Bakda Muktamar 35 ini, saya melihat orang-orang semakin jauh dari semangat Nahdliyyah -kebangkitan, kemajuan- alih-alih kita semakin mundur.
Yg kita bicarakan non-substansial, tuduh sana tuduh sini. Hampir semuanya cuma gegeran.
Hmmm.
Begini ya kualitas orang NU?
Orang kalau sudah jawab pakai “jagoannya kalah”, berarti udah menthok dan gak punya apa-apa lagi.
Kesulitan menjelaskan, akhirnya yang tidak relevan pun dipakai.
🤭
Lerres sekali, ra.
Tapi terlalu naif juga jika menggeneralisir. Apalagi dikemukakan kembali hanya karena membela “kiyai panjenengan” pada dinamika Muktamar ini.
Kita lahir dari latar belakang yg sama, ra. Maka alangkah baik jika kita sama-sama menjaga, tidak menjatuhkan.
Husnuzzan bagi para santri hanya berlaku ke kiainya sendiri. Adapun kiai orang lain ora urus. Sama seperti konsep adab fauqal ilm yg ke sana kemari mereka kampanyekan, hanya berlaku ke kiainya sendiri.
Ini pedih tapi fakta dan sudah sejak dulu saya katakan.
@husain_fahasbu Agak ambigu panjenengan, ra.
Dalam beberapa postingan mengajak kami sebagai santri agar Husnudzan. Tapi di postingan lain anda sendiri yg Suudzan.
Hmm.
Kalo emang suudzan, ditampakkan saja, ra. Tidak baik berlindung di belakang kata-kata bijak.
Sampai saat ini, saya kadang geleng-geleng sama muhibbin Kiyai terpilih Muktamar.
Bisa-bisanya mereka belum sadar (atau memang tidak menyadarkan diri) atas lobi-melobi kursi. Belum lagi manuver sukolilo yg begitu sarih menggiring suara pada salah satu calon mu’ayyan.
Terima kasih yang nyaris tak mampu saya temukan cara mengungkapkannya, kepada para masyayikh, Syaikhina KH Nurul Huda Djazuli, Syaikhina KH Anwar Manshur, dan masyayikh Ploso-Lirboyo.
Terima kasih atas pengayoman, terima kasih atas naungan berkah, quwwah ruhaniyah yang melindungi kita semua dari hal-hal yang tak diinginkan oleh jam’iyah dan jamaah.
Saya kira sudah tepat untuk menyebut Munas & Konbes Ploso ini sebagai penegasan, bahwa para masyayikh adalah gantungan bagi kemaslahatan kita semua.
Terima kasih kepada para peserta yang berjibaku merumuskan keputusan-keputusan yang bermanfaat, menyatukan, demi kemaslahatan jam’iyyah dan jamaah NU yang kita cintai.
Alhamdulillah tsummal hamdulillah tsummal hamdulillah.
HARI-HARI YANG MENENTUKAN SEJARAH AMERIKA DAN IRAN: PERANG ATAU DAMAI?
Jenewa kota yang indah, damai dan saat ini hawanya sejuk. Namun, jam-jam ini, hari-hari mendatang, kota yang penuh legenda ini bisa menjadi saksi sejarah. Bisa melahirkan sebuah “game change” yang berimplikasi besar pada perkembangan dunia.
Di penghujung Februari 2026 ini, tengah berlangsung sebuah perundingan dan negosiasi yang sangat penting. Juru runding Amerika Serikat tengah melakukan pertemuan tidak langsung (melalui mediator) dengan juru runding Iran. Banyak kalangan yang tengah menunggu hasil negosiasi itu, utamanya bangsa-bangsa di kawasan Timur Tengah. Sukses atau gagal? Bawa kedamaian, atau sebaliknya menyulut terjadinya peperangan yang dahsyat?
Semua tahu bahwa negosiasi, utamanya menyangkut masa depan proyek nuklir Iran itu sesuatu yang sangat rumit dan tidak mudah untuk membangun opsi yang bisa diterima kedua belah pihak. Kepentingan kedua negara sangat berbeda. Ketika perundingan tengah berlangsung, di kawasan Timur Tengah sedang berhadap-hadapan dua negara yang siap berperang. Para juru runding juga harus cerdas membaca pikiran kedua pemimpin yang memberikan mandat pada mereka, Presiden Trump dan Ayatullah Khamenei. Membangun “harmoni” antara juru runding dengan para bosnya mungkin juga sesuatu yang tidak mudah.
Sebagai seorang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam resolusi konflik, baik pada tingkat nasional maupun internasional, saya mesti mengatakan bahwa sebuah negosiasi itu sangat melelahkan. Perlu kesabaran, kecerdasan, dan keuletan. Siap untuk berkompromi serta bersedia untuk sebuah “take and give”. Keinginan dan sasaran yang digariskan oleh kedua pemimpin negara juga harus sangat dimengerti.
