Sosiolog Arlie Hochschild mempopulerkan konsep The Second Shift.
https://t.co/EjaYPHIHIH
Faktanya, bahkan di era modern di mana perempuan bekerja full-time mencari nafkah, mereka tetap memikul persentase pekerjaan rumah tangga dan beban emosional keluarga (mengasuh anak, mengurus mertua, mengatur jadwal) secara jauh lebih besar.
Jika perempuan tidak selektif dan mendapatkan pasangan yang patriarkis, ia akan bekerja dua shift setiap hari sampai fisiknya hancur dan mentalnya terkuras.
"Kelas Menengah" itu adalah delusi ya gaes,
Elu itu adalah kelas miskin yang kebetulan punya bemper keuangan bangsa 1-2 bulan
You are 1-2 month away from poverty
Adik-adik, kakak-kakak semuanya. Kali ini gw mau bicara tentang sesuatu yang sudah menyiksa rakyat Indonesia selama bertahun-tahun. Bukan korupsi. Bukan inflasi. Tapi sesuatu yang lo rasain setiap kali mau mudik atau liburan dan buka aplikasi Traveloka, lalu langsung menutup aplikasinya lagi karena tidak sanggup melihat angkanya.
Yes. Tiket pesawat domestik Indonesia. Yang harganya bisa lebih mahal dari tiket ke luar negeri. Yang bikin relawan bencana harus muter lewat Malaysia dulu baru bisa ke Aceh. Yang udah dikeluhkan jutaan orang tapi tidak pernah beneran berubah.
Gw udah baca risetnya. Gw udah cek datanya. Dan sekarang gw mau cerita ke lo semua, pelan-pelan, dengan bahasa yang bisa dimengerti semua orang, kenapa ini terjadi dan siapa yang sebetulnya diuntungkan dari penderitaan kita bersama. 🧵
Respect banget sama cewek-cewek yang lagi hancur banget hidupnya tapi masih pegang prinsip “hidup harus lanjut”
Tadi liat ada cewek lagi jaga toko roti, pagi-pagi lagi nangis… tapi begitu ada customer dateng, langsung hapus air mata terus tetep ngelayanin dengan ramah
Semoga abis ini kamu dapet hal yang jauh lebih baik dan bikin bahagia ya kak, asli liatnya ikut nyesek 🥹
Sebagaimana dokter Tenma Kenzo harus hidup dengan konsekuensi dari menyelamatkan Johan Liebert di masa lalu, Indonesia harus hidup dengan konsekuensi menyelamatkan Meutya Hafid di masa lalu
We’re raised to believe the man “carries the bloodline” because of his last name.
But biologically, that’s not how it works.
Mitochondrial DNA the part of you that powers every cell is passed only from your mother, unchanged, generation after generation and only a female can pass it forward.
So while names shift and change,
the only lineage that truly never breaks is a woman.
Di Eropa nyetir 4 jam udah pindah negara.
Indonesia :
Nyetir 4 jam di Pulau Jawa udah pindah provinsi.
Nyetir 4 jam di Pulau Sumatra masih di satu provinsi.
Nyetir 4 jam di Pulau Kalimantan masih di satu kabupaten.
Nyetir 4 jam di TB Simatupang jam pulang kantor masih dalam satu kecamatan.
Kemarin bantu resusitasi bayi baru lahir, bayi awalnya biru, gerak dikit dan diem aja. Habis masukin infant warmer biasa tuh ditepuk tepuk biar nangis, tapi ni bayi gak nangis nangis, nyletuk lah gw "nangis yang keras boy kamu WNI" dan seketika nangis si bayi. Momentumnya pas 🤣
Gimana tanda kalo dia adalah jodoh kita?
Rasa tenang.
Bukan perasaan yg menggebu2, tapi ada perasaan tenang yg aneh. Seperti pulang ke rumah setelah lama pergi. Seolah kita yakin, kalo dia jodoh kita. Bukan cuma cocoklogi.
Selanjutnya, kita jg ngerasa jadi diri sendiri. Gak ada yg namanya kepura2an. Gak selalu jaim di depan dia. Gak ada kekurangan yg ditutupi. Dgn jodoh, topeng itu jatuh dgn sendirinya.
Tanda lainnya, kalo diskusi sm dia kerasa beda. Sekalipun beda pendapat atau berdebat. Marah, tapi gak pengen menyakiti. Capek, tapi gak pengen pergi. Ego kita gak lebih besar dari kemauan utk ngejaga hubungan.
Kalo kita ketemu dia, bawaanya pengen jadi versi yg lebih baik, bukan karena dituntut. Tapi, kehadirannya bisa menginspirasi utk terus tumbuh lebih baik.
Katanya, jodoh itu tenang, aman, dan mendorong ke arah lebih baik. Ketemu jodoh itu ibarat menemukan bagian diri yg hilang. Dan ketika bersama seolah tubuh kita jadi lengkap.
Ini kesimpulan yg saya dapatkan, dari hasil ngobrol sm orang lain dan ngerasainnya sendiri.
That's a smooth box crab.
It's "protecting" a female crab that it has kidnapped, so it can mate with her.
