Tahu gak kalian...,
Ada salah satu pasal dalam KUHAP baru yang bisa melindungi kita dari penyiksaan polisi pas di-Interogasi.
Saya perkenalkan:
Pasal 30 KUHAP Baru.
Intinya, saat lu di periksa, penyidik harus menyiapkan kamera pengawas selama pemeriksaan berlangsung.
Funsinya apa?
Selain mencegah penyiksaan terhadap tersangka, rekaman ini juga bisa jadi bukti kalau ternyata keterangan lu di berita acara dibelok-belokin sama penyidik biar lu keliatan salah
Bayangin aja kayak adegan interogasi di film-film Amerika yang selalu ada kamera pengawasnya itu.
Gimana, merasa aman gak kalian dgn ketentuan ini?
Lo ngerasa bosen mulu? itu karena jarang ngerjain side quest. Hidup itu nggak cuma kerja pulang kerja pulang plus rotting di tempat tidur doang.
Nih, 20 side quests yang bisa lo kerjain dikala bosen melanda.
"The professor for a reason."
Kalimat kayak gini makin sering gw lihat belakangan. Ferry dipuji, diorbitin jadi calon Menkeu, dianggap satu-satunya orang yang ngerti ekonomi di timeline.
Kebetulan gw baru kelar baca 3 dokumen beliau yang disebut @insidefolkative sebagai riset (walau di kemudian hari beliau bantah dan bilang bahwa itu hanya artikel biasa). Isinya rapi, penuh rumus, panjang, kelihatan banget hasil kerja keras. Di tengah timeline yang isinya cocoklogi, dia kelihatan seperti satu-satunya orang dewasa di ruangan.
Gelar professor tuh nggak datang dari tampang doang. Datangnya dari satu hal: kerjaannya siap dicek. Jadi gw cek, gw baca tiga dokumen kebanggaan pengikutnya itu, gw cocokin angkanya satu per satu sama data resmi. A thread🧵
Jawaban buat pertanyaan zee sebenernya udah jelas, namanya Telkomsel. Operator paling gede, paling kaya, paling banyak pelanggan di negeri ini, yang paling pertama maju dan paling lantang soal masa aktif 28 hari, lalu dengan entengnya bilang ini semua demi kebiasaan pelanggan. Seakan-akan jutaan orang Indonesia ngantri minta jatah internetnya dipotong dua hari tiap bulan.
Indosat ikut nimbrung, XL katanya ikut di sebagian paket walau katanya mayoritas paketnya masih 30 hari. Tapi yang ngebuka pintunya Telkomsel, dan mereka ngebungkusnya pakai kata manis soal customer behaviour. Padahal lo ga butuh gelar ekonomi buat ngerti, ga ada satu pun pelanggan yang behaviour-nya pengen bayar lebih sering buat barang yang sama.
Mainnya halus, makanya jarang ada yang ngeh. Setahun ada 365 hari. Masa aktif 30 hari berarti lo beli 12 kali. Begitu jadi 28 hari, lo dipaksa beli 13 kali buat nutup tahun yang sama. Satu belanja ekstra, tiap tahun, dikali puluhan juta pelanggan. Simulasi IDN Times nyebut selisihnya bisa sekitar Rp100 ribu per orang per tahun, walau angkanya tergantung ke paket dan pola pakai, jadi cek lagi sesuai kasus lo. Kecil di kantong lo, tapi jadi gunung everest di laporan keuangan mereka.
Belum kelar di situ. Sisa kuota yang udah lo bayar bakal hangus begitu masa aktif lewat. Operator ngotot istilah hangus itu ga tepat, katanya yang lo beli cuma hak akses jaringan buat periode tertentu, dianalogiin kayak obat yang ada tanggal kadaluarsa. Tapi pas PLN diseret ke sidang, mereka jelasin token listrik ga pernah hangus, karena yang ngurangin saldo itu pemakaian, bukan jam dinding. Pertanyaannya, kenapa listrik bisa, internet enggak?
Soal hukum gw ga mau lebay, sampe detik ini belum ada putusan yang nyatain operator bersalah, karena perkaranya emang masih jalan. Yang nggugat bukan orang gede, cuman pengemudi ojol Didi Supandi dan kawan-kawan, plus sekelompok mahasiswa hukum, yang nilai kuota dihapus sepihak tanpa kompensasi adil itu nabrak hak atas harta benda di UUD 1945. Dan lo tau siapa yang pasang badan belain operator? Pemerintah sendiri, lewat Komdigi, yang bilang rollover atau refund bakal nambah beban biaya.
