terbangun. Harus diakui kalo hal tersebut jadi keunggulan struktural yang hampir mustahil dilawan siapapun dalam sistem yang sama. Ditambah lagi soal wakil dari Prabsky yang memang jelas banget siapa, dan cara apa yang dia pake buat bisa ada di posisi tersebut.
The other two paslon memang sudah "kalah" sejak kontestasi ini belum dimulai.
Bukan gak bisa, cuma ya... susah. Dan kayanya udah jadi rahasia umum soal sebanyak apa resource yang dipunya sama prabsky di pemilu kemaren.
Dan sepakat sama @kudanielbintik di tengah semua itu, ada influencer yang dengan sadar memilih uang di atas tanggung jawab sosial. They're just being greeeeeedddyyyyy to the fullest!!!
Jadi pada akhirnya bukan semata soal siapa itu Prabowo. Tapi, selama struktur ini tidak berubah, pendidikan politik yang begitu rendah, kemiskinan yang terpelihara, dan elite yang diuntungkan oleh status quo, hasilnya akan selalu bisa diprediksi.
Dan pada akhirnya, yang terpilih hanyalah produk dari sistem yang kita biarkan berjalan seperti ini.