And I do mean kidnap. As, often they straight up kidnap underage female crabs and wait for them to grow up, so they can mate with them.
Basically he is Jeffrey Crabstein.
Went down the rabbit hole on this. A Nobel Prize-winning immunologist noticed in 1907 that Bulgarian peasants were living past 100 at unusually high rates. His explanation: they ate yogurt every day. His name was Élie Metchnikoff, and he ran the Pasteur Institute in Paris.
His lecture made front-page news. Parisians lined up to buy Bulgarian curdled milk. Drugstores across Europe and the US started selling Lactobacilline tablets, basically the world’s first probiotics. But his original theory was partially wrong. The specific bacteria in yogurt (Lactobacillus bulgaricus) don’t actually survive in the human gut. A Yale researcher proved that in 1921.
Should’ve been case closed. It wasn’t.
In 2021, Stanford ran a clinical trial published in Cell with 36 healthy adults over 10 weeks. One group ate about 6 daily servings of fermented foods (yogurt, kefir, kimchi, kombucha). The other ate high-fiber foods. The fermented food group saw their gut bacterial diversity increase, which is one of the strongest predictors of overall health, and 19 inflammatory proteins in their blood dropped. Including interleukin-6, a protein tied to Type 2 diabetes, rheumatoid arthritis, and chronic stress. The high-fiber group? Zero of those 19 proteins decreased.
That same year, a Keio University and Broad Institute team studied 160 Japanese centenarians (average age: 107) and published in Nature. These centenarians had gut bacteria producing a bile acid called isoallolithocholic acid, basically a natural antibiotic so new to science it had never been described. It kills drug-resistant bacteria, including C. difficile, a gut infection that hits roughly 500,000 Americans a year.
A 2023 Nature Aging study of 1,575 people in China, 297 of them centenarians, found the oldest participants had gut microbiomes that looked younger than people decades below them. More bacterial diversity, more beneficial species, fewer harmful ones.
The yogurt meta-analysis data across 12 cohort studies: each additional daily serving is linked to 7% lower all-cause mortality and 14% lower risk of dying from heart disease.
Metchnikoff called it 119 years ago. Fermented foods reshape your entire gut ecosystem, increasing the diversity of bacteria living in your intestines, lowering chronic inflammation, and building a biochemical environment where your body fights off disease on its own.
The hardest psychological pill you will ever have to swallow is realizing you are a victim of the "Mirror Fallacy."
You keep getting betrayed, used, and disappointed by people, and you sit around wondering why you have such bad luck. You don't have bad luck. You have a massive projection problem.
You keep looking at other people and expecting them to have your heart, your work ethic, and your sense of loyalty. You assume that because you would never lie to them, they would never lie to you. Because you would give them your last dollar, they would do the same.
People do not operate with your moral compass. Stop projecting your own character onto people who have repeatedly shown you they operate on pure survival and selfishness. You are breaking your own heart by expecting lions to eat grass just because you are a vegetarian.
Ini jokes tapi nyelekit banget karena terlalu nyata.
2021 semua orang bilang WFH adalah masa depan. Produktivitas naik. Work life balance membaik. Tidak perlu buang 3 jam sehari di jalan cuma buat duduk di depan laptop yang sama.
2024 komprominya hybrid. Dua tiga hari di kantor. Sisanya dari rumah. Semua orang bisa hidup dengan itu.
2026 tiba tiba balik lagi. Empat hari seminggu di kantor. Dan alasannya satu kata yang tidak bisa dibantah tapi juga tidak bisa dibuktikan.
Kultur.
Kita butuh kultur yang kuat. Kita butuh kolaborasi. Kita butuh energy yang cuma bisa ada kalau semua orang ada di satu ruangan.
Dan realitanya di ruangan itu?
Semua orang pakai noise cancelling headphones. Kepala menunduk ke layar masing masing. Tidak ada yang ngobrol. Tidak ada yang brainstorming spontan. Tidak ada magic kultur yang dijanjikan.
Yang ada cuma orang orang yang sama, ngerjain pekerjaan yang sama, yang bisa mereka kerjain dari rumah, tapi sekarang harus buang waktu dan uang buat transport dulu sebelum bisa mulai.
Dan ini relate banget di Indonesia.
Macet Jakarta rata rata 3 jam pulang pergi. Itu 60 jam sebulan. 720 jam setahun. Tiga puluh hari penuh dalam setahun habis di jalan.
Bukan buat meeting penting. Bukan buat kolaborasi yang tidak bisa dilakukan secara digital.
Tapi buat duduk di kantor sambil pakai headphones supaya tidak terganggu rekan kerja.
Yang paling ironis keputusan balik ke kantor ini hampir selalu datang dari orang yang kantornya punya parkir khusus, ruangan sendiri, dan tidak merasakan macet yang sama dengan karyawannya.
Kultur yang mereka maksud itu nyata.
Tapi kulturnya adalah bos bisa lihat lo duduk di kursi. Dan kalau bos bisa lihat lo duduk berarti lo kerja.
Bukan soal produktivitas. Bukan soal kolaborasi.
Soal kontrol.