Wuanjiir… bikin merinding ..🔥
Kalau Univ Trisakti sdh turun beraatu padu begini.. mengingatkan kejadian 1998.
Kalian hebat adek2.. teruskan perjuangan kakak2 kalian yg telah diselewengkan oleh oleh para “ Pelacur Reformasi”.
Pantang Pulang Sebelum Menang…💪🏻💪🏻👍👍🔥
Nampak malam ini Demo Mahasiswa Trisakti, Esa Unggul, Mercu Buana dll berkumpul depan Gedung DPR, me-roasting dan menyoraki anggota DPR yang tidak satupun muncul, padahal janjinya akan menemui, tapi yahh janji palsu adalah salah satu keahlian para pejabat kita, selain korupsi
Mahasiswa adalah menyambung suara rakyat, bukan MAHASEWA yang merusak citra BEM Indonesia.
Pak @prabowo coba tengok ke X, demo bukan di biayai asing melainkan menyuarakan dgn hati yg iklas andalah antek asing yg sebenarnya, jadi presiden cb berguna untuk Rakyat jngn sngong 😠
Bapak Prof @Yusrilihza_Mhd, Prof @JimlyAs, dan Prof @mohmahfudmd yth, selamat atas hasil kerja tim reformasi Polri selama hampir setahun dg laporan 3.000 halaman yg hasilkan UU Kepolisian berupa :
1) polisi bebas masuk
Institusi sipil
2) perpanjangan masa pensiun polisi
3) masa pensiun Jendral polisi bisa diperpanjang oleh Presiden.
Sekali lagi selamat ya Pak
Lur, Di saat media sosial ramai dipenuhi keluhan soal kualitas paket Makan Bergizi Gratis (MBG), mulai dari porsi yang dinilai minim hingga menu yang dianggap jauh dari kata “bergizi” publik justru disuguhkan pemandangan kontras. Video yang beredar memperlihatkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jarakan, Gondangsari, Pakis, Magelang menggelar acara buka puasa bersama di hotel dengan sajian prasmanan lengkap dan dekorasi yang terbilang mewah.
Meja-meja penuh makanan dan suasana meriah menjadi sorotan di tengah riuhnya kritik terhadap kualitas kotak makan siswa.
Situasi ini memicu pertanyaan publik: ketika masyarakat mengeluhkan nasi keras dan lauk sekadarnya dalam program MBG, mengapa internal pelaksana justru terlihat menikmati hidangan berlimpah?
Kini perhatian tertuju pada transparansi dan evaluasi pelaksanaan program MBG. Publik berharap energi dari acara tersebut tak berhenti di meja bukber, melainkan benar-benar diterjemahkan menjadi perbaikan kualitas makanan bagi para penerima manfaat di sekolah.
Apakah presiden @prabowo punya rencana dalam mengelola negara ini?
Apakah presiden gak tahu bahwa mengambil dana pendidikan dan kesehatan untuk program MBG itu masuk kategori pelanggaran HAM?
Utusan istanapun mingkem.
Selamat jalan adek kecil, keputusanmu untuk mengakhiri hidupmu telah membukakan mata dunia, dinegeri subur, kaya ini ternyata ada anak bangsa yang dilupakan, ada Bansos,PKH,MBG tidak bisa merubah keadaan
Gua Berusaha Sarapan Sebelum Jam 08:30 Pagi Setelah Baca Jurnal Ini
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nutrients memberikan perspektif baru yang menarik.
Penelitian yang melibatkan lebih dari 7.600 partisipan di Amerika Serikat ini menunjukkan adanya asosiasi antara waktu asupan nutrisi pertama dengan kondisi metabolisme gula seseorang.
Berdasarkan data observasional tersebut, individu yang terbiasa mengonsumsi sarapan sebelum pukul 08:30 menunjukkan kadar glukosa darah yang lebih rendah serta peningkatan sensitivitas insulin dibandingkan mereka yang menunda waktu makan.
Secara fisiologis, penundaan asupan makanan (puasa berkepanjangan) dapat memicu peningkatan kadar asam lemak bebas (free fatty acids) dalam sirkulasi darah. Kondisi ini berpotensi mengganggu mekanisme persinyalan insulin pada jaringan hepatik dan otot skeletal. Selain itu, sinkronisasi antara waktu makan dengan irama sirkadian tubuh berperan krusial dalam mengoptimalkan pola sekresi insulin.
Berdasarkan penelitian ini, semakin jauh kita menunda waktu sarapan, maka risiko resistensi insulin juga akan meningkat.
POTRET GETIR DAN MENYEDIHKAN
Sejumlah pelajar di Kabupaten Pandeglang, Banten, terpaksa melakukan aksi berbahaya dengan menyeberangi jembatan ambruk demi tetap bisa berangkat ke sekolah. Aksi tersebut terekam dalam video amatir yang kemudian viral di media sosial dan menuai keprihatinan publik.
