Waktu kita habis, ucapmu. Aku terdiam cukup lama. Tambah sedikit lagi. Aku masih ingin sedekat ini, pintaku. Kau tak bisa kulepaskan begitu saja. Aku tak bisa meninggalkanmu dengan mudahnya. Ikatan itu aneh. Tak terlihat namun sangat erat.
dan sekiranya masih ada perasaan itu, izinkanlah aku sekali lagi singgah di sana. jika tak mungkin menetap lama. habiskan sehari untuk berdua mengenangkan kita. sisanya, tentu saja melanjutkan sisa luka.
rasanya aneh. kau tahu masih ada rasa itu. aku tahu kau merasakan hal yang sama denganku. tapi, kita tak menemukan jalan sejalur, kita menjalar bersimpang. dengan lubang di dada masing-masing. asing. makin asing.
Pernah keliru memilih.
Pernah salah mendamba.
Pernah kehilangan akhirnya.
Sudah belajar bersabar.
Sudah mengerti dan sadar.
Tidak semua janji berakhir manis.
Kadang ingkar dan tangis.
Seharusnya kita punya lebih banyak cerita untuk dilanjutkan. Jika saja, hari itu, kau tidak memaksa dirimu menghentikan semua rancangan. Peluk tidak bisa dieratkan lagi. Meski bertemu masih ada sesekali.
Seharusnya kita punya kesempatan lebih banyak untuk menaklukan tantangan. Jika saja, hari itu, kau tidak menantang dirimu untuk melepaskan semua ikatan. Waktu tak bisa dibeli lagi. Meski rindu terasa dalam sekali.
Kini, kita bisa saling tatap sekejap, sebelum berakhir saling tinggal dan lenyap. Kita bisa saling doa dari jauh; berharap bisa tetap bahagia dengan hidup masing-masing meski doa itu tersampaikan dengan rapuh.
sebab kau pernah jadi jantungku
yang kemudian menikam diri sendiri
hingga tiada sampai alir darah itu lagi
habislah aku sebelum bernapas dalam dirimu
tidakkah kau dengar detak mendebarkan dada
ada yang retak di ujung nyawa tergesa-gesa
Sebenernya yang bikin sedih dari kehilangan Mama bukan karena nggak ikhlas. Aku ikhlas, sangat ikhlas. Bahkan sempat berdoa, kalau memang Mama nggak bisa sembuh, kalau memang penyakitnya nggak bisa diangkat, tolong jangan diberatkan lagi. Karena aku ngeliatnya sangat nggak tega.