Miskonsepsi paling populer, Pu Siṇḍok memindahkan pusat pemerintahan Jawa Kuno dari daerah di sekitar Temanggung ke bagian timur Jawa.
Adalah Mahārāja Balitung yang memutuskan untuk memindahkan kedaton dari Nyū Gading ke kedaton baru di Jawa Timur (presumably Watugaluh) pada 15 Oktober 905 Masehi, hampir seperempat abad sebelum Pu Siṇḍok naik tahta.
Penguasa sebelum Siṇḍok, Dyah Wawa, sebagai Rakai Pangkaja (daerah Sidoarjo) juga telah beristana di Jawa Timur di mana Pu Siṇḍok menjabat sebagai rakryān mapatih i hino (menteri tertinggi) di bawah dyah Wawa. Tidak ada bukti tekstual yang menyatakan Pu Siṇḍok memindahkan pusat pemerintahan ke Jawa Timur akibat letusan dahsyat gunung berapi maupun tekanan/serangan dari Sriwijaya.
Serangan Sriwijaya pada 925 pernah diusulkan oleh Boechari pada tahun 1976, tapi kemudian diralat sendiri menjadi letusan Merapi tahun 925 (2012). Semua sejarawan yang mengikuti hipotesis letusan Merapi pada dasarnya sedang merujuk pendapat R.M. van Bemmelen, yang sebenarnya sedang menafsir penyebab pralaya tahun 1006, yang tercatat pada Prasasti Pucangan Jawa Kuno.
They all wished letusan Merapi terjadi pada tahun 928 untuk menyesuaikan dengan waktu mulainya pemerintahan Siṇḍok, termasuk Boechari. Saat itu mereka belum begitu 'ngeh' kalau dyah Wawa sudah memerintah dari Jawa Timur (sebagai Rakai Pangkaja). Even dyah Tlodhong ada indikasi sudah memerintah di Jawa Timur.