Watched The Paradise of Thorns last night and i still remember every scenes, every plot twists and every conflicts so vividly. A lot of the movie goers refused to left the studio because we all were so traumatized. @Bossskuno and @jeffsatur congratulations you both!!!! ❤️❤️❤️❤️❤️
Lots of Indonesians are saying West Papua is ‘dangerous’. Speed bro you gotta find out why.
Indonesia colonises West Papua, so there’s a war of national liberation there. Most Indonesians are racist against West Papuans because they are Black like you.
In July, Arbaini was stabbed to death.
He'd been a leading figure in a movement against a coal mine in Borneo.
Police said his activism had nothing to do with his death. But across Indonesia, threats to environmental defenders like him are growing. 🧵
https://t.co/g06w2SWVdb
Akhir kata, ayo kita nyinyir terus dan kesel terus sama pemerintah. Jangan sabar, ayo marah! Nyinyir, kesel, dan marah, akan jadi amunisi untuk berbuat sesuatu. Nggak musti besar, mulai dari diri sendiri dan sekitar, sambil mikir mau ngapain utk gerakan massa yg lebih besar.
Intinya, ancaman thd konstitusi dg segala variasinya, sudah pernah terjadi & akan terjadi lagi. Lalu apakah agar perlawanan awet rakyat harus punya partai? Atau cukup dg gerakan sipil sporadis? Jadi armchair-activist? Mungkin ketiga-tiganya memang harus ada, dan jalan sama-sama.
Terlepas dari perdebatan ttg efektivitas medsos, @diahtricesaria mencatat, kemampuan kita 'membumikan' politik dalam hidup sehari2 saat ini jadi makin penting. Misalnya, ngereog sama2 ttg pajak kita dipake buat apa aja. Dan ini emang paling mudah dilakukan lewat platform medsos.
Disebut tantangan tersendiri karena emang susah menjaga "api" kemarahan rakyat kalau hanya mengandalkan media sosial. Soal ini ada dibahas juga oleh Zeynep Tufekci dalam "Twitter and Tear Gas".
https://t.co/yLq2qqHnLC
Supaya bisa meluas dan populer, menurut mbak @savirani, gerakan harus dibuat:
- inklusif (jembatan dibangun, bukan dibakar)
- fun (gas terus meme-meme lucu)
- konsisten dan terus-menerus (nah ini tantangan tersendiri)
Catatan dari Mbak @savirani yg tak kalah penting adalah soal lokalitas. Indonesia bukan cuma Jakarta. Kita butuh gerakan yg lebih luas, dan lebih mengakar di daerah2 lain. Dalam hal ini, gerakan mahasiswa bisa jadi salah satu pendorong, baik dengan sesama kampus atau sektor lain.
Mungkinkah kali ini lebih 'mudah' membangun kesadaran berjejaring dengan adanya internet dan media sosial? Tentu tidak se-instan itu. Tetapi, internet tetap bisa jadi medium pemantik utk mulai memperkenalkan dan mempopulerkan perlawanan.
Dalam konteks legal-historis, apa yang terjadi sekarang ini sudah pernah terjadi juga di masa lalu. Upaya2 mengendalikan/membubarkan parpol & CSO, mengintimidasi mereka yg kritis, memperpanjang masa jabatan, dst. Lalu apa yg berbeda dari situasi kita saat ini?
Kesamaan dari peristiwa2 masa lalu dan masa kini, adalah upaya pelemahan gerakan sipil. Pembunuhan massal, kriminalisasi, stigmatisasi, semua arahnya ke depolitisasi dan demobilisasi kita sebagai rakyat. Mudahnya, dibikin bodoh dan takut bergerak. Pasrah disakiti terus.
Entry point dari diskusi ini tentu saja demo #KawalPutusanMK 22 Agustus lalu. Tapi, yg perlu disadari, situasi ini bukan pertama kali terjadi dan boleh jadi akan terjadi lagi di masa mendatang. Mas @erynugroho kasih contoh: Gerakan Mahasiswa Menggugat (70) sampai Kedung Ombo (88)
Teman2, alhamdulillah acara diskusi berjalan lancar, selepas Jumatan, dua minggu lalu. Sambil menunggu rekaman tersedia, berikut adalah poin-poin diskusi yang barangkali bisa diambil hikmahnya.
A thread
Pictures by @ariel_heryanto
Sbagai anak PhD tahun terakhir, sy sdg bergumul dengan paradoks pendidikan tinggi: sulit menjelaskan hal2 yg kompleks dlm konteks keseharian spy orang awam paham. Sy curiga penyebabnya krn sy "keenakan" di lingkaran menara gading. Emang mesti belajar banyak dri Bintang Emon nih.
Sumpah, ini narasi kelas bintang dlm arti sesungguhnya, keren, orang awam pun bisa memahaminya. Berasa kita msh punya harapan utk masa dpn Indonesia. Gratifikasi salah satu akar dr prilaku koruptif turunan dari biaya politik tinggi sebagai dasar utama gurita korupsi di Indonesia
Ini bukan kali pertama. Pada 2014, Ipda Rudy juga pernah diproses disiplin, tepatnya setelah membongkar kasus tindak pidana perdagangan orang (TPPO) yang melibatkan PT Malindo Mitra Perkasa.
| Narasi Daily