Khusus negosiasi Amerika-Iran ini, saya mengamati bahwa kedua pemimpin mereka, Donald Trump dan Ali Khamenei memiliki “uniqueness”. Keduanya memiliki ego, ambisi dan juga “personal interest”. Trump khawatir kalau sampai gagal, reputasi serta “legacy” indah yang ingin diraih bisa hancur berantakan. Ali Khamenei juga khawatir kalau sengketa sengit dengan Amerika ini, jika nasibnya naas, bisa berakhir dengan pergantian rezim dan “he must go”. Berarti, ini merupakan “survival interest” buat pemimpin Iran itu.
Banyak pihak yang memprediksi atau menyimpulkan jika perundingan ini gagal, maka perang besar pun akan segera meletus. Ibaratnya kondisi sudah matang. Tinggal menunggu komando Trump dan Khamenei.
Pendapat saya, terjadinya perang yang seolah diniscayakan itu, bisa iya, bisa tidak. Apalagi kalau para jenderal di kedua belah pihak, terus mengawal pengambilan keputusan para pemimpinnya. Trump dan Khamenei tidak akan gegabah dalam memerintahkan tentaranya untuk berperang. Terlalu tinggi risiko dan harga yang harus mereka bayar kalau keputusannya salah.
Ada catatan penting bagi seorang “commander-in-chief” untuk mengambil jalan perang guna memenuhi kepentingan nasionalnya.
Pertama, apakah perang itu harus dilaksanakan atau masih ada opsi yang lain? Inilah yang sering disebut “war of necessity” dan “war of choice”. Pada akhirnya, kedua belah pihak akan menentukan berperang atau menempuh jalan lain.
Kedua, negara siap berperang kalau kalkulasi rasionalnya menjamin bahwa perang dapat dimenangkan. Baik Trump maupun Khamenei harus bisa meyakinkan dirinya sendiri, dengan menggunakan logika dan akal sehatnya, bahwa perang yang ia pilih memang akan bisa dimenangkan. Karena perang terkait dengan nasib dan masa depan rakyat yang dipimpinnya, yang memberikan mandat dan kepercayaan, suara mereka mesti didengar. Pertimbangan dan saran para jenderal dan petinggi militer juga mesti diindahkan, jangan terkubur dengan ego pemimpin yang kelewat tinggi.
Bagi Amerika yang boleh dikatakan terus sesumbar untuk menghancurkan Iran (meskipun belakangan Iran juga mengobarkan dan menjanjikan ancaman), perlu dipikirkan dalam-dalam sebelum mengambil keputusan untuk berperang. Maksud saya, jangan-jangan bagi Amerika menang perangnya sulit dicapai, kemudian “exit” atau mengakhiri peperangan juga tidak mudah dilakukan. Ingat kembali pengalaman pahit ketika melakukan peperangan di Vietnam, Irak dan Afghanistan. Ingat, Iran adalah Iran. Iran bukan Irak dan bukan Afghanistan.
Terakhir, ada pesan dari seorang warga Indonesia dan juga warga dunia melalui media ini. Bukan hanya untuk Presiden Trump dan Ayatullah Khamenei, tetapi juga untuk seluruh pemimpin politik di dunia yang di tangannya ada sebuah tombol untuk memulai peperangan.
Begini pesan saya.
Para perwira dan para prajurit itu juga punya jiwa, punya keyakinan, punya akal sehat, dan tentunya punya harapan. Kalau soal berkorban untuk nusa dan bangsa, tentara selalu siap mengorbankan jiwa dan raganya. Hal itu tidak perlu diragukan. Selama 30 tahun saya mengabdi di dunia militer, lima tahun saya pernah bertempur untuk Sang Merah Putih. Namun, sukses sebuah peperangan juga ditentukan oleh apa yang ada dalam hati dan pikiran para prajurit. Ada kalimat indah yang mesti diingat oleh para pemimpin politik – presiden atau perdana menteri – “Soldiers will not fight and die, unless they know what they fight and die for” (Prajurit tidak bertempur dan siap untuk mati, kecuali mereka tahu untuk apa mereka bertempur dan mati) *SBY*
Kita selalu gagal paham terhadap apa yg sedang berkembang.
Kegagalan ini bukan kebetulan. Melainkan dibangun oleh kesadaran penuh sebagai manusia kritis.
Satu hal yg seringkali mendasari, kapabilitas.
Maka, jangan lagi mencampuri ruang yg diluar kemampuan berfikir kita.
Berdiskusi dengan kelompok yg menyebut dirinya “akal sehat” adalah menarik, mulanya. Tapi klise, penutupnya akan berlindung pada keangkuhan personal. Larinya bukan diskusi, malah emot “😂” dan lain sebagainya.
Ahhh, Tuhan menunjukkan kualitas sebenar-benarnya “akal sehat”