Jadi ada seorg ibu yg bekerja sampai tengah malam dengan berjualan es teh di Manggarai, si ibu bawa anaknya yg berumur 3th.
Anaknya main ke area tertutup lalu masuk ke lubang galian proyek pembangunan multifungsi. Si anak meninggal.
Gue ga mau menyalahkan si ibu.
Krn menurut gue ini salah pemerintah. Negara ini gagal mensejahterakan rakyat. Bayangin jam 12malem masih jualan Krn mereka butuh duit tapi ga bisa ninggalin anaknya. Sedih.
Seskab Teddy Indra Wijaya .
Letkol Kopassus, mantan ajudan Prabowo, nol pengalaman diplomasi ,
merespons Dino Patti Djalal dengan sindiran: "diplomat hebat, walau cuma 3 bulan jadi Wamenlu."
Oke, Pak Letkol. Kita bedah satu-satu.
Soal biaya: Lo bilang kelebihan biaya ditanggung "pribadi Presiden." Tapi pesawat kepresidenan, pengamanan TNI-Polri, hotel protokol, tim advance, logistik 50-60 orang , itu semua tetap APBN.
Yang "pribadi" cuma excess-nya.
Dan Prabowo sendiri yang tanda tangan Inpres No. 1/2025 yang perintahkan seluruh K/L pangkas perjalanan dinas 50%.
Guru nyuruh murid hemat, gurunya keliling dunia.
Soal rombongan: Lo bangga rombongan turun dari 120 jadi 50-60 orang.
Dino tidak pernah bicara soal ukuran rombongan. Dia bicara soal frekuensi , 1 dari 6 hari Presiden ada di luar negeri.
Lo jawab pertanyaan yang tidak ditanyakan.
Soal investasi Rp 2.430 triliun: Ini total realisasi investasi PMDN + PMA tahunan , tren jangka panjang yang sudah berjalan sebelum Prabowo menjabat, dipengaruhi hilirisasi, regulasi, dan iklim global.
Lo tidak bisa buktikan berapa dari angka itu kausal dari kunker.
Berdiri di bawah hujan lalu ngaku bisa mendatangkan air.
Soal sindiran "3 bulan":
Dino punya PhD dari London School of Economics, 26 tahun karier diplomatik, 3 tahun Dubes untuk Amerika Serikat.
Yang nyindir dia adalah seorang Letkol yang jabatan Seskab-nya lahir dari loyalitas, bukan keahlian tata negara.
Di negara yang sehat, Seskab dijabat teknokrat.
Di sini, dijabat ajudan yang merangkak naik karena setia , lalu nyindir diplomat doktoral soal pengalaman.
"Speak truth to power," kata Dino.
Yang menjawab justru orang yang hidupnya melayani power.
Karena saya tergabung dalam grup WhatsApp media Kemlu (grup yang berisi para wartawan dan perwakilan Kemlu), saya izin meluruskan juga isu ini (karena ada wartawan yang sempat membahas masalah ini juga).
Pesan dari Direktur Informasi dan Media: Dari Terkait informasi tersebut yang menyatakan perwakilan RI tidak merespons, KBRI Amman (@INAinAmman) menyatakan informasi tsb. tidak benar. Yang meng-upload juga menyampaikan permohonan maaf karena hanya mencoba dengan berbagai cara secara pararel.
Rafiq Mohammed Dghmash, a 19-year-old from Gaza, is suffering severe health complications from an injury he sustained two months ago. His condition includes serious infections and acute malnutrition. He has a hole in his abdomen through which feces are coming out, making his situation critical and life-threatening. Due to the collapse of healthcare in Gaza, he is pleading for urgent treatment and help.
Contact/His brother:
00970 972599392092
these people are unbelievable.
let me translate:
"this is me at 15. I'm Lithuanian, but my parents decided to become colonizers in Palestine, and could care less that they were literally stealing another people's country, dispossession, murdering, and oppressing the indigenous population. When I got older, I served in that colonial occupation army. I didn't kill, maim, or humiliate indigenous Palestinians, but I made coffee for those who did and did cute things around the office. Now, 30 years later, everyone hates me just. because. I'm. a Jew. [of course, I will not mention at all the fact that we're committing the holocaust of our time against those pesky Palestinians who refuse to disappear]."