假. Ini kisah tentang eksepsi yang dibungkam mati. Meluruh dalam geruh, meradang kian nyalang. Arogansimu kalakian bersorak lantang: ada apa setelah kematian?
selagi pasrah menerima omelan dari Kailani, sang manajer.
“Shareloc ke gue sekarang! Yang lain udah pada otw ke bandara!”
Tut. Telepon langsung dimatikan.
Alankar membuang napasnya kasar. Menatap nanar layar gawai yang sudah gelap dalam genggaman.
Alankar menghela napas.
“GUE ‘KAN UDAH BILANG DARI STUDIO LANGSUNG BALIK! KUPING LO TUH CUMA HIASAN APA GIMANA, ALAN?”
Alankar menjauhkan ponselnya dari telinga. Ia bangkit dari kasur untuk memungut celana jins miliknya; memakainya,
Keping-keping ingatan tengah berusaha ia susun ketika ponselnya berdering. Alankar mengangkatnya setengah hati. Kenapa? Coba saja dengar.
“Ha-”
“MASIH BISA LO HALO HALO KE GUE???”
“Gu-”
“Lo dimana?! Gue jemput sekarang! Inget gak lo hari ini ada schedule ke Bali?”
Alankar terbangun dalam kondisi kepala yang berdenyut hebat. Mengedarkan pandangan ke sekeliling, ruangan yang ia tempati terlihat asing.
Potongan pakaian berserak di lantai. Punggung kecil dengan surai pirang tidur begitu lelap di sampingnya.
Bukan karena ia takut, melainkan karena ada satu hal yang tak bisa Anthea terima. Alankar marah kepadanya seolah-olah masih memiliki hak untuk itu.
Apalagi Anthea tahu betul, siapa yang menjadi pusat dari kemarahan Alankar saat ini—Jose.
𝘋𝘰𝘯'𝘵 𝘶𝘴𝘦 𝘵𝘩𝘢𝘵 𝘧𝘶𝘤𝘬𝘪𝘯𝘨 𝘵𝘰𝘯𝘦 𝘸𝘪𝘵𝘩 𝘮𝘦.
Kalimat yang keluar dari bibir Alankar seketika menghapus senyum manis di wajah Anthea. Terlebih ketika ponselnya ikut melayang setelah sengaja dilempar oleh mantan kekasihnya.
Kenapa harus semarah itu?
@TamagoPost ALANKAR, 2004. Gue udah pernah coba ube matcha, kurang suka. Tempat ube matcha yang menurut lo paling enak dimana? Top 3 gue ada iced latte, fruity americano, sama hojicha.