@Unhan_RI Terimakasih atas adanya progam SPPI Batch 3, hal ini membuka peluang kerja bagi kami freshgraduate, semoga yang mengikuti pendidikan nantinya dapat berkontribusi bagi jalannya makan siang gratis.
@nadeongg Abee, pergilah dengan orang yang selalu kau sebut dengan sebutan onty, jika suatu saat nanti dia mengecewakan mu, percayalah ada angkel mu ini yang selalu ada di belakang mu, selalu.
Kalau urusan kemanusiaan kesampingkan pilihan capres, pesta demokrasi telah usai. Dukung argument yang menyuarakan Palestina seperti halnya Husein. Saat ini sudahi saling menghujat berlaku untuk pendukung 01, 02 dan 03 dan mari bahu membahu membantu satu sama lain✌🏻
Kalo boleh jujur dari hati terdalam, Saya sebelumnya hanya sebatas “greget” ga sampe “marah” saat dihujat. Cuma kali ini pas kasus Rafah, Saya sakit hati hati. Saya marah. Cuma kesannya buruk banget ga sih kalo ngamuk2 di Tiktok. Makanya diem aja.
All Eyes on Rafah!🇵🇸
@nadeongg Beli obat Dexsamethasone 0,5 mg harga sekitar 3k
Bisa juga beli Troces (ini termasuk antibiotik jadi harus habis) harga 17k
Bisa pakai bahan alami seperti nanas
Rumitnya universitas milik negara tentang UKT ini adalah problemnya ada banyak sisi.
***
Parahnya keempatnya saling kontradiksi:
1) Universitas dituntut mandiri dan memenuhi standar tinggi: akreditasi dikti, penelitian, publikasi, menjalankan kuliah semua itu butuh dana. Dan semua itu cost center bukan profit center.
2) Untuk memenuhi 1): berarti dia dituntut untuk dapat investasi, sustain, profitable, seperti menjalankan bisnis. Berarti dia ada motif ekonomi.
3) Salah satu sumber dana paling mudah: UKT mahasiswa, pemasukan yang stabil dan pasti, kalau mau sustain maka UKT harus dimahalkan. Tapi ini mengorbankan misi sosial, mencerdaskan kehidupan bangsa.
4) Misi sosial ini diatur dengan regulasi UU dikti 12/2012, di mana universitas harus terjangkau dengan memfasilitasi mahasiswa yang kesulitan bayar UKT.
***
TLDR: dia dituntut harus jadi perusahaan dan panti sosial sekaligus.
Gimana caranya? Embuh. Ruwet.