Lecturer at Adhyaksa Law School // PhD Student at Australian National University // Former Director of MaPPI-FHUI & Indonesia Judicial Research Society (IJRS)
When Russia hosted the World Cup in 2018, it had to suspend normal visa rules for the tournament. Foreigners with tickets could enter visa-free, using a scheme called ‘Fan ID.’
Russia also had to do weird stuff to keep FIFA’s sponsors happy. For example, small shops near Fan Zones and stadiums could only sell Budweiser beer on match days.
So yes, FIFA absolutely does dictate conditions to host governments when it suits FIFA. Infantino pretending otherwise is nonsense.
Saya dapat info bhw ada 17 calon Dubes asing yg sudah tiba di Jakarta tapi sampai sekarang masih MENUNGGU waktu utk memberikan surat kepercayaan kpd Presiden. Dari mereka ada yg sudah menunggu 8 bulan. Ada juga Dubes dari negara ASEAN yg menunggu 6 bulan. Karenanya, mereka belum bisa bekerja secara resmi.
Ini memberikan kesan buruk bagi negara2 sahabat yg mengirim Duta Besarnya ke 🇮🇩, apalagi Dubes 🇮🇩 di luar negeri selalu dgn cepat menyerahkan surat kepercayaan kpd host country. Tanpa menyalahkan siapapun, Mohon masalah ini dapat segera dituntaskan Istana krn menyangkut reputasi diplomatik kita.
“Lu mending mati aja bang”
Ini DM yang gue dapetin setelah nyanggah Ferry Irwandi. Kalau ditanya kenapa orang males nyanggah belio, ya ini salah satu alasannya
lebih mirip politisi.
1. Tau dikit, ngomongnya banyak
2. Seneng monolog/pidato bombastis
3. Ga mau engage dgn yg lbh pinter dari dia utk ngetes ide.
4. Effort belajar minim krn udah ngerasa pinter.
5. Seneng bodoh2in orang.
6. Seneng ngeles alih2 minta maaf
Pejabut banget
Far too much in Indonesia depends on a thin-skinned former general with a sketchy human-rights record. Prabowo Subianto needs to hear some unpalatable truths https://t.co/8cvnt563TJ
Photo: Getty Images
buat yang bingung atau penasaran gimana sih sebenernya rasanya jadi WNI, liat aja cuplikan video lomba cerdas cermat kemaren
juri adalah gambaran nyata kebanyakan pejabat kita, MC sebagai buzzer pemerintah, siswa SMAN 1 Sambas sebagai rakyat yang nggiatheli memanfaatkan kesusahan sesama rakyat demi keuntungan pribadi, siswa SMAN 1 Sanggau sebagai WNI yang cari aman dan adek² peserta lomba terutama dari SMAN 1 Pontianak adalah rakyat dengan status WNI yang terdzolimi
Disitu terlihat jelas kalo pejabat kita yang salah namun secara terang²an nyalahin org lain karena mereka ngerasa dirinya berkuasa, dan mereka semakin besar kepala karena bisa berkelit didukung oleh para buzzer yang mau gimanapun salahnya si pejabat ini mereka tetep dukung karena udah dibayar sama si pejabat
terus rakyatnya gimana? Yaa cuman bisa nerima dengan terpaksa karena ketika mereka protes pun malah di gaslighting & diserang sama buzzer peliharaan pemerintah ini
sementara sesama rakyat lain pun sebagian ada yg diam takut dijadiin sasaran, namun juga ada yang bukannya bantu sesama rakyat malah manfaatin moment demi keuntungan pribadi, hahahaha
miris...
Pernyataan Ramos sebelumnya:
Keberhasilan generasi pemain Real Madrid selama periode ini sangat bergantung pada pemahaman dan keharmonisan di antara kami. Saya berbicara tentang hubungan antar rekan satu tim. Anda tidak akan melihat Modric, misalnya, memiliki masalah dengan Casemiro, atau sebaliknya.
Saya ingat suatu hari ketika saya di tempat tidur berpikir tentang bagaimana saya bisa mengatakan kepada Benzema atau Cristiano, misalnya, "Jangan lakukan itu," ketika saya menjadi kapten. Saya pikir dia akan merasa sedikit tersinggung karena namanya. Kemudian, beberapa hari kemudian, Cristiano memberi tahu semua pemain dalam latihan, "Dengarkan, jika Anda ingin menang dan membuat sejarah, kita harus mengikuti instruksi kapten di lapangan." Dan untungnya, kami diberkati dengan kapten yang bijaksana seperti Ramos. Saya berkata pada diri sendiri saat itu, "Ya Tuhan, pemain ini luar biasa di dalam dan di luar lapangan." Saya tidak melihat kesombongan darinya, atau dari pemain mana pun secara umum di generasi ini.
Ya wajar.. Politik Filipina itu benar-benar seperti politik Indonesia bahkan mungkin bisa jadi lebih parah..
Contohnya nih:
✅Anak dari Ferdinand Marcos, diktator Filipina, tetap bisa menjadi Presiden padahal ayahnya digulingkan lewat revolusi...
✅Ada mantan presiden yang jatuh karena korupsi lewat demonstrasi, tapi ujung-ujungnya tetap diterima publik. Bahkan menjadi Walikota Manila! Contoh: Joseph Estrada.
✅Ada yang jadi senator puluhan tahun, ga lepas-lepas, terus diwariskan ke anaknya. Contoh: Keluarga Revilla dan Pimentel.
✅Banyak kepala daerah di Filipina itu juga bagian dari politik dinasti. Seperti keluarga Duterte yang menguasai kota Davao, hingga Rodrigo Duterte jadi Presiden.
✅Bahkan Mantan Presiden Rodrigo Duterte merancang anaknya Sara Duterte untuk menjadi Wakil Presiden. Dan berhasil! 🙃
Source gambar: East Asia Forum
Gue setuju pernyataan homofobik dan diskriminasi LGBT itu melanggar HAM
Cuma masalahnya ini keluar dari orang yg diem2 bae ketika Affan dilindas, ketika Yunus disiram air keras, ketika Gamma dibunuh
Pigai tidak pernah benar2 membela HAM
Dia hanya teriak2 begini ketika sesuai dengan agenda politikmya
Demokrasi Kita karya Mohammad Hatta membaca krisis demokrasi Indonesia pasca kemerdekaan, dari instabilitas partai hingga lahirnya Demokrasi Terpimpin selagi menegaskan bahwa demokrasi mungkin tertindas sementara, tetapi tak dapat lenyap dari jiwa bangsa.
https://t.co/TgILgQ6b0y