Fun Fact
Mau tau seberapa mengerikan pajak kendaraan di Indonesia?
๐ฒ๐พ Malaysia
UMR = 7,4 juta
Pajak mobil Avanza = 330k/tahun
๐ฎ๐ฉ Indonesia
UMR = 3,4 Juta
Pajak mobil Avanza = 4 juta/tahun
Pantas aja banyak yg udah kerja keras setiap hari, tapi tetap sulit untuk bisa hidup layak
Apa yg dikatakan chef juna itu realita pahit yg terjadi di dunia nyata.
Untuk timku, aku selalu izinkan mereka kok asal jelas.
Tapi ketika aku d tempat kerja lain?
Aku udah skip ultah anak 2x
Ketika anakku sakit, aku baru smpt jemput ketika kelar kerjaan.
โSalahmu lanangโ
seberapa keren TODDLER kalian?
Aku duluan ya ๐
Pas antri kasir swalayan,
ada ibu2 nyrobot antrian di dpnku,
kutegor utk antri, dia jwb:
๐น: "aduh itu anakku kasihan kl nungguin antri lama"
๐ง: tetep antri Bu"
๐ถ: Tante, jgn kasihan sm anak Tante doang.
Aku jg anak2 capek jg kl nunggu Tante bayar.
๐น: "saya cuma beli ini doang dek"
๐ถ: "malu dong Tante, kaya gak berpendidikan aja gak mau antri, aku anak TK aja bisa antri"
Lalu mundur antri dia,
dan yg antri di blkgku pd TOS sm anakku
cc:threaddotika
Saya ada cerita seorang bapak.
Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1.
Lembur.
Utang.
Sampai jual tanah warisan.
Anaknya lulus. IPK bagus.
Wisuda lengkap dengan toga.
Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR.
Dan si bapak masih senyum bilang,
"Mungkin belum rezekinya."๏ฟผ
Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya.
Tapi cerita si bapak.
Dia lahir tahun 70-an.
Gak tamat SMA pun bisa buka toko,
punya rumah,
besarin anak dengan layak.
Logikanya simpel dan masuk akal:
"Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah,
hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya."
Logika itu benar. Di zamannya.๏ฟผ
Masalahnya bukan orang tua yang salah didik.
Bukan juga anaknya yang kurang usaha.
Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa.
Ijazah dulu adalah tiket.
Sekarang ijazah adalah syarat minimum.
Yang bahkan kadang pun masih belum cukup.
Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh.๏ฟผ
Bayangin ya.
Tahun 1995,
fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan.
Sekarang,
lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun,
skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja.
Gajinya?
UMR aja belum tentu.
Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu.
Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama.๏ฟผ
Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini:
"Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus."
"Kuliah dulu, baru enak hidupnya."
"Investasi terbaik itu pendidikan."
Nasihat itu bukan bohong.
Di zamannya, itu benar dan terbukti.
Tapi zamannya sudah ganti.
Nasihatnya tidak ikut ganti.
Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu
yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang.๏ฟผ
Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman.
Dia cerita,
"Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw."
Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?"
"Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak."
"Bokap lu tau?"
"Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung."
Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal.
Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja.
Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya.๏ฟผ
Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah,
jangan cuma pikirin jurusannya.
Tapi ajarin juga:
1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil.
2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan.
Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana.
3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang.
Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata.
4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan.
Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup.๏ฟผ
Soalnya begini.
Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah.
Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya:
"Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal.
Kita harus cari tau bareng-bareng."
Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun.๏ฟผ
Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu.
Kubu pertama bilang,
"Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar."
Kubu kedua bilang,
"Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha."
Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut:
Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya.
Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya.๏ฟผ
Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya.
Bukan karena malas. Bukan karena manja.
Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang.
Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.๏ฟผ
Kejadian batal nikah ini justru patut disyukuri karena ketidakcocokan nilai dan prinsip mereka terungkap lebih awal, sehingga mencegah konflik yang lebih besar di masa depan. Meskipun keberanian sang wanita untuk jujur patut diapresiasi dan keterkejutan pihak pria terhadap nominal mahar sangatlah wajar, sangat disayangkan emosi sesaat membuat respons yang keluar justru melukai hati dan seolah menjadikan pernikahan sebagai transaksi yang diukur dari masa lalu.