Jalannya berdarah-darah. Satu gugatan emang udah dipentalin MK pertengahan Mei 2026, tapi gugurnya gara-gara berkasnya dianggap kabur, bukan karena isunya kalah. Ibarat lamaran ditolak gara-gara formulirnya nggak lengkap, bukan gara-gara orangnya nggak layak, hakim bahkan belum sempet nimbang inti perkaranya. Tiga gugatan lain masih bertahan dan lagi diperiksa isinya. Di sidang, ada hakim yang nanya tajem ke operator, "kok kuota belum habis tapi udah hilang". Dari luar, YLKI ikut ndorong. Jadi tekanannya datang dari dua arah sekaligus.
Tapi apakah bisa menang?
Di Afrika Selatan, rakyatnya ngeluh soal hal yang sama persis bertahun-tahun, kalah terus, sampe akhirnya regulatornya nyerah dan maksa operator ngerollover otomatis kuota yang belum kepake mulai 2027. Bedanya, di sana yang ngalah duluan itu lembaga pengawasnya yang bikin aturan baru, bukan hakim lewat pengadilan. Di kita malah sebaliknya, lagi diperjuangkan lewat gugatan ke MK. Beda pintu masuk, jadi belum tentu hasilnya bakal sama.
Sejarah udah berkali-kali ngebuktiin, raksasa kayak gini tunduk bukan gara-gara digoyang orang gede. Tapi karena orang-orang biasa yang capek haknya dirampok diam-diam, lalu mutusin buat ga diem. Pertanyaannya tinggal satu, dia bakal menang, atau jadi tumbal yang namanya kita lupain begitu palu diketok?
Kalian pasti tahu pemilik x sekarang
itu elon musk
Elon Musk secara teknis miskin
Bukan miskin dalam arti tidak punya apa-apa.
Tapi miskin dalam arti:
uang cash yang dia pegang di rekening itu kurang dari 0,1% dari total kekayaannya.
Orang terkaya di dunia
tapi hampir tidak pegang uang tunai.
Bagaimana bisa?
Karena net worth bukan isi rekening.
Ini yang paling sering bikin orang salah paham.
Ketika media bilang kekayaan Elon Musk 300 miliar dolar itu bukan angka di rekening banknya.
Itu adalah nilai kepemilikan sahamnya di Tesla, SpaceX, xAI, dan X.
Kalau valuasi Tesla naik angka kekayaannya naik.
Tapi uang di rekeningnya tidak bertambah sepeser pun.
Karena sahamnya belum dijual.
Masih berupa ownership kepemilikan di atas kertas.
Dan selama saham itu tidak dijual secara hukum itu bukan penghasilan.
Bukan objek pajak penghasilan.
Dan di sinilah sistem pajak bekerja dengan cara yang tidak pernah diajarkan di sekolah:
Di Amerika dan di hampir semua negara pajak penghasilan dikenakan atas realized income penghasilan yang benar-benar terealisasi.
Gaji, dividen, keuntungan dari penjualan aset.
Kalau saham naik tapi tidak dijual itu unrealized gain. Keuntungan yang belum terealisasi.
Dan di kebanyakan sistem pajak itu tidak kena pajak.
Jadi Elon Musk bisa kekayaannya naik puluhan miliar dolar dalam satu tahun tanpa membayar pajak penghasilan hampir sama sekali secara legal dan sesuai aturan yang berlaku.
ProPublica pernah membongkar data pajak orang-orang terkaya Amerika dan menemukan bahwa beberapa di antaranya membayar effective tax rate yang lebih rendah dari pekerja biasa bergaji menengah.
Bukan karena mereka curang.
Tapi karena sistemnya memang dirancang atau dibiarkan seperti itu.
Cara mainnya lebih canggih dari sekadar tidak jual saham:
Orang super kaya seperti Musk tidak perlu jual saham untuk dapat uang tunai.
Mereka meminjam uang dari bank dengan menjadikan saham sebagai jaminan.
Mekanismenya:
Saham senilai 50 miliar dolar dijadikan collateral
Bank meminjamkan cash puluhan miliar
Pinjaman bukan penghasilan tidak kena pajak
Uang pinjaman dipakai untuk hidup, berinvestasi, membeli perusahaan baru
Cicilan dibayar dari dividen atau pinjaman baru
Saham aslinya tidak pernah dijual nilainya terus naik
Ini yang disebut "Buy, Borrow, Die" strategi
yang sudah lama dipakai kalangan ultra-kaya:
Beli aset produktif.
Pinjam uang menggunakan aset sebagai jaminan. Meninggal dan aset diwariskan ke ahli waris dengan basis pajak yang direset.
Tidak ada pajak capital gains besar yang pernah dibayar sepanjang hidupnya.
Kenapa ini penting untuk dipahami bukan untuk iri, tapi untuk melek:
Orang kebanyakan bekerja untuk menghasilkan gaji. Gaji itu langsung kena pajak penghasilan.
Sisanya dipakai untuk konsumsi atau disimpan di deposito yang bunganya juga kena pajak.
Orang kaya membangun kepemilikan aset.
