Perempuan melawan, perempuan menolak Revisi UU TNI! Kami perempuan, dan kami menolak keras! #TolakRUUTNI#TolakRevisiUUTNI
sc: Aliansi Perempuan Indonesia
Bang @AndovidaLopez baru pertama kali ikut Kamisan udah speak up dan ngajak kita untuk #TolakRUUTNI atau yg sekarang sudah menjadi UU karena sudah disahkan ✊🏼✊🏼✊🏼
📢 Join Statement: 234 International Organizations Say #TolakRUUTNI! 📢
🇮🇩#Indonesia: Rejection of the Problematic and Rushed Amendments to Law No. 34/2004 on the Indonesian National Armed Forces (TNI Law)
The government & parliament are pushing for a revision of the TNI Law that expands the military’s role in government, law enforcement, and even cyber operations. This threatens civilian supremacy, opens the door to power abuse, and weakens democracy.
Worse, this revision is being discussed behind closed doors without public participation. Activists opposing it are facing intimidation. The military reform fought for since 1998 is now at risk of being reversed!
(1/2)
#TolakRUUTNI
Kejahatan kemanusiaan dari Negara lewat militer terhadap rakyat belum diusut tuntas.
@DPR_RI yg dimandatkan menjadi wakil rakyat bukannya melindungi malah kembali terlibat dalam potensi kekerasan TNI di masa depan sebab perluasan kewenangan TNI.
Jangan Diam! #TolakRUUTNI
Gibran, Nepotisme, dan Presiden yang Bodoh
Bayangkan, Indonesia pada 14 November 2029 di mana Gibran Rakabuming Raka berusia 42 tahun, yang baru saja dilantik sebagai Presiden ke-9 Republik Indonesia setelah memenangkan Pilpres 2029. Kemenangannya tidaklah mengejutkan bagi kita semua, karena putra sulung Jokowi ini telah dipersiapkan sejak lama melalui mesin politik keluarga dan manipulasi institusi. Namun, di balik sorotan lampu Istana, ada sosok yang jauh dari ideal, yaitu seorang pemimpin yang tidak suka membaca, menghindari kampus seperti wabah, dan berdasarkan rumor yang tak terbantahkan, Gibran punya rekam akademik yang memalukan dengan IPK rendah. Tulisan ini bukan sekadar kritik personal, melainkan sebuah peringatan tentang masa depan bangsa yang dipimpin oleh Presiden tanpa intelek. Pertanyaannya, “Mau jadi apa Indonesia di tangan Gibran?”.
Kenaikan Gibran merupakan puncak dari skema politik yang dimulai jauh sebelum ia dilantik sebagai wakil presiden pada 20 Oktober 2024, di mana pada 16 Oktober 2023, Mahkamah Konstitusi (MK) di bawah Anwar Usman sebagai pamannya Gibran dan ipar Jokowi mengeluarkan Putusan No. 90/PUU-XXI/2023. Aturan usia minimum calon Presiden/Wakil Presiden diubah, memungkinkan Gibran, yang saat itu masih berusia 36 tahun dan sebagai Wali Kota Solo untuk maju di Pilpres 2024 bersama Prabowo Subianto.
Majelis Kehormatan MK menyatakan bahwa Anwar melanggar etika berat, mencopotnya dari jabatan Ketua MK pada 7 November 2023, tapi keputusannya tetap berlaku, sebuah ironi tentang bukti nyata manipulasi hukum demi dinasti politik.
Distribusi bansos melonjak tajam (Rp 154,45 triliun pada 2024 menurut Kementerian Keuangan), tepat sebelum pemungutan suara pada 14 Februari 2024. Jokowi, meski bukan kandidat, aktif mendampingi kegiatan bansos, memicu tuduhan bahwa hal ini merupakan strategi untuk membeli suara demi Prabowo-Gibran, yang akhirnya menang dengan perolehan suara sebanyak 58,59%.
Ngakak! Pembawa berita ini sentil pemerintah tentang korupsi :"Korupsi dari kita, oleh kita dan untuk mereka. Koruptor susah dikasih tau apalagi dikasih tempe"
Ini pembawa berita layak dinaikin gajinya min @Metro_TV 🤣🤣
Jangan diculik lho wo @prabowo 🥹
BANTU RT, LIKE DAN NAIKAN POST INI KE AKUN KALIAN
Mengajak semua orang untuk mengawal ini, untuk kita, masa depan, anak dan cucu kita masa yang akan datang.
Mau kah kita sama2 berjuang lagi? Letsgo
Kita kawal #TolakRUUTNI
🚨 PANGGILAN DARURAT! 🚨
📢 RUU TNI Diam-Diam Mau Disahkan!
📣 Desak DPR SEKARANG!
🔹 Banjiri media sosial mereka.
🔹 Serukan #TolakRUUTNI di semua platform.
🔹 Pantau dan ikuti aksi protes!
Trading Halt dan Potensi Lengsernya Prabowo
18 Maret 2025 menjadi hari yang mungkin akan dicatat sebagai sejarah bagi banyak orang di Indonesia, khususnya pelaku saham. Pada pukul 11:19 WIB, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk lebih dari 5%, turun 325,03 poin ke angka 6.146,91. Atas anjloknya harga saham, BEI harus menghentikan perdagangan sementara (trading halt), sesuatu yang terakhir kali terjadi saat pandemi COVID-19 melanda di Maret 2020.
Bayangkan, pasar saham yang biasanya ramai tiba-tiba “diam” karena semua panik. Namun, fenomena ini bukan hanya tentang saham atau uang di dompet para investor. Fenomena yang terjadi hari ini, berkaitan dengan cerita tentang hidup kita sehari-hari. Misalnya, harga beras yang naik, pekerjaan yang goyah, sampai harapan yang mulai pudar. Nah yang menjadi pertanyaan, “Apa yang sebenarnya terjadi di pasar saham?”.
Kalian bisa membayangkan kalau IHSG diibaratkan seperti termometer yang mengukur kesehatan ekonomi kita, dari akhir 2024 di angka 7.163, sekarang menjadi 6.146, turun lebih dari 11% dalam tiga bulan. Investor asing kabur membawa Rp 24 triliun, termasuk Rp 3,47 triliun sehari setelah Danantara diresmikan tanggal 24 Februari 2025. Trading halt diibaratkan sebagai tombol darurat yang ditekan oleh BEI, karena semua orang buru-buru menjual saham mereka.
Apa sih yang menyebabkan BEI menekan tombol darurat? Di dalam negeri, menurut saya terdapat tiga “biang kerok”: (1) Danantara, (2) pemotongan APBN, dan (3) RUU TNI. Sedangkan di luar negeri, tarif baru dari United State, perang Rusia-Ukraina, serta ekonomi US yang sedang sakit, membuat suasana tambah runyam. In my humble opinion, fenomena yang terjadi ini bukan hanya tentang angka, tetapi tentang kepercayaan yang ambruk.
-Sebuah Esai-