Diskusi sama kawan
Aksi mahasiswa kali ini menarik karena berangkat bersama dari Kampus. Dilepas juga oleh Dosen yang seolah merestui.
Artinya risiko disusupi intel itu rendah. Berbeda kalau datangnya satu per satu atau berkelompok pakai angkutan umum.
Tujuannya ke Bundaran HI, bukan ke institusi pemerintah seperti Istana atau DPR RI. Artinya memang untuk mengirimkan pesan seluas-luasnya sekaligus disrupsi ekonomi.
@tempodotco korupsi Dadan di BGN 1 miliar perhari aja selama ini kagak kemonitor
Kalo kata orang yg bikin sg dan direpost sama @pandji, ini program unggulan dia lho, pengawasan dan penunjukan ketuanya aja bukan orang kompeten kaya gini. Gimana program2nya dia yg lain
Tetap tidak ada yang mengalahkan lucunya F1. Kampanye zero nett carbon 2030, green energy bla bla bla, pembalapnya pada demen ninggalin jejak karbon lewat jet pribadi.
Gw termasuk yang selalu ngerasa ada yang aneh tiap masuk bioskop. Air putih botolan yang di Indomaret cuma 3 ribuan, di bioskop dijual 22 ribu. Mana tumbler juga dilarang masuk.
Gw selama ini mikir itu cuma "template bioskop" karena kebanyakan gitu. Ternyata pas gw bongkar lapkeu XXI, ini bukan sekedar iseng, tapi hasil desain yang strategis.
Sepanjang 2025, XXI (kode saham CNMA) cetak pendapatan sekitar Rp5,86 triliun. Dari situ, tiket nyumbang Rp3,6 triliun, dan makanan-minuman Rp2 triliun.
Coba resapi. Dari lima koma sekian triliun, dua triliunnya dari popcorn, soda, sama air botolan tadi.
Pasti ada yang nanya: kenapa nggak naikin harga tiket aja kalau mau cuan? Kenapa harus lewat snack?
Jawabannya ada di satu hal yang jarang dipikirin penonton. Tiket bioskop itu bukan sepenuhnya punya bioskop. Di model global, studio film ngambil potongan gede dari penjualan tiket, apalagi di minggu-minggu awal rilis. Angkanya bisa 60-70% lari ke studio (ini pola di pasar US, gw belum nemu rincian kontrak XXI yang dipublish).
Jadi dari tiket Rp50 ribu, yang nyangkut di kantong bioskop tipis.
Nah, makanan dan minuman beda cerita. Itu 100% punya bioskop, nggak dibagi ke siapa pun.
Dan marginnya brutal. Di chain gede kayak AMC sama Cinemark, margin F&B tembus 80 persenan. Popcorn yang modal bikinnya recehan bisa dijual dengan markup ratusan persen.
Ini namanya model "razor and blades". Sama kayak Xbox yang dijual rugi biar lo beli gamenya. Atau printer murah tapi tintanya mahal selangit.
Tiket itu umpan. Yang lo bayar pas haus dan laper di dalem, itu mesin duitnya.
Terus kenapa tumbler dilarang? Gw mau cerita sesuatu dulu.
April kemarin, XXI ngebolehin tumbler masuk. Dibungkus jadi kampanye lingkungan, "Save the Planet". Mereka bahkan klaim udah bantu ngurangin lebih dari 20 ribu kemasan plastik. Tanggal 6 Juni kemarin, kampanyenya kelar. Larangan balik lagi. Sehari kemudian, tweet kak @americhanoo_ viral.
Detik ketika lo masuk bioskop itu otomatis jadi captive audience. Nggak ada Indomaret di bioskop, nggak ada warung. Cuma ada satu penjual, dan dia yang nentuin harga. Air 22 ribu jadi masuk akal buat mereka, bukan buat lu.
Yang bikin gw mikir, ini nggak murni soal serakah.