Aset naik nilainya tanpa kena pajak selama tidak dijual.
Kalau butuh uang pinjam.
Kalau butuh lebih banyak pinjam lebih besar.
Sistem ini bukan rahasia.
Bukan konspirasi.
Ini adalah cara kerja sistem keuangan modern yang memang lebih menguntungkan mereka yang sudah punya aset dibanding mereka yang hanya punya tenaga kerja.
Dan pertanyaan yang sebenarnya lebih penting dari sekadar mengagumi Musk:
Apakah sistem yang memungkinkan orang terkaya di dunia membayar pajak efektif lebih rendah dari guru SD itu adil?
Ini bukan pertanyaan yang mudah dijawab.
Ada yang berargumen bahwa kekayaan Musk menciptakan lapangan kerja dan inovasi yang menguntungkan semua orang.
Ada yang berargumen bahwa sistem ini secara struktural memperlebar kesenjangan.
Keduanya punya poin.
Dan keduanya layak untuk diperdebatkan secara serius bukan dihindari karena dianggapiri.
Yang bisa diambil untuk kehidupan sehari-hari:
Mindset perbedaannya sederhana tapi dampaknya besar.
Orang yang hanya fokus pada cash akan selalu terbatas pada seberapa banyak mereka bisa menghasilkan per jam atau per bulan.
Orang yang mulai membangun kepemilikan aset saham, properti, bisnis, apapun yang nilainya bisa tumbuh sendiri sedang membangun sesuatu yang bekerja bahkan saat mereka tidur.
Ini bukan nasihat untuk tidak bekerja.
Ini adalah kesadaran bahwa cara orang kaya berpikir tentang uang fundamentally berbeda dari cara kebanyakan orang diajarkan untuk berpikir tentang uang.
Cash itu liquid.
Tapi aset itu leverage.
Dan leverage dalam skala apapun adalah yang membedakan orang yang bekerja untuk uang dan orang yang membuat uang bekerja untuk mereka.
Guru madrasah swasta berdemonstrasi agar diangkat menjadi ASN PPPK, kemudian dicemooh karena yang menggaji guru swasta adalah yayasan, bukan kewajiban negara. Tapi negara bisa mengangkat pegawai SPPG dibawah naungan Yayasan swasta menjadi ASN PPPK.
Persoalannya, anggaran yang digunakan untuk mengangkat pegawai SPPG dibawah Yayasan/ Swasta menjadi PPPK adalah anggaran pendidikan, yang seharusnya bisa digunakan untuk mengangkat guru madrasah swasta menjadi ASN PPPK.
Suatu malam, Budi ktemu orang merangkak di bawah lampu jalan
"Lagi apa Pak?"
"Dompet saya jatuh"
"Oh saya bantu mencari ya"
30 menit dicari gak ketemu2
"Bapak yakin jatuhnya di sini?"
"Kayaknya di jalanan gelap itu mas"
"Kok nyarinya di sini?"
"Ya gmn, Soalnya yg terang di sini"
Seruu. Dulu di akhir masa kuliah join tokyobike dan handle Instagram untuk unit business retailnya. Secara produk sebenrnya SND jualan Hobbies Fashion Music Photography dan Art. Tapi post instastory dan feed review kuliner atau tempat nongkrong juga, dan mayan bagus trafficnya
Contoh penerapan teori ‘jangan on the nose’ dalam dunia kreatif.
**
Salah satu klien terunik selama bikin company yang ngurusin personal branding orang-orang.
Niche Batik, dengan latar belakang sebagai generasi kedua pengusaha Batik di Cirebon.
Ketika fokus ngomongin Batik, rada tricky untuk dapet attention audience. Eh, pas ngomongin kuliner, langsung naik!
Inilah manfaat merancang content pillar tanpa terlihat ‘belok’. Membedah klien bukan hanya dari ekspertis, tapi kampung halaman, kebiasaan, dan sisi-sisi yang bisa ditwist.
Artinya, ketika kita ingin ‘bikin konten soal batik’, belum tentu kontennya harus soal ngebahas batik tok, tapi ternyata bisa juga bahas kuliner sambil pake batik.
Gausah edgy kalau om tante di kampung nanya
"kapan lolos? kapan kerja? kapan nikah?"
karna mereka taunya cuma itu. masa expect mereka nanya "integrasi OpenClaw ke telegram caranya gimana?"
jawab baik-baik aja. dan jangan ulangi ke anak/ponakan kelak
toh ketemu juga jarang
Ini benar. Bom waktu Jokowi bukan cuma ini.
Debt to GDP ratio naik. Cash flow BUMN karya dikorbankan. Profit PTBA digunakan membiayai KCIC. Belum sisa IKN. Banyak yg dibangun, tapi banyak yg sia2 juga.
Prabowo gasak dana desa dan pendidikan krn memang sdh tdk ada sumber lain.