salah satu taktik ambush marketing paling jenius ala Levi’s. Karena Levi’s Stadium dipake buat Piala Dunia, FIFA ngelarang logo Levi’s kelihatan karena mereka bukan sponsor resmi.
Liat cara mereka nutupinnya.
Pelatih kepala tim nasional Senegal, Pape Thiaw, menjadi topik pembicaraan di Amerika karena pernyataan yang dibuatnya saat konferensi pers, terkait dengan ibadah sholat Jum'at
Wartawan :
"Hari ini ada angin yang sangat kencang di negara bagian New Jersey, dan petugas keamanan menyarankan anggota delegasi untuk tidak keluar demi keselamatan kalian... mengapa Anda tetap keluar untuk menunaikan sholat...?"
Pape Thiaw :
"Apakah ada yang lebih penting daripada sholat? saya rasa itu bukan urusan Anda... kalian takut pada angin, sementara kami takut kepada Allah, Zat yang menciptakan angin... kita datang ke sini untuk sebuah pertandingan hiburan, lantas kita lupa bahwa kita diciptakan untuk menyembah Allah...
Bahkan kalo final Piala Dunia FIFA digelar hari ini dan kami adalah salah satu tim finalisnya, kami tetap akan keluar untuk menunaikan sholat Jum'at, meski itu berarti kehilangan gelar juara...
Jangan ceramahi kami tentang ritual dan kewajiban agama kami..."
#PialaDunia
patut diakui, editor Bloomberg KEREN banget ngett ngett !!!!!
visualisasi perbandingan GDP beberapa negara di S.E.A tahun 2025 pake motif kain batik gini
ada juga visualisasi Pelemahan Nilai Rupiah juga pake pewayangan gini; ini kreatif banget.
Bloomberg tahu bagaimana bercerita tapi pendengar/audiensnya adalah masyarakat Global dengan identitas Universal.
Bahkan ketika berbicara tentang PILIHAN TAK SEHAT, dia menganalogikan ini semua dengan GORENGAN yang terlihat nikmat namun sesungguhnya unhealthy.
🙂
- Ga bisa menangani bencana Sumatra? Dibelain.
- Keluar negeri terus? Dibelain.
- Kurban pakai APBN? Dibelain.
- Rupiah melemah? Dibelain.
- BBM naik? Dibelain.
- Harga kebutuhan pokok naik? Dibelain.
- PHK massal terjadi? Dibelain.
- Daya beli masyarakat turun? Dibelain.
- Utang negara bertambah? Dibelain.
- Pajak dinaikkan? Dibelain.
- Defisit melebar? Dibelain.
- IHSG anjlok? Dibelain.
- Lapangan kerja seret? Dibelain.
- Investasi mandek? Dibelain.
- Harga beras naik? Dibelain.
- Harga listrik naik? Dibelain.
- Program kontroversial jalan terus? Dibelain.
- Pejabat bikin pernyataan blunder? Dibelain.
- Kritik publik diabaikan? Dibelain.
- Demonstrasi mahasiswa diremehkan? Dibelain.
- Janji kampanye belum terealisasi? Dibelain.
- Menteri bermasalah dipertahankan? Dibelain.
- Kabinet gemuk? Dibelain.
- Anggaran membengkak? Dibelain.
- Kepercayaan pasar turun? Dibelain.
- Rating pemerintah turun? Dibelain.
- Apa pun yang terjadi: Dibelain.
Siapa pun yang mengkritik:
Disalahin.
Sesuci itu kah sosok yg pernah ada ISU HAM ini di mata kalian?
Kalau Anies yang jadi Presiden, tentu akan ada situasi pelik, tapi situasinya berbeda dengan sekarang.
.
Contoh:
1. Di visi misi AMIN, ada juga bagi makan bergizi untuk anak-anak, tapi tidak dilakukan tanpa perhitungan. Dimulai dari daerah yang membutuhkan (misal 3 T atau pedesaan). Pelaksanaannya kolaboratif dengan ortu murid atau kantin sekolah. Sudah pasti tidak akan mencekek fiskal.
.
2. Koperasi? Ada juga. Namun tentu bukan pengadaan barang dan jasa seperti hari ini. Koperasi-koperasi yang ada di upgrade agar bisa lebih efektif. Misalnya koperasi petani, diupgrade dengan sistem contract farming. Koperasi berdasarkan kemampuan unggulnya masing-masing desa.
.
3. Cara handle demonstrasi sudah pasti lebih baik. Tidak represif dan mendengarkan dengan baik.
.
Jadi kalau Anies jadi presiden, masalah yang ada sekarang, sudah pasti tidak ada, tapi masalah lain pasti ada. cara handlenya pasti lebih demokratis dan lebih mendengarkan. Apakah cepat selesai? Ya belum tentu.
Dr dulu dibilangin:
>Program bikin targeted
>Fokus ke anak dari keluarga tidak mampu dan daerah 3T
Ngeyel. Pidato omon2 pamer jutaan porsi ngalahin mekdi.
Lalu terbukti, anggaran bocor.
1 MILIAR PER HARI.
itu baru setoran ke Dadan.
Pengadaan aneh2.
Motor listrik dimarkup 100%
Sekarang baru dievaluasi.
Kenapa? Karena ruang fiskal makin tipis. Anggaran mau abis.
Evaluasi itu harusnya dilakukan sejak program mulai dari skala kecil.
Kalo udah dikorupsi sebesar ini sih namanya bukan evaluasi tapi memang pembiaran korupsi selama ini.
Lagi dan lagi dan lagi
Cermin gaya komunikasi publik pemerintah yg usang, simplistis, dan cenderung berlindung di balik narasi global untuk menjustifikasi beban yg dilemparkan begitu saja ke pundak rakyat.
Menahan kenaikan harga sejak Maret? Apa pula ini? Mau bikin narasi seolah2 pemerintah pahlawan hebat yg telah berkorban? Lalu rakyat harus tahu diri dan memaklumi kenaikan ini?
Gini ya ted, menyediakan energi dgn harga terjangkau adl kewajiban konstitusional pemerintah. Bukan kebaikan hat atau sedekah.
Pokoknya adak..