papaku jg bilang gini, tapi kalau anggota keluarga 4 orang itu : 1 bapak 1 ibu dan 2 anak, berarti idealnya income 6x UMR. karena 1 anak butuh biaya hidup dan pendidikan jg jadi idealnya kalau mau “hidup nyaman” 1 anak 2x UMR. 😌
kalau mau punya 1 anak usahakan income 4x UMR
“UMR itu sebenarnya cukup untuk hidup layak… buat satu orang.
Jadi, kalau anggota keluarga ada 4 orang, idealnya mengusahakan income 4x UMR”
Dulu ngedengar ini entah dari siapa. Yang pasti, kalimat ini membekas banget dan memantik perjalanan side hustle sampai sekarang 🔥💪🏻
Hot take. IMO sebelum menyemplungkan diri dalam relasi, kita tu harus punya batas untuk toleransi. Kita tau yg kita pacarin tu bukan manusia sempurna, tp biar ga suffering, kita harus tau batas itu.
Contoh: aku gpp misal dia ga bisa masak, aku gpp kalo dia pelupa, aku gpp kalo dia ga punya hobi yg sama dgn aku, aku gpp misal he make money less than me.
Aku ga bisa toleransi cowo bingung, ga bisa toleransi pembohong, ga bisa toleransi misoginis, ga bisa toleransi main tangan, ga bisa toleransi ngomong kasar, ga bisa toleransi cowo goblok.
Nah krn aku tau batasan yg ga bisa aku toleransi, jad aku ga pernah ada dlm toxic relationship so far. Karena aku punya standar, dan aku mengomunikasikan dari awal hal-hal yg ga bisa aku toleransi.
High intelligence often comes with heightened pattern recognition. You start noticing social masks, forced conversations, performative friendships, hidden motives, emotional immaturity, and energy that feels draining instead of nourishing. Many highly intelligent people also have more active nervous systems, deeper inner worlds, and lower tolerance for superficial stimulation, so solitude can feel safer than constantly shrinking themselves to fit environments that don't feel aligned.
disappearing from someone's life without giving them any explanations is denying the person as a human being and treating them as unworthy and that it's just cowardly because you're choosing your comfort over confrontation...? It’s like discarding their humanity.
-Gerrett Graham
dunia semakin diteguk itu semakin haus
dunia kalau udah dimakan lebih sakit buat dimuntahin kan? yang ga makan jg menahan perih tapi tak bisa berteriak
Ternyata laparnya orang-orang kaya dalam episode mbg ini, jauh lebih keras raungannya dibanding suara anak-anak yang dikatakan jadi tujuan utama. Akhirnya, kita memang patut bertanya ulang, siapa sebenarnya yang paling diuntungkan.
That’s why cobain apapun yang ada di dunia ini while you’re in 20s, because you only live once and ✨you’ll never go back to the life you had in 20s✨
Kayak kakak gue selalu ngomong, “enak ya lu udah sering ke pantai, ke luar negeri, naik gunung, main terus sama temen-temen lu” and i’m just thinking WHY DON’T YOU?
Prinsip gue: take as many chances as possible because i don’t wanna have any regrets!
semoga Allah mengganti rasa sakitmu ini dengan kebaikan dan surga
sakit bgt cuma baca dan bayangin
saya ga ditawarin makan sama teman satu grup perjalanan aja udah sedih, apalagi ini sama suami 😭
Lahiran anak kedua gue SC di rscm, gue minta buru2 pulang, kepikiran anak sulung yg masih kecil, Akhirnya gue tanda tangan surat perjanjian kalo RS ga tanggung jawab sama luka gue.
Lu bayangin pulang2 cucian segunung kaga di cuciin sama mantan suami, kamar berantakan bau roko, abunya dipiring, dia ga bawa turun piring kedapur, waktu itu masih tinggal sama mertua..
Akhirnya gue nyuci pake mesin cuci. Trs buku nikah di tas kecuci dan ancur, gue beneran lupa narok buku nikah disitu, mgkn itu udah pertanda.
Trs tetangga gue liat "Evi, itu darah kamu rembes dr daster banyak banget" gue jawab "gpp biar peredaran darah lancar" pdhl gue boong, gue malu punya suami tapi ga berguna.
Trs gue ga ditawarin makan padahal gue harus asi, anak gue masih itungan hari butuh asi yg banyak. Akhirnya gue jalan ke warteg dengan gendong 2 anak yg masih kecil. Darah gue masih rembes 😹
Keren kan gue masih idup. Soalnya gue sempet baby blues.
Jadi inget kutipan di buku ini
"Kalau kamu menghilangkan semua kesalahan yang terjadi di masa lalu, versi dirimu yang sekarang akan hilang. Kamu menjadi dirimu yang sekarang karena semua pengalaman dan kesalahan yang terjadi di masa lalu".
"Memang goblok itu suatu kondisi natural. Tapi menurutku, orang goblok tetap perlu dihukum. Dan inilah hukuman untuk orang goblok: Mereka perlu belajar dari kesalahannya".