Artikelku mengenai moral komunis akhirnya terbit pada penutup tahun! Silakan dibaca.
https://t.co/g4KEpy9JEA
Terima kasih kepada @ChrisWibisana serta @pribumi_merah atas diskusi dan artikelnya!
Sebuah Nama Kuda karya Anton Tjekhov, diterjemahkan Pramoedya Ananta Toer, mengisahkan Jenderal Buldejev yang sakit gigi dan seisi rumah yang sibuk menebak nama dukun gigi ajaib—nama yang “seperti nama kuda”, tetapi baru teringat setelah giginya dicabut.
https://t.co/ASm7AvWJA2
Pergerakan Nasional 50 Tahun karya Mohammad Hatta membaca Budi Utomo sebagai awal kebangkitan terbatas: bukan partai, belum sepenuhnya Indonesia, tetapi menanam benih kesadaran yang kelak bergerak menuju NIP, Sarekat Islam, Parindra, dan kemerdekaan.
https://t.co/EKPWepf9c5
Peraturan Dasar Gerwani memuat konstitusi Gerwani setelah Kongres IV 1961: dari pertumbuhan hingga satu juta anggota, perjuangan hak wanita dan anak, kritik atas upah rendah, kawin paksa, wanita tani, lintah darat, sampai cita-cita emansipasi Revolusi 45.
https://t.co/gfBiHRbLfk
Persépolis es la obra más conocida de Marjan Satrapi, pero en Pollo con Ciruelas ella predijo su propia muerte.
Un músico muere de tristeza, en su agonía de ocho días, recuerda su vida y se da cuenta que el instrumento destruido, que daba sentido a su vida, no es lo único roto.
I will never accomplish what she did. None of her tales will I hear from Ompung. None of my songs will Ompung hear.
Satrapi is dead, of heartbreak. Died of loving.
I love my grandmother. My grandmother is dead, and so too, her stories.
I saw my grandmother’s face two days ago, alive in someone else’s skin. Speaking not to me, she is no longer mine.
Satrapi died yesterday. Her comics tell tales — tragic and not — of her family, but mostly her grandmother. About awful people who bring you down out of stupidity.
Unsur Senibudaja dlm. Revolusi ’45 karya Amak Sjariffudin membaca seni-budaya sebagai bagian dari Revolusi 1945: dari Angkatan 45, organisasi kebudayaan partai, kritik terhadap “seni untuk seni”, pelarangan Manikebu & seruan membela kebudayaan nasional.
https://t.co/xN5ic4fmfV
“Three decades more”, written in 2023 for The Complete Persepolis: 20th Anniversary Edition, Marjane Satrapi and Mattias Ripa died in the following decade. 2025 and 2026, respectively. May their soul find peace in their hour of death.
@karaokecomputer >one gangly swedish white guy
they were married for almost 30 years. do you feel better about yourself after dunking on a deceased woman?
Ya, propaganda Orba membayangkan Gerwani dan sayap kiri sebagai “iblis” amoral yang harus dihancurkan.
Sayangnya, memoar salah satu mahasiswa kiri FKUI menulis homoseksualitas di Penjara Salemba sebagai “penyakit”. Orang kiri Indonesia pun mungkin tak luput dari bias zamannya.
anw isu LGBT ini sebenernya pernah dilakuin sama Soeharto pasca G 30 S/PKI. Anggota Gerwani dituduh Lesbi (fitnah seksual) sama pemerintah Orde Baru dan hal ini menjadi dasar Orde Baru untuk merekonstruksi peran perempuan hanya di ranah domestik aja dan masyarakat.
Ofensif Kesusasteraan 1953 karya Pramoedya Ananta Toer adalah serangan balik terhadap H.B. Jassin: dari tuduhan “kelesuan” sastra, hidup pengarang di luar karya, kontradiksi kritik, hingga perebutan kuasa tentang siapa yg berhak menilai sastra Indonesia.
https://t.co/Z2KrtB03KS
Materi Aliran-Aliran Kebathinan di Indonesia karya Djumali Kertorahardjo membaca kebathinan sebagai medan pengawasan negara: ramalan Sabdopalon, “agama budi”, kebathinan sejati--gadungan & usaha Orde Baru menertibkan gerakan spiritual di bawah Pancasila.
https://t.co/z9EQpMi5dl
Ilmu Pengetahuan untuk Rakjat, Tanahair & Kemanusiaan karya Siswojo adalah pidato pendirian Universitas-Rakjat yg menolak “ilmu untuk ilmu” & menempatkan pengetahuan sebagai alat perjuangan bagi rakyat, tanah air, kemanusiaan & janji revolusi kemerdekaan.
https://t.co/kimwyRQcVk