🚨🇩🇪 BREAKING: Jürgen Klopp as new Germany head coach, here we go! 💥
Klopp has accepted to take over; long term contract details, project and RB Group exit still under discussion, but he will be the new head coach.
RB considered Glasner as replacement but he signs at #NFFC.
Klopp is back.
#CATET
TUJUH kebiasaan SALAH pas puasa. Hindari klo bisa!
1. Minum teh anget/kopi saat sahur -> bikin beser, cairan kebuang, jd cepet haus
2. Minum banyak2 pas saur -> tubuh ga butuh banyak2 minum, jd beser juga, cairan kebuang, lemes
3. Tidur/rebahan setelah saur -> risiko aslam kumat ↑
4. Makan kebanyakan pas berbuka -> lambung kaget, risiko surplus kalori
5. Ngerasa aman2 aja melewatkan sahur -> risiko nutrisi harian tdk tercukupi, risiko sakit lambung
6. Sahur pake too much karbo -> jam 9/10 udah laper, siangnya lemes, terus bukanya bales dendam dg makan banyak
7. Gak olahraga selama puasa -> otot berisiko nyusut, gampang lemes, pusing, ngantukan, & susah pertahanin BB
Nomor berapa aja nih yang sering kalian lakuin? 😆🙈
Saya pernah mau bahas ini dari sisi pantun Betawi.
Banyak orang mengira bahwa pantun, terutama pantun Betawi, (seakan-akan) "mewajibkan" kita untuk menyahut cakep. Kebanyakan orang menggunakan sahutan ini hampir pada setiap baris di bagian sampiran. Misalnya:
Biru-biru bukannya kaèn (Cakeepppp!)
Kembang melati di pelataran (Cakeepppp!)
Sakit rindu bukannya maèn
Si jantung ati punya lantaran
Apakah sahutan seperti ini sebenarnya memang ada sebagai bagian dari seni pantun, khususnya pantun Betawi?
Saya akan membahas ini dari sisi pantun Betawi, yang mungkin saja ada perbedaan dengan pantun dari daerah lainnya.
Jadi, sebagaimana dalam pantun di berbagai wilayah di Nusantara, terdapat dua bagian, yaitu: sampiran dan isi, atau dalam istilah Betawi kulit dan isi. Pantun tersebut, di Betawi, umumnya memiliki 4 baris, dan sering juga 2 baris (pantun kontèt), meskipun terdapat pantun 3 dan 6 baris juga yang sangat jarang.
Adapun sahutan "cakeppp" ini sebenarnya adalah senggakan, kalau dalam istilah Betawi. Senggakan ini umum diucapkan oleh alok (lawan bicara) dalam berbagai penampilan kesenian Betawi, seperti lagu, wayang kulit, dsb. Misalnya, contoh senggakan dalam lagu Jali-jali pada https://t.co/ZkXlyc5M9c (05:05–05:10):
Katènyè, dulu kotè Betawi ... (Témpo dulu, yè, Po'!)
Nah, "témpo dulu, yè, Po' " di atas itu adalah salah senggakan. Jadi, senggakan itu dapat berupa perkataan apa pun yang, intinya, untuk "meramaikan" penampilan. Tidak harus cakeppp. Bisa saja lainnya, misalnya "hobat", "Apaan tu, Bang?", "ajib", dsb. Selain itu, tidak ada pakem posisi yang tepat untuk meletakkan senggakan ini, tetapi setidaknya ada hal yang harus diperhatikan dalam penempatannya, yaitu logis, karena senggakan ini kurang lebih seperti "interaksi" antara panjak (seniman) dan alok (lawan bicara). Dan senggakan ini sifatnya TIDAK WAJIB dan hanya sebagai "peramai" penampilan saja yang sifatnya spontan.
Adapun untuk kasus pantun, bagian yang paling logis dan cocok untuk menempatkan senggakan ini adalah pada bagian antara kulit dan isi, seakan-akan untuk mengantarkan maksud pada isi yang dirimakan oleh kulit. Jadi, kurang lebih seperti ini:
Biru-biru bukannya kaèn
Kembang melati di pelataran
–––––––––––––––––––––––––– (Cakeepppp!)
Sakit rindu bukannya maèn
Si jantung ati punya lantaran
Umumnya, penempatan senggakan seperti ini. Dengan begini, pantun terkesan seimbang. Praktik ini yang sering dilakukan oleh banyak praktisi palang pintu.
Adapun praktik yang biasanya dilakukan oleh orang awam dengan menempatkan Cakeppp hampir di seluruh baris pada sampiran atau kulit, ini adalah praktik yang pèdog (timpang) dan terlihat tidak seimbang karena senggakan yang digunakan sama pada kedua baris sampiran, sementara pada bagian isi sama sekali kosong. Ini tampaknya praktik yang agak keliru untuk menggunakan senggakan, apalagi dipahami sebagai "kanon" untuk pantun Betawi.
