@Jakartalk IKN sekarang cuma jadi destinasi turis lokal, gak lebih dari itu. Ane yg tinggal 1 jam dari IKN aja paham kok IKN itu berpotensi jadi kota hantu. Kotanya jadi tapi gak ada yg mau tinggal.
Lu mau tau gak gobloknya narasi lu di mana? Ada murid yang suka dan merasa terbantu dengan MBG, tapi difarming bahwa MBG itu berhasil. Padahal, kalo lu pinteran dikit, postingan lu ini bisa dijadikan kunci buat evaluasi ulang program MBG. Sini, biar gue bantu jelasin:
1. Murid yang merasa terbantu dengan adanya MBG didata, mereka berasal dari keluarga miskin/menengah/kaya;
2. Dengan data yang didapat di poin 1, kelompokan data per kelas ekonomi-tingkat kepuasan;
3. Jika rata2 yang merasa terbantu adalah kelas miskin, maka program wajib tersegmentasi bagi murid tidak/kurang mampu;
4. Kenapa MBG harus dievaluasi ulang dan segmentasi penerimanya hanya kelas kurang/tidak mampu? Karena itulah problema yang harus diselesaikan oleh pemerintah;
5. Apa yang akan terjadi jika penerima MBG hanya dari kalangan kurang/tidak mampu? Porsi anggaran berkurang, negara bisa hemat hingga ratusan triliun per tahun, APBN kembi sehat, penerima manfaat jadi tepat sasaran, hingga meminimalisir potensi korupsi oleh pemilik dapur;
6. Jika penerima manfaat sudah "targeted" ke murid dari kelas kurang/tidak mampu, apa langkah selanjutnya yang harus diambil oleh pemerintah?;
7. Perluas lagi sasarannya ke HANYA penderita stunting/gizi buruk, sedangkan ibu hamil diberikan paketan MBG yang berbeda (produk khusus selama masa kehamilan untuk membantu pertumbuhan/kesehatan janin; bukan makanan berat yang berpotensi terdapat kandungan racun);
8. Jika pemerintah mampu melakukan poin 1-7, gue yakin Prabowo bakal dapat banyak pujian bahkan dari orang2 yang sebelumnya ngasih kritikan keras ke program MBG.
Tapi yang jadi pertanyaan, apakah Prabowo mampu dan berani untuk evaluasi ulang (total) programnya, termasuk pengurangan jumlah insentif per hari bagi pemilik dapur?
Saya sih nggak terlalu kaget soal isu sensitif istana yang lagi beredar. Yang justru bikin saya kaget adalah fakta bahwa ternyata Komdigi bisa secanggih itu.
Bisa gerak cepat. Bisa responsif. Bisa menekan platform besar. Bisa bikin akses media sekelas YouTube/Google ikut kena tindakan (walaupun masih bisa diakses lewat VPN h3h3). Bisa bikin pernyataan resmi (padahal target subyek pembahasan di video bukan Komdigi, tapi Komdigi rela nyebokin).
Bahkan bisa sigap ambil langkah hukum dan bisa bypass aturan MK soal pedoman UU ITE yang nggak bisa digugat oleh badan/instansi.
Berarti kemampuan teknisnya ada.
Dan kalau kemampuan itu memang ada, harusnya ruang digital kita bisa jauh lebih bersih dari sekarang.
Harusnya iklan penipuan nggak semudah itu lewat. Harusnya nomor pribadi masyarakat nggak seenaknya dipakai SMS promosi.
Harusnya data kita nggak gampang bocor lalu dipakai buat nawarin pinjaman, j*dol, investasi bodong, sampai lowongan kerja palsu. Harusnya platform-platform digital yang merugikan masyarakat juga bisa ditindak dengan kecepatan yang sama.
Karena ternyata masalahnya bukan karena negara ini nggak punya alat. Alatnya ada. Jalurnya ada. Kapasitasnya ada.
Cuma selama ini kita terlalu sering melihat teknologi negara bekerja cepat ketika yang terganggu adalah kekuasaan, bukan ketika yang dirugikan adalah masyarakat.
Karena ternyata tombolnya memang ada.
Cuma rakyat sering kebagian tulisan:
“mohon menunggu”.
