Toto isn't even the most extreme example: Ajinomoto makes MSG. Their amino acid research produced the insulating substrate in virtually every high-end GPU. 95% global monopoly. In 2021 the chip shortage bottleneck wasn't silicon, it was Ajinomoto's film. Japan holds majority share in 14 critical semiconductor materials. The sintering process that creates a non-porous toilet is the same one that creates a contamination-free wafer chuck. The most critical layer of AI infrastructure is controlled by companies that make toilets, MSG, and window glass.
Two Japanese high school students share a sweet hug on a scenic coastal path near the Enoden line. This picturesque train line connects Fujisawa and Kamakura. 🥰
Debugging itu ga bisa di-estimate
Debugging itu bisa di-time box Dikasih limit berapa lama kita mau investigasi. Tapi ga bisa di-estimate
Mau ada AI apa ngga, ga ngaruh bosku
Ya namanya ga tau issuenya kenapa, ya dicari tau bosku
Beres kapan, ya ga tau bosku
Kalo bisa estimasi artinya dah tau, artinya kita sendiri yang nyembunyiin bugnya bosku
Ibaratnya kartu ATM kita ilang. Ya ga tau kapan ketemunya
Taunya "kalau ga ketemu 2 jam lagi, yowis telpon ke bank, blokir kartunya, terus bikin lagi kartu baru besok"
Timebox
Not estimate
Dari podcast Dedy dan Aiman yang bahas AI kemarin, gua jadi tahu betapa “kocaknya” masyarakat Indonesia dalam menanggapi AI. Kalian baca komennya deh di video itu, itu adalah gambaran masyarakat kita sekarang. Sedih sebenernya bacanya.
Ada yang bahas ini adalah rencana Elit Global, bahkan Dedy sendiri kasih teori kalau manusia akan punah nantinya. Bahkan sampai bahas fitnah Dajjal, untuk yang ini kita “stop” sampai disini karena gamau bahas agama.
Dari situ gua berfikir, kenapa ya orang Indonesia ini suka banget narasi level rendah?
“AI bakal menghancurkan manusia”
“AI mengawasi hidup kita sehari-hari”
Ternyata menurut UNESCO, minat baca orang Indonesia itu rendah, salah satu paling rendah sedunia, satu dari seribu orang yang gemar membaca. Makanya literasi kita rendah, lebih suka teori konspirasi daripada memaksa otak berfikir untuk mencari reasoning dari suatu masalah/teknologi.
Bahkan Dedy kasih contoh kalau GPT awasin kita dengan tanya pakai “constraint filter” “Yes” or “No”. Padahal dengan follower sebesar itu, tidak mungkin GPT gak punya data tentang dia. Saya saja nih yang followersnya mungkin 10%-nya doi, lengkap data saya di GPT kalau dicari tau. Dengan constraint sesempit itu akhirnya juga memaksa LLM Model buat jawab seadanya tanpa bisa jelaskan alasannya.
Daripada berfikir seperti itu, kenapa kita gak mempelajari apa itu AI secara basic. Tokens (Input), Embeddings (Meaning), and Transformer/Attention (Context). Apa model yang dipakai GPT sampai bisa jawab seperti itu? Apa perbedaan model yang dipakai tiap-tiap LLM? Apa itu Training process? apa itu Temperature buat atur “creativity”? Bagaimana proses Training suatu LLM? Kenapa model satu dengan yang lain jawabannya bisa berbeda-beda? Apa itu parameter? Apa itu Mixture of Expert?
Kemudian tanya ke diri sendiri, apa yang seharusnya gua lakukan dengan perkembangan AI ini? Habit apa yang harus gua rubah? Bukan konek-konekin ke ELIT GLOBAL. Yang ada negara lain tambah maju, kita tambah b*go. Kebanyakan overthinking tapi gamau action untuk belajar perkembangannya.
AI gak salah apa-apa dikaitin sama Iblis. Bukannya belajar malah Mistis.
Semua tempat itu kodrat alaminya bebas asap rokok
Sama kyk smua tmpat selain toilet kodratnya ga boleh diberakin
Klo gada tulisan smoking area ya jgn ngerokok lah. Bukan jadi dibalik, klo gaada tulisan dilarang berarti boleh.
Kalo pola pikirnya begitu, dunia isinya berak semua
data kita, saat ini ada di level keamanan tinggi. mungkin bisa dibilang keamanan tertinggi dalam sejarah pusat data indonesia.
data-data vital yg biasanya disimpan dalam plain text, sekarang dienkripsi AES256.
hanya ada masalah kecil.
decryptor keynya kita nda pegang :|