GERAKAN RAKYAT KECAM PEMERINTAH ATAS TRAGEDI SISWA SD BUNUH DIRI DI NTT
Waketum Gerakan Rakyat Bidang Peningkatan Kualitas Manusia, Mira Pane menyatakan bahwa peristiwa ini tamparan keras bagi pemerintah dan bukti nyata kegagalan negara dalam mengentaskan kemiskinan ekstrem.
Anak Itu Pergi Karena Buku dan Pensil Tak Pernah Datang
Ia masih anak SD.
Tangannya kecil.
Mimpinya sederhana.
Ia hanya ingin bisa belajar seperti teman-temannya.
Beberapa hari sebelum ia pergi, ia pulang dari sekolah dengan kepala tertunduk. Di tasnya tak ada apa-apa selain kertas tugas yang belum bisa ia kerjakan. Ia meminta sesuatu yang nilainya bahkan tak seharga sebungkus rokok: buku dan pensil.
Ibunya terdiam.
Bukan karena tak mau.
Tapi karena tak punya.
Di rumah itu, tak ada lemari buku. Tak ada meja belajar. Yang ada hanya dapur sunyi dan perhitungan uang yang selalu kalah oleh kebutuhan hidup. Anak itu mendengar kata yang sama berulang kali—kata yang tak pernah kejam, tapi selalu melukai: “Nanti, ya.”
“Nanti” yang tak pernah datang.
Malu yang Terlalu Berat untuk Anak Kecil
Di sekolah, ia melihat teman-temannya menulis. Pensil mereka bergerak cepat, seakan tak pernah ragu. Ia menunduk. Ia tahu gurunya menunggu. Ia tahu tugas harus dikumpulkan. Tapi ia juga tahu, ia tak punya apa-apa untuk menulis.
Rasa malu itu tidak berisik.
Ia tidak menangis keras.
Ia hanya menumpuk pelan-pelan di dada anak kecil itu.
Hingga suatu hari, ia tak lagi datang ke sekolah.
Bangkunya kosong.
Namanya dipanggil.
Tak ada jawaban.
Yang tersisa hanyalah kabar yang membuat satu desa terdiam, satu keluarga hancur, dan satu bangsa seharusnya menunduk malu: seorang anak SD meninggal setelah tekanan hidup yang terlalu berat—karena kemiskinan dan ketidakmampuan membeli buku serta alat tulis.
Ia tidak pergi karena tak ingin hidup.
Ia pergi karena hidup terasa terlalu berat untuk anak seusianya.
Triliunan Anggaran, Tapi Buku Tak Sampai
Pada saat yang sama, negara berbicara tentang program-program besar. Anggaran digelontorkan. Spanduk dibentangkan. Kata-kata seperti “masa depan”, “gizi”, dan “generasi emas” diucapkan dengan penuh percaya diri.
Namun di satu rumah kecil, buku dan pensil tak pernah datang.
Apa arti program besar jika anak-anak masih tumbang oleh hal paling dasar?
Apa arti slogan jika seorang anak kalah bukan oleh pelajaran, tapi oleh kemiskinan?
Anak itu tidak butuh pidato.
Ia tidak butuh konferensi pers.
Ia hanya butuh alat untuk belajar.
Yang Hilang Bukan Hanya Satu Nyawa
Kematian ini bukan sekadar berita.
Ini adalah tuduhan sunyi terhadap sistem yang gagal melindungi yang paling lemah.
Yang hilang bukan hanya seorang anak.
Yang hilang adalah:
satu cita-cita yang tak sempat tumbuh,
satu bangku sekolah yang akan selamanya kosong,
dan satu pertanyaan yang akan menghantui kita:
bagaimana mungkin anak mati karena tak mampu membeli buku?
Ibunya kini memeluk penyesalan yang bukan miliknya.
Negara seharusnya memeluk tanggung jawab yang tak boleh dihindari.
Jangan Biarkan Ini Menjadi Angka
Jika tragedi ini hanya lewat sebagai berita harian, maka kita semua gagal.
Jika ini hanya jadi statistik, maka tak ada pelajaran yang benar-benar dipelajari.
Anak-anak tidak seharusnya memilih antara sekolah dan rasa malu.
Mereka tidak seharusnya memikul beban ekonomi yang bahkan orang dewasa pun sering tak sanggup.
Dan tidak boleh lagi ada anak yang merasa hidupnya lebih murah dari sebuah buku dan sebatang pensil.
---
💛 Catatan penting untuk pembaca
Tulisan ini mengangkat tragedi nyata dan sangat menyedihkan. Jika kamu atau orang di sekitarmu—termasuk anak—mengalami tekanan berat, rasa putus asa, atau tanda-tanda ingin menyakiti diri, tolong cari bantuan segera. Meminta bantuan adalah bentuk keberanian.