Ada riset ekonomi yang nyimpulin snack mahal justru bikin harga tiket bisa ditahan murah. Yang nyubsidi tiket murah lo ya orang-orang yang jajan popcorn. Penonton dibelah dua: yang cuma nonton, sama yang nonton plus jajan.
Dan di Indonesia, XXI punya posisi industri bioskop yang bikin model ini makin kuat. Pas IPO 2023 mereka punya sekitar 225 bioskop, jauh di atas CGV (71) sama Cinepolis (60). Akhir 2025 udah 267 bioskop dan 1.388 layar.
Kalau satu pemain nguasain mayoritas layar, daya tawar lo sebagai penonton makin kecil. Istilahnya yak, terima aja lah kenyatannya gini hehe.
Jadi pas lo kesel liat air 22 ribu, perasaan diperes lo itu nggak salah. Lo emang lagi bayarin separuh ekosistem bioskop dari satu botol air.
Tapi yang lebih nyangkut di kepala gw: kalau snack mahal itu yang nahan tiket tetap murah, lo rela tiket naik asal boleh bawa tumbler sendiri? Atau biarin aja kayak sekarang?
@AdamPrabata@haienci biasanya yang kurang menghargai perjuangan dari haidnya perempuan, juga gak sedikit yang berlanjut dengan meremehkan bagaimana dampak dan beratnya kontrasepsi yang dialami perempuan
@biduanssa Selalu utamakan form yang baik dan benar dulu, dibanding terlalu peduliin berapa berat beban yang kita angkat
Main di beban yang sedikit lebih ringan dgn form yang benar, jauh lebih efektif (dan aman tehindar dr cedera) dibanding beban yg lebih berat tp dgn form yang agak keliru
@tempodotco Bapak ini melakukan dosa yg sangat sulit di taubat'in. Soalnya dosa dia Hablumminannas. Jadi akan diampuni kalau beneran dimaafkan sama orang yg dia bikin kecewa, lah yg dikecewain se Indonesia loh, na'udzubillah...
Ijin menambahkan ya.
Salah satu cara untuk menghilangkan DOMS (selain nutrisi dan istirahat cukup) adalah dengan active recovery.
Badan diajak gerak dengan intensitas tidak terlalu berat untuk lebih memperlancar aliran darah ke seluruh tubuh. Nah di sinilah Pilates dan Yoga berguna buat DOMS di gym.
Bisa juga dengan cardio santai seperti jalan kaki/rowing /sepeda.
@SeekHustle Burger termantap kayaknya Daring Deli, Dan's burger, Supper, Garage burger
diantara itu udah enak banget, tapi kayaknya yg juara Daring Deli
@YourrrrBoo Di sederetan jalan cipete raya kalo mau cari kafe
fore, kopi nako, kopi mandja, kopi kenangan, de clan signature, dua atau taam coffee, stuja, anomali
kalo mau belok dikit ke sekolah perancis yg deket donat bahagia, ada arah coffee, The Post, Levant
Gw sedih bgt waktu Ejkman dibubarin asli.
Terus tau gak sih pas barang2 alat penelitiannya dipretelin tanpa standar, mesin2 yg puluhan milyar dibawa kaya bawa kulkas biasa. HAH
@wobowobow@SupraX125_@nyet_nyetz@_HaddadP btw di show suci terakhir, film/seriesnya radit di sentil dikit jd materi sama komika yang lagi perform😂😅
gak tau ya, tp kayaknya komika gak sungkan2 amat kalo bilang filmnya radit kureng, mungkin gak berisik/viral aja
menit 20:32
https://t.co/POtgIO2zYx
makin lama makin respect sama Maudy Ayunda
From This Island dari awal udah punya identitas kuat: superfood asli Indonesia dan memberdayakan petani lokal. sampai skrg visinya masih dipertahankan dg konsisten, gak ikut-ikutan tren.
local brands like this deserve the spotlight.