segapernah itu kebangun tengah malem semenjak jadi ibu kebangun 2 jam sekali dan skrg walaupun anak gue udah tidur lebih lama ttp kebangun 2 jam sekali🙂 am i okay?
Random thought at 3 am.
Cerai, gapapa.
Putus, gapapa.
Bilang engga, gapapa.
Mulai lagi dari nol, gapapa.
Berhenti dari sesuatu yang udah ga sehat, gapapa.
Bahkan memilih untuk tetap sendiri pun, harusnya gapapa.
Kita terlalu sering diajarkan bertahan mati-matian. Seolah-olah pergi berarti menyerah. Seolah-olah mengakhiri sesuatu berarti gagal.
Padahal keputusan yang paling berat justru sering kali adalah keputusan yang paling menyelamatkan.
Not everything is meant to last forever.
Ada hubungan yang emang harus selesai. Ada pertemanan yang cuma bertahan di satu fase kehidupan. Ada pekerjaan yang dulu diperjuangkan mati-matian, tapi akhirnya justru jadi alasan kehilangan diri sendiri. Ada tempat yang pernah terasa seperti rumah, tapi perlahan berubah jadi tempat yang paling ingin ditinggalkan.
Leaving doesn’t always mean you stopped caring. But sometimes walking away is simply the most honest way of choosing yourself.
Ga harus nunggu semuanya jadi terlalu buruk untuk punya alasan pergi. Ga harus nunggu dikhianati berkali-kali. Ga harus nunggu sampai benar-benar hancur.
Kalo sesuatu terus menerus mengambil ketenangan, harga diri, dan kebahagiaan, mungkin udah waktunya bertanya apa yang sebenarnya sedang dipertahankan.
Jangan lupa, selalu ada perbedaan besar antara memperjuangkan dan memaksakan sesuatu.
Memperjuangkan berarti masih ada ruang untuk tumbuh, memperbaiki, dan saling menjaga.
Sedangkan memaksakan berarti hanya satu orang yang terus berusaha. Sambil pelan-pelan dirinya sendiri perlahan habis.
The hardest thing isn't letting go.
It's admitting that staying is hurting you more than leaving ever could.
Yang paling menyedihkan adalah ketika udah terlalu lama bertahan sampai rasa sakit terasa normal.
Mulai terbiasa ga dihargai.
Terbiasa diabaikan.
Terbiasa meminta hal-hal sederhana yang seharusnya ga perlu diminta.
Terbiasa merasa sendirian hingga lupa bahwa dalam hubungan ga seharusnya selalu seperti perjuangan setiap hari.
Choosing to walk away doesn’t always make everything feel better right away, indeed.
Ada kehilangan. Ada sepi. Ada takut dan ragu. Ada malam-malam penuh pertanyaan tentang apakah keputusan dibuat dengan benar.
Akan ada saat-saat merindukan sesuatu yang sebenarnya dulu juga pernah sangat menyakiti.
But missing something doesn't always mean you made the wrong decision. We’re simply grieving something we once hoped would turn out beautifully.
Dan itu juga bagian dari proses melepaskan.
Jadi kalo suatu hari harus memilih antara terus bertahan atau akhirnya pergi, jangan cuma tanya udah berapa banyak yang diperjuangkan.
Tapi juga tanya, setelah semua yang terjadi, masih ada berapa banyak yang tersisa dari diri sendiri.
Because you deserve a life that doesn't require you to abandon yourself just to keep something alive.
Ga ada yang gagal hanya karena sesuatu berakhir.
Ga ada yang egois hanya karena memilih dirinya sendiri.
Some endings are not failures. Some endings are the beginning of finding yourself again.
Pergi ga selalu berarti kehilangan sesuatu, tapi kadang pergi adalah cara terakhir untuk pulang kembali pada diri sendiri 🤍
🧠 PRO TIP:
Waktu seseorang tiba-tiba kasar, dingin, atau nyoba bikin lo ngerasa kecil tanpa alasan jelas, jangan langsung tanya "apa yang salah dari gue?"
Tanya ini sebagai gantinya.
Kenapa?