Tradisi senggakan memang tradisi yang ada di kesenian Betawi secara umum, tetapi tidak pernah menjadi bagian kanonikal pada penampilan kesenian Betawi. Artinya, ini hanya sebagai "peramai" saja.
Khusus untuk senggakan "Cakeppp" pada pantun, apakah sudah lazim digunakan dari zaman dulu pada pantun Betawi? Tampaknya, yang melazimkan senggakan "Cakeppp" pada pantun Betawi adalah acara Pesbukers pada bagian pantun masak aèr yang dilaukan oleh Bang Opie Kumis dan alm. Bang Sapri. Tapi, kalau diperhatikan, praktik penggunaan senggakan-nya pun masih cocok, yaitu di antara ujung kulit dan isi, tidak seperti praktik pèdog yang dilakukan oleh banyak orang sekarang ini. Coba perhatikan ini https://t.co/UzUnEmhp4a
Masak aèr biar mateng
Daon kélor di atas kedok
–––––––––––––––––––––––––– (Cakep!)
Sapri, lu jangan so' ganteng
Mukè lu kayè telor kodok
Sebenarnya, tidak ada masalah dengan senggakan semacam ini. Namun, dari sini, banyak orang kadung lumpar (terlanjur salah kaprah) dalam mengira dan menggunakan senggakan. Akibatnya, banyak yang menggunakannya terlalu sering dan kaga' keruan. Dari sini, para budayawan dan praktisi kesenian Betawi, tampaknya, terbagi dua mengenai hal tersebut: ada yang jeléh (muak) dan ada yang menerima (tentu, dengan penggunaan yang benar). Kalau pendapat pribadi saya, sebagai penikmat kesenian Betawi (bukan sebagai ahli), saya membebaskan saja mao lu paké entu senggakan, kè', engga', kè', sepanjang tahu cara menggunakannya dengan benar dan jangan ketelèngèsan (keterlaluan).
Tampaknya, budaya ini, kemudian, juga "diimpor" oleh kawan-kawan kita dari daerah lainnya saat berpantun. Beberapa bulan lalu, saat saya di Kutai, salah satu dari mereka mengeluhkan mengenai "pengimporan" senggakan ini pada pantun mereka yang dilakukan oleh—katanya—institusi yang mengurusi kebudayaan di sana. Mereka menerjemahkan cakep (Betawi) sebagai gerécé (Kutai), yang—menurut perkataannya—kata tersebut kurang tepat dalam konteks ini apabila ingin digunakan. Kata tersebut, menurut pertuturannya, lebih berarti "indah" secara fisik daripada "indah" dalam konteks "mantap" sementara cakep di bahasa Betawi punya kedua makna tersebut. Orang tersebut mengeluhkan bahwa kebiasaan seperti ini menjadi "salah kaprah" baru di kalangan masyarakat sana.
Simpulan:
Dalam pantun Betawi, ada atau tidaknya senggakan bukanlah menjadi masalah. Hal yang terpenting, gunakan senggakan secara bijak dan benar.
: itu pandji kenapa?
: dia diserang sana sini
: ampe dr tompi jg?
: iya
: emg dr tompi ngomong apa?
: stup tup tidu daw daw tat tad di da daw barap tidad ti tad daw daw Sing di diw di diw di diw papap
Moroccan footballer Anwar El Ghazi has won his lawsuit against Mainz 05 after the club terminated his contract over his public support for Palestine.
The regional court in Rhineland-Palatinate ruled that the termination was unlawful, stating that his post “From the river to the sea, Palestine will be free” falls under freedom of expression.
As a result, Mainz must pay nearly €1.5 million in compensation.
El Ghazi announced he will donate €500,000 of that amount to support children in Palestine.
THE SUBSTANCE garapan Coralie Fargeat didaftarkan untuk bersaing di kategori Musical or Comedy di Golden Globes.
Hmmm, apa bisa mengantarkan Demi Moore & Margaret Qualley masuk nominasi? 🤔
VEDDRIQ LEONARDO, 27 TAHUN, DARI PONTIANAK, MEMPERSEMBAHKAN EMAS PERTAMA BAGI INDONESIA DI PARIS 2024!!!!!
BEBERAPA KEPELESET DI FASE2 PENTING, LOLOS KE PARIS PADA GELOMBANG TERAKHIR, VEDDRIQ HARI INI MEMBUKTIKAN KEKUATAN MENTAL, KUALITAS FISIK, DAN KUALITAS TEKNIKNYA!!!!
TERIMA KASIH, TERIMA KASIH, TERIMA KASIH VEDDRIQ!!!!