Tapi yaa kita sama-sama paham lah ya, kenapa isu-isu krusial yang lain terkesan sulit diberantas.
Sekelas warung remang-remang saja mesti "koordinasi" dulu biar bisnisnya tetap jalan.
Paham kan ya..
cc:cakraadinegara
Kondisi real:
-Pertumbuhan ekonomi melambat.
-Rupiah melemah
- Cadev turun
-IHSG babak belur
- Kredit macet mengancam perbankan
-PHK mulai menghantui
- Kriminalitas meningkat
Tapi di atas panggung dengan lantang beliau bersabda:
-Perekonomian membaik
-Pengangguran dan gini ratio turun
- Banyak negara minta diajari proyek MBG
- Koperasi yang dibangunnya terbesar dan tercepat sepanjang sejarah
- Jadi negara paling aman di dunia
- Menyuruh yang menentangnya pindah ke Yaman
Nggak ngerti, yang ngaco pembisik-pembisiknya; dia sedang berusaha menjaga optimisme; atau memang dasarnya hobi ngebul.
Tidak heran jika wartawan dan orang-orang yang tidak mendukungnya dilarang ikut mendengarkan pidatonya, karena yang percaya omongan dan jokes garingnya hanya para pejabat dan para pendukung yang IQ-nya memang rata-rata tiarap.
Kenyataan bahwa abis orang pada bilang "tidak" dan dia masih bisa bilang, "MBG itu penting," adalah bukti beliau nih tuli terhadap suara masyarakat bahkan secara langsung.
Jeleknya reformasi 1998 itu begitu..
Dia membuang yang baik dari orde baru: Repelita, industrial policy, pertumbuhan ekonomi yang stabil, pembangunan infrastruktur masif, kepedulian dan subsidi negara ke pendidikan...
Tapi malah ga menghapus masalah sesungguhnya rezim orde baru:
- Elit yang super korup dan KKN
- Cukong-cukong yang rakus dan terbiasa melanggara hukum
- Aparatus bersenjata yang politis, korup dan tidak profesional
- Institusi hukum kuno (mayoritas warisan kolonial) yang penuh ketidakpastian, tidak memihak rakyat dan sulit ditegakkan
- Rakyat yang kurang terdidik
Walhasil, ketika demokrasi liberal dengan sistem one man-one vote, kita terapkan. Bukannya makin bagus institusi politik, malah makin hancur.
Suara2 rakyat yang kurang terdidik kini bisa diatur oleh uang dan algoritma.
Elit-elit korup makin leluasa merampas ekonoomi karena tahu rakyat ga akan menghukum mereka di pemilu.
Aparatus bersenjata makin sering masuk ke dunia sipil karena diperlukan elit2 itu untuk menjaga aset mereka.
Hukum yang tidak imparsial hasil warisan kolonial Belanda, membuat elite-elite dan aparatus itu tidak bisa dihukum kapok dan jera.
Maka makin hancurlah Indonesia.
Apa yang kita lihat sekarang ini.. adalah hasil dari kesalahan punggawa reformasi 1998 yang gagal mengatasi masalah utama orde baru..
Apa bila kita rangkum, masalahnya satu:
Kegagalan membangun institusi politik yang baru dan bersih serta lepas dari warisan orde baru (dan orde lama).
Bagi yang belum yakin tentang rapor merah Prabowo-Gibran:
1. Nilai tukar rupiah terendah sepanjang sejarah
2. Kabinet tergemuk sepanjang sejarah
3. Presiden paling sibuk ke luar negeri dan wapres paling tidak berguna sepanjang sejarah (51 kunjungan dalam 2 thn, sementara Jokowi 58 dalam 2 periode)
4. Nominal utang & suku bunga APBN terbesar sepanjang sejarah
5. Proyek Korupsi termahal sepanjang sejarah
6. Praktek Nepotisme terparah sepanjang sejarah
7. SDM generasi muda terendah sepanjang sejarah
Negara kolaps ya begini. Nggak ada kerusuhan besar, nggak ada kehancuran sistemik yg tiba tiba.
Jalan pelan pelan bolong. Resource di tarik melewati ambang batas aman. Kecelakaan makin sering. Welfare system pelan pelan di cabut untuk bbrp orang. Semua kelihatan understaffed, angka kejahatan naik pelan pelan tapi stabil.
