kamu harus patah berapa kali lagi buat dipertemukan sama seseorang yang bukan cuma “baik” tapi juga stabil secara emosinya. karena kebaikan bisa berubah kalau lagi capek, tapi emosi yang stabil bikin dia tetap waras saat keadaan lagi gak baik-baik aja.
relationship is not just about "love and sweet moments," tapi soal gimana dia handle marahnya, kecewanya, egonya.
good person is nice, but emotionally mature person is necessary.
Ngelihat orang-orang up screenshot chat yang begged dan malah dicuekin tuh lowkey triggers me … like, gosh I know damn well how it feels.
Semoga kita nggak merasakan itu (lagi), ya. We deserve love that feels gentle, soft, dan mampu memberi ruang aman untuk diri kita.—
inilah kenapa “every person is a lesson” karena antara kita yang belajar ke dia atau dia yang belajar ke kita, kalau gak kaya gitu bakal stuck disatu tempat aja jadi ga berkembang, makanya kenapa ada yang bilang hidup tuh ga lurus-lurus aja pasti kita akan singgah ke suatu tempat
terlalu ngeremehin rasa sakit orang lain, nyatanya di lapangan banyak banget kasus orang sampai desprade dan depresi klinis karena diselingkuhi atau patah hati. luka asmara itu nyata, bisa mengubah sifat, dan bikin trauma mendalam, jadi sama sekali bukan hal remeh.
agree. punya pasangan yang bisa ngobrol sama kita berjam-jam, talking about anything. laughing until our stomach hurt. even still comfortable enjoying each other's silence is a privilege. tolak ukur paten jg buat jadi pasangan. ngga butuh fancy date melulu, quality time it is.
Mama aku juga bilang Papa aku tipe orang kayak gini, Mamaku seneng banget kalau ngobrol sama Papaku karena he's socially and academically smart also humble. Mamaku gatau sesuatu atau nanya sesuatu, Papaku selalu tau jawabannya & cara menjawabnya ga bikin Mamaku ngerasa bodoh
padahal finding someone can talk to you for hours without getting bored after a long day ITU HAL YANG TIDAK SEMUA ORANG BISA DAPATKAN. callan berjam jam cerita hal hal aneh, sharing random thoughts, dan ketawa bareng THAT'S SOOO FUN😔😔😔 i love spending time with my partner
Apalagi saat nemu seseorang yg membuat bbrp jam terasa spt beberapa menit.
Percakapan yg tidak menguras energi, tdk terasa spt usaha. Kita hanya berbicara, lalu sadar waktu terlewat jauh lebih cepat dari yg diinginkan.
Di momen itu, rasanya ingin mencuri sedikit waktu tambahan.
Setuju, kak! Secara psikologis, orang yang milih ghosting daripada kasih closure biasanya punya avoidant attachment style atau conflict avoidance. Mereka gak siap secara emosional buat ngadepin konfrontasi/rasa bersalah, jadi milih kabur. Padahal dampaknya jahat bgt. 🧠💔
Lain kali kalau masih bingung dan belum selesai sama diri sendiri, jangan bawa orang lain terlalu jauh ya. Karena bisa jadi, untuk mereka itu adalah harapan terakhirnya.
Gue pernah coba jadi orang yang selalu available buat semua orang.
Chat dibales cepet. Dimintain tolong langsung bantu. Dicari pas lagi sedih, selalu nyempetin hadir.
Tapi suatu hari gue capek banget.
Gue milih diem dulu sebentar. Cuma pengen lihat, siapa yang bakal nyari gue.
Semakin tinggi kecerdasan seseorang, semakin menusuk kata2 nya. Psikologi menyebut ini sbgai low tolerance for cognitive distortion.
Artinya org dgn kecerdasan tinggi sulit mentoleransi kebohongan, alasan palsu, dan logika yg lemah.
Otak merek terbiasa berpikir efisien dan langsung, mereka memotong drama dan langsung ke inti masalah, Itulah knp kata2nya terasa pedas.
Jadi apakah kamu termasuk orang cerdas itu? biasanya yaelah ini gue banget.