Pada akhirnya, perpisahan ini bisa menjadi petunjuk jalan terbaik sekaligus pelajaran berharga yang mendewasakan keduanya, dengan harapan kelak mereka dipertemukan dengan jodoh yang lebih sefrekuensi dan mampu saling menerima dengan ikhlas. โจ
"Pak TU Kampus"
"Iya gimana?"
"Ini kok saya dapet UKT tertinggi? Penghasilan Orang Tua saya gak segede itu?"
"Coba saya cek, kasih nama sama NIM?"
"Debi Pak, ini NIM saya."
"..."
"Ini ibu kamu PNS? Dosen?"
"Iya, cuma Ibu saya lagi tugas belajar, cuma terima gaji pokok doang, UMR juga gak sampai. Bapak juga udah gak ada."
"Waduh, kalau PNS emang biasanya UKT tertinggi, memang gitu aturannya di kampus ini."
"Hah? Terus gimana Pak?"
"Coba kamu apply KIPK. Ini dicek ya syaratnya."
***
"Bu Dinas Sosial."
"Iya gimana?"
"Saya mau cek orang tua saya di desil berapa di DTSEN, saya mau daftar KIPK."
"Minta NIK orang tua ya."
"Ini Bu, tolong dicek"
"Sebentar ya"
"..."
"Ini ibu kamu PNS? Dosen?"
"Iya, cuma Ibu saya lagi tugas belajar, cuma terima gaji pokok doang, UMR juga gak sampai. Bapak juga udah gak ada."
"Waduh, kalau PNS pasti kehapus dari DTSEN. Dari jaman DTKS juga rutin diapus. Perintah menteri sosial. Memang aturannya gitu."
"Hah? Terus gimana Bu?"
"Coba kamu pakai surat keterangan tidak mampu atau slip gaji ortu buat daftar KIPK."
***
"Pak Lurah, saya mau minta SKTM buat daftar KIPK"
"Kamu bukannya Debi, anaknya Bu Lala, dosen di kampus itu?"
"Iya Pak"
"Lah, penghasilannya bukannya lumayan?"
"Iya, cuma Ibu saya lagi tugas belajar, cuma terima gaji pokok doang, UMR juga gak sampai. Bapak juga udah gak ada."
"Bentar saya cek dulu aturannya, Ibu PNS kan ya?"
"Iya Pak"
"Saya kemarin dapet instruksi dari Pemda sini, katanya kalau PNS gak boleh dapet SKTM. Jadi saya gak berani keluarin."
"Hah? Terus gimana Pak?"
"Coba langsung pakai slip gaji Ibu ke Dikbud."
***
"Bu Dikbud."
"Iya gimana?"
"Saya mau daftar KIPK, cuma data ortu saya gak ada di DTSEN sama Pak Lurah gak bisa ngeluarin SKTM. Jadi pakai slip gaji."
"Sebentar saya cek ya."
"Ini slip gaji ibu kamu? PNS? Dosen?"
"Iya, cuma Ibu saya lagi tugas belajar, cuma terima gaji pokok doang, UMR juga gak sampai. Bapak juga udah gak ada."
"Waduh, kalau PNS emang gak bisa daftar KIPK. Kemarin pejabat tim teknis KIPK udah bilang kalau PNS gak boleh sama sekali."
"Sama sekali Bu? Gaji Ibu saya cuma segini?"
"Iya. Bahkan Golongan I juga gak boleh. Memang aturannya begitu."
"Hah? Terus gimana Bu?"
"Coba ke bank aja sama Ibu, siapa tahu bisa ada pinjaman"
***
"Bu CS Bank"
"Iya gimana?"
"Saya mau ajukan pinjaman buat bayar UKT anak saya"
"Baik Bu, saya cek dulu"
"..."
"Bu Lala, setelah kita cek penghasilan dan riwayat finansial, kita gak bisa kasih pinjaman."
"Kenapa Bu?"
"Mohon maaf Pak, resiko gagal bayarnya tinggi. Saya gak berani Bu, nanti saya yang kena."
"Waduh, terus gimana ini Bu?"
***
"Pak TU kampus, saya gak bisa dapet KIPK Pak"
"Udah coba pinjam bank?"
