Guys, Tempo baru merilis data yang cukup mengejutkan soal BGN Badan Gizi Nasional yang menjalankan program MBG.
Rp113,9 miliar dihabiskan untuk menyewa jasa Event Organizer dalam satu tahun pertama.
Dan bukan satu atau dua EO. Ada 31 paket pengadaan dari berbagai perusahaan.
Rincian yang paling mencolok:
Beberapa kontrak terbesar yang Tempo temukan dari data LKPP:
Maria Utara Jaya Rp18,4 miliar untuk bimbingan teknis manajemen risiko di daerah.
Falah Eka Cahya Rp16,5 miliar untuk Training of Trainer Asesmen Risiko.
Pojok Celebes Mandiri Rp15,4 miliar.
Raja Idea Kreatif muncul tiga kali dengan total sekitar Rp15,5 miliar.
Anugrah Duta Promosindo muncul empat kali dengan total sekitar Rp17,4 miliar.
Dan yang paling menggelitik: Rp1,3 miliar untuk Fun Run Hari Antikorupsi Sedunia.
Yang perlu dikritisi lebih dalam dari data ini:
Pertama 31 paket dalam satu tahun itu bukan angka kecil.
Ini bukan lembaga yang sesekali pakai EO untuk acara besar. Ini adalah pola penggunaan EO yang sistematis dan masif untuk kegiatan internal, rapat di luar kantor, pelatihan, hingga fun run.
Kedua mayoritas untuk kegiatan kantor pusat.
BGN adalah lembaga yang tugasnya memastikan anak-anak Indonesia dapat makan bergizi. Tapi pengeluaran EO terbesarnya justru untuk kegiatan internal di kantor pusat bukan untuk distribusi makanan ke daerah.
Ketiga beberapa perusahaan EO yang sama muncul berkali-kali.
Raja Idea Kreatif muncul tiga kali. Anugrah Duta Promosindo empat kali. Anugrah Wizardhi Convex tiga kali. Ini memunculkan pertanyaan apakah proses pengadaannya benar-benar kompetitif atau ada favoritisme tertentu?
Keempat Rp113 miliar ini adalah uang yang tidak sampai ke piring makan anak.
Itu yang paling fundamental. Program MBG diluncurkan untuk memastikan anak-anak Indonesia mendapat gizi yang cukup. Setiap rupiah yang pergi ke EO adalah rupiah yang tidak pergi ke makanan.
Kalau lembaga baru yang belum siap menjalankan program nasional sebesar MBG kenapa programnya tidak ditunda sampai kapasitas internalnya siap?
Dan kenapa solusinya adalah Rp113 miliar untuk EO bukan membangun kapasitas internal yang lebih cepat?
Some Southeast Asian countries, such as Thailand and Vietnam, are experiencing unprecedented historic flooding. This is one of the touching scenes of animals recorded by rescue forces.
Aku lebih tertarik sama pembahasan kira2 kenapa siswa di indonesia pinternya karena bimbel/les dan bukan karena sekolah formal. Yup, lagi2 salah pemerintah bikin sistem pendidikan jelek dan profesi guru kurang dihargai
denger kata ustadz โkalo Allah ga menakdirkan kamu atas sesuatu, gaakan Dia menggerakkan kamu utk doa minta sesuatu tsb.
jadi kalo Allah gerakkan kamu utk doa, artinya apa yg kamu minta itu emang akan dikasihโ
Allah Maha Baik๐ฅบ