Semuanya akan jadi lebih buruk pelan pelan disaat mereka yg di atas itu scr desperate nambel lobang lobang yg ada dari korupsi yg mereka buat.
Controlled demolition
Ini kok kayanya gara-gara kasus mba2 LPDP viral, gawangnya geser jadi penghapusan LPDP sih?
Dana abadinya mau diapain sih kalo dihapus? Mau jadi bancakan buat MBG?
tiba-tiba kepikiran, kita tuh kayak sengaja dibuat bodoh yaa sama keputusan politik yang ada?
bisa liat harga buku fisik yang makin tinggi ataupun anggaran pendidikan dan perpusnas yang dipotong. padahal buku tuh seharusnya jadi sesuatu yang terjangkau buat semua orang gak si?
Kalau awardee LPDP diharapkan untuk memberikan kontribusi ke negara, seharusnya mereka ditempatkan dalam instansi pemerintahan supaya bisa memberi kontribusi terhadap kebijakan publik.
Masalahnya pada hari ini instansi pemerintahan isinya kalo ga ordal ya politisi
The state of Italian football:
• In jeopardy of missing third straight World Cup
• Scudetto holders Napoli knocked out in UCL league stage
• Current Serie A leaders Inter Milan DOMINATED by Bodø/Glimt
• Atalanta and Juventus both lost their playoff game by 2+ goals and are on the verge of elimination
• An Italian team haven't won the UCL since 2009-10
Tough 🤯
Warga diadu secara horizontal terus, disuruh berebut remah-remah dengan nginjek satu sama lain. Elite di atas saling berbagi jatah kue, kadang ada sikut-sikutan, tp ujungnya dapet bagian semua.
@linnotlim mau nanya aja ini mah, kok kalo itung2an gini cepet tapi kalo itung2an kerugian negara karena koruptor lama banget ngitungnya atau masalah judol juga lama banget ngurusinnya padahal Thailand bisa sat set hehe cuma nanya aja ini mah 🙏
@linnotlim sistem kita hukumnya berbasis tokoh, bukan aturan2 yg konsisten..
gausah jauh2, cukup liat aturan MK dirombak pas pilpres, kasus nebeng jet , dan oh ya yg nabrak ojol pas demo itu hukumanny ap 😂
mirip lah yg dilakuin Trump sekarang, cuman main rule for bestie vs enemy aja
Despite dengan keblunderan Mba Sasetya ini, aku lebih salfok ke pernyataan Pak Purbaya: “Mereka berdua juga telah di blacklist bekerja berkaitan dengan pemerintahan Indonesia” artinya pemerintah bisa blacklist orang jika merugikan negara. Kok koruptor gak pernah di blacklist ya? Ijin nanya aja ini mah🙏
Bodoh bodoh banget post hari ini
Ngarepnya kalau dikasih LPDP pulang jadi bill gates semua, or kayak Habibie bikin pesawat
Lah negara lo ini Dana riset saja dipangkas terus. Sehari MBG itu setara setahun dana riset
Segitu ga ada harganya ilmu dan ilmuwan di negara lo
Sebenarnya ya, mau apapun format negaranya kalau fokus ke kemakmuran rakyat ya bagus. Indonesia banyak yang sekarang yapping politik karena fokus pemerintah nya malah ke pemakmuran sekelompok elite saja. Kalau udah berimbang gakan juga masyarakat cape-cape ribut dengan segala resiko terror dan kriminalisasi nya.
Di Cina, lw gak bisa bebas berpendapat, tapi ekonomi bagus, pemerintah bertanggung jawab sama kesejahteraan dan gercep tanganin masalah.
Di negara liberalis + kapitalis, lw bebas berpendapat, tapi cari kerja sendiri, pemerintah gak campur tangan langsung buat kesejahteraan.
Di Indonesia, sudah gak bebas berpendapat, diserang buzzer kalo keliatan gak suka pemerintah, di saat yang sama pemerintahnya lepas tangan sama kesejahteraan, tone deaf, dan gak gercep tanganin masalah. Kita gak punya trade off ke arah positif, semua yg jelek malah diborong. 😭