"Gak bisa Pak, penghasilan Ibu saya gak cukup."
"Coba ini, perusahaan fintech yang kerjasama sama kampus"
***
"Mas fintech, kalau saya pinjam 12.5 juta buat UKT, saya mesti nyicil berapa?"
"Sekitar 1.3 juta per bulan selama setahun"
"Wah jatuhnya 15.5 juta dong? Bunganya 3 juta sendiri?"
"Iya Mbak"
"Waduh, itu segede biaya hidup saya euy. Gak mampu bayarnya"
"Memang aturannya segitu pinjaman kita."
***
"Pak TU Kampus"
"Iya gimana?"
"Misalkan saya mau nunda kuliah jadi tahun depan, buat ngumpulin duit dulu, bisa gak?"
"Jadi gak daftar ulang pertama?"
"Iya."
"Gak bisa, kalau udah lulus ujian tahun ini, kamu diblacklist dari ikut ujian lagi tahun depan."
"Hah?"
Gue rasa gue masih cukup logis dalam menghadapi kecanduan ini.
Gue pernah jadi perokok aktif, tapi berhenti karena gue sadar belum punya gaji jadi duit gue ga banyak dan cuma nimbun penyakit..
Pernah di lingkungan p3mabuk juga, tapi akhirnya out karena ngerasa ga ada manfaatnya.
Main game? Dulu gue main bisa sehari 10-20 match, sekarang? Paling seminggu 3-5x doang buat hiburan atau kalau diajakin temen.
Kuncinya apa? Mikir. Mikir manfaatnya apa, mikir ruginya apa. Kalau lu udah mikir tapi belum bisa berhenti, coba cari aktivitas pengganti. Pasti bisa deh keluar dari candu2 duniawi ๐
@WOLF_of_IHSG nemu baca komen di yt dr tirta begini bunyinya:
โUsaha/bisnis kalo bangkrut itu bukan rugi, tapi rezekinya cuma segitu, rugi itu kalo di nerakaโ ~Aldi
Avatar Szeto dosanya paling banyak.
Intinya: Semua Avatar setelah Szeto itu kerjanya cuma nyebokin kesalahannya Szeto.
Szeto sibuk reunifikasi Fire Nations (Dulu bukan negara api, tapi konsensus antar clan), sampe meninggalkan kewajibannya sebagai Avatar buat wilayah lain.
Setelah reunifikasi, otoritas pemerintah pusat Fire nations jadi makin powerful dan bikin mereka jadi ultra nasionalis - fasis. (Isu ini diwarisin ke Avatar Roku dan karena Roku gagal, jadi diwarisin lagi ke Aang).
Pada zaman itu, setiap wilayah kebijakannya isolationism karena saling curiga satu sama lain (ini isu yang diwarisin ke Avatar Yangchen sebagai diplomat).
Nah karena si Szeto mewarisi banyak masalah duniawi jadinya Yangchen sibuk ngurusin duniawi. Spirit world gak keurus. Ini jadi masalah yang diwarisin ke Avatar Kuruk.
Avatar Kuruk kasian lagi istrinya diculik Facestealer. Jadinya dia harus beresin urusan Spirit World yang ditinggalkan Yangchen. Dia Avatar yang mati muda karena selama di spirit world dia gak bisa bending. Jadi berantemnya full adu mekanik.
Karena Kuruk sibuk di Spirit World, Kyoshi jadinya mewarisi masalah dunia.
Gitu aja terus sampe Aang berhasil jadi cebokan terakhir buat Avatar Szeto.
Tapi diberakin lagi sama Korra aowkwaowka
to the point aja, di pernikahan:
yg suami butuhkan:
- segs
- waktu sendiri kadang2
- diberi pengertian dan disupport
- enggak dibanding2in
- didukung tanpa ditekan terlalu keras
- kepercayaan
yg istri butuhkan:
- uang
- suami inisiatif bantuin kerjaan rumah dan anak tanpa diminta
- suami dengerin curhat istri
- partner diskusi 2 arah dan terbuka, bukan 1 arah
- kesetiaan
ya tentu bisa sama/gantian kebutuhannya tergantung kondisi dan orangnya, tapi kira2 itu bukan ya gaes???