Seniorku di kantor, Mas Rio, dijuluki "Tulang Punggung Perusahaan."
Setiap ada error, dia yang beresin.
Ada kerjaan teman yang mangkrak, dia juga yang ngerjain.
Lembur sampai akhir pekan tanpa dibayar pun udah jadi hal biasa.
Sampai akhirnya minggu lalu, pas perusahaan lagi launching besar, sistem tiba-tiba down total.
Jam 5 sore tepat, Mas Rio nutup laptopnya... lalu pulang.
Bos langsung panik.
Belasan kali nelepon Mas Rio.
Teman-teman satu tim juga spam chat, minta dia balik ke kantor malam itu juga.
Besok paginya Mas Rio datang seperti biasa jam 9, wajah santai sambil bawa kopi.
Bos langsung marah di depan semua orang, bilang Mas Rio egois dan nggak punya rasa memiliki terhadap perusahaan.
Biasanya Mas Rio bakal minta maaf lalu lembur sampai masalah selesai.
Tapi kali ini dia cuma nyeruput kopinya, lalu bilang,
"Maaf Pak, di kontrak saya tertulis Data Analyst, bukan pemadam kebakaran."
Seketika satu ruangan langsung hening.
Belakangan baru ketahuan, beberapa bulan terakhir Mas Rio sengaja berhenti jadi "penyelamat."
Dia sadar perusahaan nggak pernah nambah orang karena selalu merasa,
"Tenang aja, nanti juga Rio yang beresin."
Mas Rio pernah bilang,
"Selama gue terus jadi pahlawan yang nutupin kesalahan orang lain, mereka nggak akan pernah belajar."
Makanya, waktu sistem down kemarin, dia sengaja membiarkan semuanya berjalan sesuai konsekuensinya supaya manajemen sadar kalau masalah sebenarnya ada di sistem kerja tim.
Ternyata hasilnya sesuai.
CEO sampai turun tangan.
Bos yang selama ini suka lempar tanggung jawab kena evaluasi, dan divisinya diaudit.
Sementara Mas Rio tetap aman karena semua pekerjaan yang memang jadi tanggung jawabnya selalu selesai dengan baik.
Mas Rio juga pernah bilang,
"Sering kali kita merasa bersalah kalau nggak nolongin orang. Padahal, terus nolongin orang yang nggak mau belajar itu justru bikin kita capek sendiri."
Dulu dia sering stres sampai kena asam lambung.
Sekarang dia jauh lebih tenang dan tidurnya lebih nyenyak.
Pelajarannya sederhana.
Nggak semua masalah harus kita selesaikan.
Kadang orang memang perlu menghadapi konsekuensi dari pilihannya sendiri supaya mau berubah.
Kita nggak harus jadi pahlawan untuk semua orang.
Fokus selesaikan tanggung jawab kita sendiri.
Sisanya... biarkan mereka belajar dari akibatnya.
Temen temen bantu doakan Semoga segera mendapatkan keadilan untuk anak nya 🤲😭
Bikin sesak napas baca isi curhatan si ibu :
Bagi mereka yang punya kuasa, kasus ini mungkin bisa ditepis begitu saja dengan alasan 'tidak ada bukti digital'.
Tapi bagi kami keluarga miskin, derita fisik dan batin yang dialami Rahma (kejadian di Kab. INHIL) adalah kenyataan pahit yang nyata. Rahma sudah mengadu ke guru sambil menangis saat kakinya diinjak dan perutnya dipukul dengan gagang sapu.
Namun perlindungan yang didapat hanya sebatas kata 'nanti'. Sebulan terbaring dengan kaki membengkak dan menghitam hingga pembuluh darahnya tersumbat,
pihak sekolah bahkan tidak pernah datang menjenguk. Dokter mendiagnosis adanya cedera trauma/memar akibat benturan yang menyebabkan penyumbatan pembuluh darah.
Kini, setelah 1 tahun lebih berjuang, penyakitnya menjalar hingga ke jari tangan. Bagi kalian yang menuduh kami mengarang cerita demi donasi: kejam sekali kalian!
Kami tidak minta musibah ini, kami hanya ingin Rahma sembuh kembali. Kami bersuara karena keadilan tidak boleh hanya tajam ke bawah!
Setidaknya ngomong baik-baik sama rakyat dan tanggung jawab gitu loh....
Arogan banget ..
🤦
TRUK TNI TABRAK MOBIL SEORANG WANITA Viral di media sosial truk TNI disebut hendak kabur usai menabrak mobil. Tampak di video tersebut, seorang perempuan terlihat tengah memarahi sopir truk TNI tersebut. Terkait heboh itu, pihak TNI memberikan penjelasan. Brigadir Jenderal TNI Wahyu Yudhayana membantah dan mengklarifikasi narasi dalam video tersebut. Dia menyebut, kejadian itu terjadi di Sukamakmur, Bogor,