@VisionerUmkm Sejak lama saya berkomunikasi melalui media sosial, karena saya ingin meninggalkan jejak digital setiap komitmen, janji agar bisa digunakan sebagai bukti untuk menagih.
Min @KemensetnegRI, ini saya bertanya murni ya. Berbasis protokoler dan kapatutan pertemuan pemimpin dua negara. Kepala Negara.
Ini kan acara resmi undangan Kaisar Jepang ya. Artinya undangan Kepala Negara pada Kepala Negara. Tapi yg mengganjal saya, itu Mas Teddy duduk sebagai apa di meja? Posisi terhormat yang Perdana Menteri Jepang saja tidak akan ambil jika itu pertemuan dua kepala negara (CMIIW).
Kedua, Mas Teddy itu hanya eselon 2 di Setneg kan? Masih ada di rombongan yang jauh di atas itu, eselon 1 bahkan Menteri hingga Menko. Kenapa koq malah eselon 2 yang di sebelah kanan Presiden?
Kalau putra Presiden, itu wajar dalam jamuan kenegaraan, apalagi memang Pak Prabowo saat ini masih sendiri, wajar duduk bersama Kaisar mendampingi bapaknya di jamuan kenegaraan.
Coba jelaskan agar tidak jadi isu, bukan hanya nasional juga International.
Mungkin bisa dicek di protokoler Kemenlu, apa pernah kejadian seperti ini.
Terimakasih jika dijelaskan.
🚨 Pernyataan Sikap Kami atas Video ini 🚨
Kawan-kawan, Handai Tolan. Coba perhatikan mulai dari menit 5:41. Kacau ini presiden. Mental dendamnya kentel banget. Kemampuannya dalam mencerna kritik sangat buruk. Amat sangat buruk.
"Berarti kamu butuh MBG ya? Soalnya katanya MBG gak penting. Banyak orang-orang pintar di Jakarta yang bilang kalau MBG gak penting. Buang-buang anggaran."
Woy, Gendut. Kalau sedari awal 'blueprint' MBG itu menyasar anak-anak sekolah yang nasibnya seperti Yamisa, KAMI JAMIN, gelombang kritik dan protes ngga akan semasif seperti sekarang. Nilai gizi perporsi bakalan lebih bagus, anggaran yang dipakai juga nggak bakalan setekor sekarang.
Masalahnya adalah, den, presiden, MBG udah berjalan setahun lebih, sektor yang dikorbankan sudah banyak, anggaran udah kebuang triliunan rupiah, tapi pendistribusiannya masih sangat carut marut. Masih banyak siswa/i kayak Yamisa yang belum kebagian, tapi di lain sisi siswa/i yang ortunya mampu, yang biaya SPP sekolahnya ada di level menengah sampai mahal, malah kebagian, dan bentuk menu yang disajikan terkesan melecehkan kemampuan ekonomi mereka.
Mosok koyok ngono rak paham sih, Ndut?
Tolong hentikan narasi dan berbicara pada khalayak publik perihal banyak orang pintar yang menolak MBG. Tidak ada yang menolak MBG apabila program ini berlandaskan kajian dan riset yang kuat, roadmap yang mateng, dan target kategori penerima manfaat yang sangat jelas. Dengan terus-menerus menarasikan kritik terhadap MBG sebagai bentuk penolakan, maka bukan tidak mungkin kalau kami mengecap presiden sebagai dalang konflik warga vs warga, rakyat vs rakyat.
"Ya kan untuk bisa merata kami perlu waktu."
Alah, omong kosong. Kalau pelaksana program sedari awal mau untuk melakukan riset yang lebih dalam terlebih dahulu, mengizinkan para ahli untuk turut terlibat, waktu dan biaya tidak akan banyak terbuang seperti sekarang. Dan tidak akan ada anak-anak sekolah seperti Yamisa, yang terlambat mendapatkan haknya.
TEMPO digugat Menteri Pertanian Amran Sulaiman hanya karena mewartakan klaim Kementan tentang stok beras yang diduga kualitasnya buruk. Nilai gugatannya hingga Rp200 miliar.
Upaya membungkam pers bisa melanggar hak warga untuk dapat informasi akurat tentang kebijakan negara!
Terima kasih telah menjadi teladan buruk bagi masyarakat dengan melanggar aturan lalu lintas. Mohon menjadi atensi dan koreksi @Puspen_TNI@tni_ad
📍Jl. Warung Jati Barat, Jaksel
🕥 10.25 WIB
rela ke neraka demi anak…. Even in the after life she decided to once again put someone else first. @kemkomdigi every blood that came from judol is the consequence of your incompetence