ini aku bicara pendidikan yang ada di desaku ya yang ada di MALUKU UTARA. nah, adekku mau masuk SMA di jogja terus ada tes matdas dan pas dicoba dia ga bisa samsek..dia bahkan gatau bilangan genap, ganjil itu apa🙂 padahal itu dasar bgt..
Setelah nikah baru sadar kalo pernikahan itu kayak lotre Tadi ke mcd, aku lagi makan sendirian sementara anakku lagi di suapin papinya di playground. Di meja sebelahku ada 1 keluarga (2anak), mreka pesen paket 2 ayam 2 nasi.
Bapaknya sibuk makan seporsi sendiri meanwhile istrinya seporsi bagi bertiga & riweh suapin 2 anaknya. Slese makan bapaknya keluar buat mer*kok & anaknya main playground. Istrinya ? Makan sisa makanan anak anaknya
Aku pesenin istrinya 1 paket + aku beliin mcflurry sambil ngomong “dimakan ya kak, habisin sendiri gausah di bagi bagi”. Dari jauh aku liat dia makan sambil sesenggukan
sakittt bangett liatnyaa
cc:threadvalensiapriska
Peraih Nobel Ekonomi, Esther Duflo dalam disertasinya di MIT meneliti tentang SD Inpres di era Soeharto judulnya "Schooling and Labor Market Consequences of School Construction in Indonesia: Evidence from an Unusual Policy Experiment".
Kesimpulannya Setiap SD yang dibangun per 1.000 anak menghasilkan rata-rata peningkatan 0,12–0,19 tahun pendidikan, sekaligus peningkatan upah 1,5–2,7 persen. Ada return ekonomi atas pendidikan sebesar 6,8–10,6 persen. Intinya, pendidikan terbukti mensejahterakan rakyat sampai bisa meningkatkan upah.
Riset lengkapnya bisa dibaca di sini:
https://t.co/yEN57uIQsR
Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025: Perubahan Arah Demografi Indonesia
Indonesia pada pertengahan tahun 2025 berisi 284,67 juta manusia. Lebih padat, lebih dewasa, lebih urban, dan lebih dinamis dibanding sebelumnya.
Este estudio explora el contraste entre dos grupos de rasgos de personalidad: la Tríada Oscura (mala persona) y la Tríada Luminosa (buena persona). La Tríada Oscura incluye Maquiavelismo (manipulación), Narcisismo (egoísmo y grandiosidad) y Psicopatía (falta de empatía y frialdad). La Tríada Luminosa, su opuesto, incluye Humanismo (valorar a los demás), Kantianismo (ser honesto y tratar a la gente como fin, no como medio) y Fe en la Humanidad (confiar en que las personas son básicamente buenas).
Al analizar a más de 2.300 adultos australianos, los investigadores descubrieron que las personas se agrupan naturalmente en tres tipos bien diferenciados:
-El tipo Benevolente (21% de las personas): Alto en Tríada Luminosa y bajo en Tríada Oscura. Son las personas más amables, confiadas y prosociales. Ayudan a los demás y cometen poca agresión relacional.
-El tipo Malevolente (solo el 9%): Alto en Tríada Oscura y bajo en Tríada Luminosa. Tienden a manipular, agredir verbalmente, excluir a otros y disfrutar del sufrimiento ajeno.
-El tipo Equilibrado (70% de las personas): La gran mayoría. Tienen niveles moderados tanto de rasgos luminosos como oscuros. Ni son santos ni villanos.
Lo más interesante es que estos tres perfiles predicen cómo se comportan realmente en la vida diaria: los benevolentes ayudan más, los malevolentes dañan más las relaciones sociales, y tanto los muy buenos como los muy malos pueden terminar siendo víctimas de agresiones, aunque por razones diferentes.
Los benevolentes suelen ser víctimas porque son demasiado confiados, perdonan fácilmente y no se protegen lo suficiente, por lo que otros se aprovechan de su buena fe. En cambio, los malevolentes son víctimas porque provocan conflictos con su comportamiento agresivo y manipulador, y luego reciben represalias o se meten en ciclos de peleas constantes.
Menurut keyakinan saya, udah gak sesimpel itu. Udah terlalu banyak orang yg "bergantung" sama MBG. MBG stop, yg kerja di sppg pasti kedampak. Akhirnya, simalakama kan. Lanjut kena, stop kena. Emang dr awal MBG ini program wktosbafensbysia.
Solusinya padahal ada di depan mata: hentikan MBG.
Defisit APBN per Maret 2026 sudah Rp240,1 triliun, sedangkan MBG membutuhkan Rp255,5 triliun.
Padahal sesimple itu.
Sayangnya pemerintah kita koplak.