Peganglah prinsip hidup yang kau punya. Bertahanlah sekuat-kuat yang kau bisa. Rawat dirimu sebaik-baik yang kau mampu. Tidak ada yang tahu rahasia masa depan. Kau bisa saja melihat dirimu berubah haluan, seperti telah banyak yang kau lihat orang-orang yang bersikap keras namun tunduk pada perut lapar yang tak bisa lagi ditahan. Tidak perlu terlalu meledak jika itu hanya ledakan yang meledek dirimu sendiri.
Kalo dirasa belum/susah bgt dapet kerja, dan ngerasa hidup ini berat. Coba minta maaf sama orangtua, minta ridhonya kali aja ga sadar pernah bikin sakit hati ortu. Dan bayar hutangmu kalo ga semua ya cicil, mana tau karna perbuatanmu yg akhirnya nutup rezeki km sendiri, coba baca doanya
Kalau ada orang tiba tiba nangis karena dengar lagu, bisa jadi itu hanya bentuk tafsir sedih yang sudah lama ia sembunyikan saja. Kalau ada yang tiba-tiba nangis karena nonton film atau baca buku, bisa jadi itu juga bentuk sedih yang sudah lama ia simpan dalam dirinya. Lagu, film, dan buku, menjembatani rasa sedih yang disimpan dalam diri untuk keluar dengan alasan yang mereka sediakan.
Menjadi dewasa dan harus menghadapi kehilangan. Diam dan telan rasa sakit sendirian. Kultur di negeri ini memang mewajibkan kita menyembunyikan rasa sedih, bukan?
Juni, jangan bawa lagi ingatan yang harusnya sudah tersimpan rapi di kepala, ya? Tolong beri hari-hari yang setidaknya sedikit lebih tenang. Sebab menyembuhkan luka, tidak bisa bila terlalu banyak yang berisik.
Hari ini saya belajar tentang “Kesementaraan”. Segala hal di bumi bersifat sementara, termasuk nyawa, tawa, juga duka. Kita tidak benar-benar sembuh, sebagaimana kita takkan selamanya sakit. Dan bersedih adalah fase yg sesekali digantikan bahagia. Kalau nanti sedih lagi, ya sudah
Saya pernah baca, duka mengubah kita menjadi satu dari dua hal. Entah kita jadi pendiam, atau jadi orang yang menyebalkan (tanpa kita sadari). Mungkin, akarnya adalah kebingungan perihal masa depan dan ketidakkuasaan untuk mengubah masa lalu. Sebuah fase pahit yang harus dilewati